BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Surah al-Hasyr
merupakan salah satu surah yang disepakati turun setelah Nabi saw. Berhijrah ke
Madinah. Namanya, “surah al-Hasyr”, dikenal sejak masa Nabi saw., bahkan
at-Tirmidji meriwayatkan satu hadis melalui Ma’qil Ibn Yasar yang menunjukkan
bahwa nabi menunjuk surah ini dengan nama surah al-Hasyr. Nama tersebut
terambil dari kata al-hasyr yang disebut pada ayat kedua yang menguraikan
peristiwa pengumpulan dan pengusiran salah satu dari tiga komunitas besar
Yahudi di Madinah, yakni Bani an-Nadhir, pada tahun keempat hijriyah. Karea itu
pula surah ini dikenal juga dengan nama surah Bani an-Nadhir.
Demikian
pandangan banyak ulama.Al-Biqai berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah
penjelasan tentang apa yang diuraikan pada akhir surah yakni surah al-Mujadilah
tentang uasa Allah swt. Yang tampak dalam kenyataan, yakni meraih kemenangan
buat Allah dan para Rasul-Nya serta merendahkan derajat musuh-musuh-Nya, karena
DiaMahakuat lagi Mahaperkasa (buka QS. Al-Mujadilah :21).
Apa
yang dikemukakan al-Biqai tentang pembuktian adanya hasyr di hari Kemudian
melalui hasyr yang terjadi terhadap orang-orang Yahudi itu sejalan dengan
pengamatan Thabathabai yang menyatakan bahwa, melalui tujuh ayat terakhir surah
ini, Allah swt. Memerintahkan hamba-hambaNya untuk bersiap-siap menemuiNya
dengan jalan melakukan pengawasan diri dan intropeksi/muhasabah serta mengingat
keagunganNya yang digambarkan oleh al-Asma al-Husna yang disebut pada ayat-ayat
terakhir surah ini. [1]
B. RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah
ini kami akan membahas tentang:
1.
Apa saja makna yang
terkandung dalam QS. Al-Hasr: 22
2.
Apa saja makna yang
terkandung dalam QS. Al-Hasr: 23
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan
dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam
QS. Al-Hasr: 22 – 23
BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR
SURAH Al-HASYR : 22 – 23
A. Al-Hasyr
: 22
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) wÎ) uqèd ( ÞOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur ( uqèd ß`»oH÷q§9$# ÞOÏm§9$# ÇËËÈ
“Dialah
Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:22)
Ayat ini
merupakan penutup uraian surah. Sebelum ini telah berulang-ulang disebut nama
Allah atau pengganti nama-Nya serta sifat-sifat-Nya. Kesemuanya menunjuk
keagungan Allah swt. Di sisi lain, ayat yang lalu menguraikan tentang keagungan
Al-Qur’an, maka sangat wajar jika ayat ini berbicara tentang sifat-sifat Allah
yang menurunkan kitab suci itu, sekaligus menunjuk kepada Allah yang disebut
berulang-ulang pada ayat-ayat yang lalu.
Ayat ini
menunjuk-Nya dengan kata “Dia” yakni Dia yang menurunkan al-Qur’an dan yang
disebut-sebut pada ayat-ayat yang lalu Dia, Allah Yang tiada Tuhan yang
berhak disembah, serta tiada Pencipta dan Pengendali alam raya selain Dia,
Dia Maha Mengetahui yang gaib baik yang nisbyy (relatif) maupun yang mutlak
dan yang nyata, Dia-lah saja ar-Rahman
Pencurah rahmat yang bersifat sementara untuk seluruh makhluk dalam pentas
kehidupan dunia ini lagi ar-Rahim Pencurah rahmat yang abadi bagi
orang-orang beriman di akhirat nanti.
Al-Biqa’i
berkomentar tentang kata (هو) huwa pada ayat di atas, bahwa Dia
yang wujud-Nya dari Dzat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh
oleh ‘adam (ketiadaan) dalam bentuk apapun, dan dengan demikian tidak
ada wujud yang pantas disifati dengan kata tersebut selain-Nya, karena Dialah
yang selalu wujud sejak dahulu hingga kemudian yang tak terhingga. Dialah yang
hadir pada setiap benak, dan yang gaib (tidak terjangkau) keangungan-Nya oleh
semua indra.
Kata (هو)
huwa yang mendahului kata ar-Rahman ar-Rahim berfungsi
mengkhususkan kedua sifat itu dalam pengertiannya yang sempurna hanya untuk
Allah swt.
Kata (الله)
Allah sepintas tidak diperlukan lagi karena kata (هو) huwa telah
menunjuk kepada-Nya. Tetapi ini agakya untuk menggambarkan semua
sifat-sifat-Nya, sebelum menyebut sifat-sifat tertentu, karena kata Allah
menunjuk kepada Dzat yang wajib wujud-Nya itu dengan semua sifat-Nya, baik
sifat Dzat maupun sifat fi’l. Apabila anda berkata “Allah” maka apanyang anda
ucapkan itu telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedang bila anda
mengucapkan nama-Nya yang lain – misalnya ar-Rahim atau al-Malik maka ia hanya
menggambarkan sifat Rahmat, tau sifat kepemilikan-Nya.
Penyebutan
sifat ar-Rahman dan ar-Rahim setelah menegaskan pengetahuan-Nya
yang menyeluruh mengisyaratkan bahwa Dia Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya
sehingga semua diberikan rahmat sesuai kebutuhan dan kewajarannya menerima.[2]
Dialah Allah
SWT yang berhak disembah dan diTuhankan, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia-lah
yang mengetahui segala sesuatu yang nampak dan yang tidak tampak, yang nyata
dan yang abstrak, yang jelas dan yang samar. Dia-lah Allah, Yang Maha Mengasihi
setiap orang, Yang Maha Menyayangi orang yang taat kepada-Nya.
Kasih Allah
SWT meliputi seluruh makhluk, sampai-sampai kepada orang yang berbuat maksiat.
Namun khusus bagi orang yang senantiasa mencari Ridho-Nya, Allah SWT menambah
sayangNya baginya.[3]
B. Al-Hasyr
: 23
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) wÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨rà)ø9$# ãN»n=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$# ÚÆÏJøygßJø9$# âÍyèø9$# â$¬6yfø9$# çÉi9x6tGßJø9$# 4 z`»ysö6ß «!$# $£Jtã cqà2Îô³ç ÇËÌÈ
“Dialah
Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera,
yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha
Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.”(Al-Hasyr:23)
Dialah Allah
SWT yang disembah dengan kebenaran kalimat tauhid ‘la illaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah). Selain Allah tidak boleh disembah dan tidak boleh pula dipertuhankan.
Dialah
Allah SWT yang memiliki dan mengatur semua yang ada di alam semesta ini.
Dia-lah Yang mengatur urusan penciptaan, yang bebas dan selamat dari segala aib
dan kekurangan. Pada Zat-Nya terhimpun sifat-sifat kesempurnaan dan pujian.
Dialah
Allah SWT yang membenarkan para nabi yang yang Dia utus dengan
mukjizatnya-mukjizatnya dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Dia mengalahkan
selainNya, menimpa bencana kepada orang yang melawan-Nya, dan mengawasi segala
sesuatu yang ditampakkan oleh hamba atau yang disamarkan. Dia-lah Yang
Mahaperkasa, Yang tidak bisa dikalahkan dan dilemahkan oleh siapapun.
Dialah Allah
SWT yang Mahakuasa, yang kehendakNya mengalahkan kehendak siapapun dan
kekuasaanNya meliputi seluruh ciptaanNya, Yang memilikisegala keagungan . Dia
memiliki sifat2 keagungan pada nama-nama-Nya yang bersih dari aib dan
kekurangan.[4]
Ayat di
atas menyebut beberapa sifat-Nya yang dapat menggugah yang taat mengingat-Nya
untuk lebih mendekatkan kepada-Nya dan mengingatkan yang durhaka dan lupa
kepada-Nya untuk berhati-hati. Ayat ini kembali mengulangi penggalan awal ayat
yang lalu dengan menyatakan bahwa : Dia allah Yang tiada Tuhan selain Dia,
Dia adalah al-Malik Maha Pemilik segala sesuatu dengan sebenarnya lagi
Maha Raja, al-Quddus Maha Suci dari segala kekurangan dan segala yang
tidak pantas, as-Salam Maha Damai dan sejahtera, al-Mu’min Maha
Mengaruniakan keamanan, al-Muhaimin Maha Memelihara dan Maha Mengawasi, al-‘Aziz
Maha Agung, al-Jabbar Maha Perkasa, al-Mutakabbir Maha Tinggi, Maha
Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Kata ( الملك)
al-Malik terdiri dari huruf-huruf (مـ) mim, (لـ) lam, dan (ك)
kaf yang rangkaiannya mengandung
makna kekuatan dan kesahihan. Ia pada mulanya berarti ikatan dan
penguatan. Kata ini terulang dalam al-Qur’an sebanyak lima kali.
Al-Malik
mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu disebabkan oleh kekuatan
pengendalian dan keshahihannya. Malik yang biasa diterjemahkan dengan Raja
adalah yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, anugerah dan
pencabutan dan karena itu biasanya kerajaan terarah kepada manusia dan
tidak kepada barang yang sifatnya tidak dapat menerima perintah dan larangan.
Menurut
Imam al-Ghazali, al-Malik yang merupakan salah satu nama Allah Ynag
Mulia adalah Dia “Yang Dzat dan sifat-Nya tidak membutuhkan segala yang wujud,
bahkan segala yang wujud butuh kepada-Nya dalam segala sesuatu dan menyangkut
segala sesuatu. Segala sesuatu selain-Nya menjadi milik-Nya.
Kata (القدّوس)
al-Quddus atau ada juga yang membacanya al-Qaddus adalah kata
yang mengandung makna kesucian. Dalam penjelasan beberapa kamus bahasa
Arab antara lain karya al-Fairuzabadi ditemukan bahwa Quddus adalah ath-Thahr
auw al-Mubarak/ Yang suci murni atau penuh keberkatan. Agaknya atas dasar
inilah apa ulama yang mengartikan kata tersebut sebagai Yang menghimpun
semua makna-makna yang baik atau Yang terpuji dengan segala macam
kebajikan.
Menurut
imam Ghazali, Allah al-Quddus adalah Dia Yang Maha Suci dari segala
sifat yang dapat dijangkau oleh indra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga oleh
waham, atau yang terlintas dalam nurani dan pikiran.
Al-Biqa’i
memahami ke-Quddus-an adalah “kesucian yang tidak menerima perubahan,
tidak disentuh oleh kekotoran, dan terus menenrus terpuji dengan langgengnya
sifat itu.”
Ada juga
yang memahami sifat Allah sebagai Quddus dalam arti bahwa Dia meng-Quddus-kan
hamba-Nya dalam arti mensucikan hati manusia-manusia pilihan-Nya, para nabi dan
aulia-Nya. Sementara pakar menyatakan bahwa ke-Quddus-an mengandung
beberapa aspek yaitu kebenaran, keindahan, dan kebaikan, sehingga Allah Yang
Quddus itu adalah Dia Yang Maha Indah, Maha Baik, dan Maha Benar dalam Dzat,
sifat dan perbuatan-Nya, keindahan, kebenaran, dan kebaikan yang tidak dinodai
oleh sesuatu apapun. Dari sisni kemudian datang perintah mensucikan Allah dari
segala sifat kekurangan.
Sifat
al-Quddus pada ayat ini disebut setelah kata al-Malik/Maha Raja. Ini
karena raja yang dikenal dalam kehidupan duniawi tidak luput dari kesalahan,
maka di sini kata al-Quddus menyusul kata malik untuk menunjukkan kesempurnaan
kerajaan-Nya sekaligus menapikkan adanya kesalahan, perusakan, atau kekejaman
dari-Nya.
Kata (السلام)
as-salam terambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar
pada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Allah adalah as-Salam
karena Yang Maha Esa itu terhindar dari segala aib, kekurangan dan kepunahan
yang dialami oleh makhluk. Demikian tulis Ahmad Ibn Faris dalam bukunyanya Maqayis
al-Lughah.
Ibn
al-‘Arabi menyatakan bahwa semua ulama sepakat bahwa nama as-Salam yang
dinisbahkan kepada Allah berarti Dzu as-Salamah yakni Pemilik
as-Salamah, hanya saja mereka berbeda dalam memahami istilah ini. Ada yang memahaminya
dalam arti Allah terhindar dari segala aib dan kekurangan, ada juga yang
berpendapat bahwa Allah yang menghidarkan semua makhluk dari penganiayaan-Nya,
dan yang lain berpendapat bahwa as-Salam yang dinisbahkan kepada Allah
itu berarti “Yang memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak”.
Kata (المؤمن)
al-Mu’min terambil dari akar kata (أمن) amina, yang melahirkan sekian
banyak bentuk antara lain (إيما ن) iman, ( (أما نةamanah, dan (أما ن) aman. Amanah
adalah lawan dari khianat yang melahirkan ketenangan batin serta rasa aman
karena adanya pembenaran dan kepercayaan terhadap sesuatu, sedang iman adalah
pembenaran hati dan kepercayaan terhadap sesuatu.
Az-Zajjaj,
pakar bahasa Arab, menulis dalam bukunya Tafsir Asma’ al-Husna beberapa
pendapat tentang makna Mu’min sebagai sifat Allah. “Allah menamai
dirinya Mu’min karena Dia menyaksikan sendiri keesaan-Nya sesuai
firman-Nya: “Allah menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah” (QS.Al-Imran:18).
Ada juga yang berpendapat bahwa kata ini jika menyifati Allah maka berarti Dia
yang memberi rasa aman dari siksa-Nya siapa pun yang tidak wajar menerima
siksa.
Pendapat
lain tentang makna Mu’min yang menjadi sifat Allah itu dikemukakan oleh
Asy-Syanqithi. Menurutnya, al-Mu’min dapat dipahami sebagai bermakna
pembenaran Allah akan keimanan hamba-hamba-Nya yang beriman dan ini mengantar
kepada diterimanya iman mereka serta tercurahnya ganjaran kepada mereka. Atau
dapat pula dipahami sebagai pembenaran terhadap apa yang dijanjikan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya.
Menurut
Imam al-Ghazali, Mu’min adalah yang kepadanya dikembalikan rasa aman dan
keamanan melalui anugerah tentang sebab-sebab perolehan rasa aman dan keamanan
itu serta dengan menutup segala jalan yang menimbulkan rasa takut. Tidak dapat
digambarkan adanya rasa aman kecuali dalam situasi ketakutan, dan tidak pula
ketakutan kecuali saat adanya kemungkinan kepunahan, kekurangan atau
kebinasaan. Allah sebagai al-Mu’min adalah Dia yang tidak tergambar
dalam benak siapa pun adanya rasa aman dan keamanan kecuali yang bersumber
dari-Nya.
Kata (المهيمن)
al-Muhaimin ditemukan dua kali dalam al-Qur’an sekali menujuk kepada
sifat Allah pada ayat yang ditafsirkan ini dan kali kedua menunjuk kepada sifat
al-Qur’an yakni pada QS. Al-Maidah: 48.
Ada yang
berpendapat bahwa kata ini sama dengan kata al-Mu’min, karena menurut
asal kata al-Muhaimin adalah al-mu’amin. Jika pendapat ini
diterima maka maknanya sama dengan al-mu’min yang telah dikemukakan di
atas.
Pendapat
yang lebih kuat adalah yang mengartikan al-muhaimin sebagai yang
menjadi saksi terhadap sesuatu serta memelihara. Imam Ghazali berpendapat
bahwa kata al-Muhaimin yang menjadi salah satu Asma’ al-Husna itu
bermakna Allah yang menangani serta mengawasi urusan makhluk-Nya dari sisi amal
perbuatan mereka, rezeki dan ajal mereka. Penanganan ini adalah dengan
pengetahuan, penguasaan dan pemeliharaan-Nya, karena semua yang mengawasi hakikat
sesuatu, bertanggung jawab dan memeliharanya, adalah Muhaimin.
Pengawasan merujuk kepada pengetahuan, penguasaan kepada qudrat dan
pemeliharaan kepada akal, karena itu siapa yang memiliki ketiga unsur diatas,
maka dia adalah Muhaimin, dan tentu saja tidak ada yang dapat menghimpun
ketiganya secara sempurna kecuali Allah swt.
Penempatan
kata al-Muhaimin sesudah al-Mu’min menurut Thahir Ibn ‘Asyur,
adalah untuk menampik kesan yang boleh jadi muncul bahwa rasa aman yang
diberikan-Nya adalah karena dia lemah atau takut kepada yang lain. Dengan
adanya kata al-Muhaimin maka diketahui bahwa rasa aman yang
diberikan-Nya itu adalah karena adanya hikmah, sedang Dia sendiri Maha
Mengawasi, karena itu rasa aman yang diberikan-Nya adalah bukti dari
rahmat-Nya.
Al-Biqa’i
memberikan penjelasan tentang makna kata Muhaimin, serta penempatannya
sesudah as-Salim dan al-Mu’min antara lain bahwa untuk
terpenuhinya rasa damai dan aman yang terkandung oleh kata as-Salam dan al-Mu’min, tentu bersifat
tersembunyi, karena itu kedua kata tersebut disusul dengan kata Muhaimin
karena sifat ini bermakna kesaksian yang dilandasi oleh pengetahuan menyeluruh
tentang detail serta pandangan yang mencakup keseluruhan dari yang lahir maupun
batin, sehingga tidak satu pun yang tersembunyi, tersembunyi bagi-Nya, apalagi
yang lahir dalam kenyataan.
Kata (العزيز)
al-Aziz terambil dari akar kata yang terdiri dari dua huruf, yaitu (عـ)
‘ain dan (ز) zai. Maknanya berkisar pada kekukuhan dan kemantapan.
Dari sini kemudian lahir makna-makna baru sesuai dengan konteks serta bentuk
mudhari’nya. Jika bentuknya (يغُزّ) ya’uzzu maka ini berarti
mengalahkan; jika (يعِزّ) ya'izzu maka maknanya sangat
jarang, atau sedikit bahkan tidak ada samanya, dan jika (يعَزّ)
ya’azzu maka ia berarti menguatkan sehingga tidak dapat dibendung
atau diraih. Ketiganya dapat menyifati Allah swt.
Allah
adalah al-aziz yakni Yang Maha Mengalahkan siapa pun yang
melawan-Nya, dan tidak terkalahkan oleh siapa pun. Dia juga yang tidak ada
sama-Nya, serta tidak pula dapat dibendung kekuatan-Nya, atau diraih
kedudukan-Nya, Dia begitu tinggi hingga tidak dapat disentuh oleh keburukan dan
kehinaan. Dari sini al-Aziz biasa juga diartikan dengan Yang Maha
Mulia.
Kata (الجبّا ر)
al-Jabbar sebagai sifat Allah swt. hanya ditemukan sekali dalam al-Qur’an
yakni pada ayat ini, tetapi ditemukan delapan kali sebagai sifat seorang
manusia yang angkuh. Semua ayat yang menggunakan kata ini sebagai sifat
manusia, menunjukkan keburukan perilakunya, karena itu para ulama berbeda
pendapat tentang makna sifat ini jika disandang oleh Allah swt.
Menurut
tinjauan bahasa, kata yang terdiri dari ketiga huruf (جـ) jim, (مـ)
ba’, (ر)
ra’ mengandung makna keagungan, ketinggian, dan istiqamah yakni
konsisteni. Ada yang berpendapat bahwa kata jabbar yang disandang
oleh Allah itu mengandung makna ketinggian yang tak dapat terjangkau.
Allah adalah al-Jabbar karena ketinggian sifat-sifat-Nya yang menjadikan
siapa pun tidak mampu menjangkau-Nya. Ada juga yang memahami kata ini dalam
arti menumbuhkan, menutup dan memperbaiki, agar tetap dalam keadaannya
semula atau istiqamah.
Al-Biqa’i
menafsirkan kata Jabbar dengan “Yang Maha Tinggi sehingga memaksa yang
rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya, dan tidak terlihat atau
terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk diraih dari
sisi-Nya, ketundukan dan ketidakterjangkauan yang nampak secara amat jelas.”
Kata (المتكبّر)
al-Mutakabbir sebagai sifat Allah tidak ditemukan dalam al-Qur’an kecuali
sekali, yakni pada ayat ini. Kata ini terambil dari akar kata yang mengandung
makna kebesaran serta lawan dari kata kemudaan atau kekecilan.
Mutakabbir biasa diterjemahkan dengan angkuh.
Sementara
pakar kebahasaan berpendapat bahwa kata al-mutakabbir berarti Yang Maha
besar, karena menurut mereka huruf ta’ dalam bahasa Arab biasanya jika
disisipkan pada kata, maka ia mengandung makna takalluf (kesengajaan
membuat-buat), sedang Allah swt. Maha Suci dari segala sifat kesenganjaan
membuat-buat kebesaran. Mengapa pula Dia ber-takalluf atau
membuat-buatnya, padahal Dia Maha Besar lagi Maha Agung. Dia adalah penyandang kibriya’.
Karena itu hanya manusia yang berpotensi bertakabbur, bukan Allah, karena
ketika angkuh dan menyombongkan dirinya, maka ia pada hakikatnya membuat-buat
kebesaran itu untuk dirinya.
Imam
al-Ghazali berpendapat bahwa al-Mutakabbir adalah Yang memandang
selainnya hina dan rendah, bagai pandangan raja kepada hamba sahayanya bahkan
merasa bahwa keagungan dan kebesaran hanya milik-Nya. Sifat ini tidak mungkin
disandang kecuali oleh Allah swt., karena hanya Dia yang berhak dan wajar
bersikap demikian. Setiap yang memandang keagungan dan kebesaran hanya miliknya
secara khusus tanpa selain-Nya – maka pandangan itu salah kecuali jika yang
melakukannya adalah Allah swt.
Namun perlu dicatat bahwa sifat kibriya’ ini
ditujukan oleh-Nya kepada mereka yang angkuh, yang memandang serta
memperlakukan selainnya secara hina dan rendah.
Manusia
sangat tercela bila memiliki sifat takabur, betapa ia akan takabur, padahal
asalnya adalah nuthfah yang menjijikkan, akhirnya menjadi bangkai yang
menyebalkan, dan masa antara awal dan akhir hidupnya membawa urin dan kotoran
yang menusuk baunya. Hai manusia, janganlah berjalan dengan keangkuhan, kakimu
tidak dapat menembus bumi dan ketinggianmu tidak dapat menyentuh langit.
Manusia
yang takabbur menggabungkan dalam dirinya kebodohan dan kebongohan. Kebodohan
karena dia tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah. Sehingga akibat
kebodohannya dia menduga dirinya besar. Selanjutnya dia melakukan kebohongan,
karena dengan takabburnya dia membohongi dirinya sendiri sebelum orang lain. Bukankah
takabbur membuat-buat kebesaran pada diri yang pada hakikatnya tidak pernah
dapat wujud?[5]
Kata (عـمـّا يشر كـو ن)
Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Di, Raja yang Maha Suci, Pencurah
segala sesuatu, Maha Keras tuntutan-Nya, Maha Perkasa, Maha Besar, Maha Suci
Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah,
Allah yang tunggal, yang memiliki segala sesuatu, Dia mengurusi semua hal
menurut kehendak-Nya yang suci dari segala keaiban dan kekurangan, dan yang
tidak menzalimi makhluk-Nya. Karena itu, Dialah yang berhak menerima kebesaran
yang mutlak. Maha suci Allah dari segala tunduhan orang-orang musyrik.[6]
Menurut
Thahir Ibn ‘Asyur, penyebutan sifat-sifat Allah sebagaimana terbaca pada ayat
ini dapat dibagi menjadi tiga bagian sesuai dengan konteks uraian surah ini.
Bagian pertama, sesuai dan berkaitan dengan sikap kaum musyrikin serta
orang-orang yahudi dan orang-orang munafik yang bekerja sama memusuhi serta
memerangi Nabi dan kaum muslimin. Ini dicakup oleh kalimat La Ilaha illa
Allah. Inilah yang merupakan prinsip dasar yang mendorong untuk
memperhatikan sifat-sifat Allah yang lain. Hal tersebut demikian karena sumber
dari segala dari segala kesesatan adalah mempersekutukan Allah swt. demikian
juga dengan sifat-Nya Maha Mengetahui yang gaib, dalam hal ini adalah
kebangkitan manusia setelah kematiannya dan keniscayaan kiamat. Sifat-sifat al-Malik,
al-Aziz, al-Jabbar, dan al-Mutakabbir, kesemuanya sejalan dengan
konteks uraian tentang siksa yang dijatuhkan kepda kelompok Yahudi yang dibicarakan
dalam surah ini.
Bagain
kedua, sesuai dan berkaitan dengan kaum beriman serta hasil yang mereka peroleh
menghadapi orang-orang Yahudi dari Bani an-Nadhir yang dibicarakan dalam surah
ini. Yakni as-Salam dan al-Mu’min, demikian juga dengan ar-Rahman
dan ar-Rahim.
Bagian
ketiga berkaitan dengan kedua kelompok yang tersebut terdahulu, yakni kepada
kaum beriman yang taat dan kepada para pembangkang. Masing-masing dapat
memperoleh dari sifat-sifat-nya al-Quddus, al-Muhaimin, serta al-Khaliq,
al-Bari’, al-Mushawwir.
Dapat
dikatakan bahwa pemilihan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam surah ini
disesuaikan dengan dua kelompok manusia yang dibicarakan pada ayat-ayat
sebelumnya, yakni lengah dan melupakan Allah sehingga melupakan dirinya
sendiri, dan yang mengingat Allah serta patuh kepada-Nya.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Dari dua
ayat ini kita dapat mengetahui beberapa sifat-sifat Allah yakni
1. ar-Rahman Pencurah rahmat yang bersifat sementara untuk
seluruh makhluk dalam pentas kehidupan dunia ini
2. ar-Rahim Pencurah rahmat yang abadi bagi orang-orang
beriman di akhirat nanti.
3. al-Malik Maha Pemilik segala sesuatu dengan sebenarnya
lagi Maha Raja,
4. al-Quddus Maha Suci dari segala kekurangan dan segala
yang tidak pantas,
5. as-Salam Maha Damai dan sejahtera,
6. al-Mu’min Maha Mengaruniakan keamanan,
7. al-Muhaimin Maha Memelihara dan Maha Mengawasi,
8. al-‘Aziz Maha Agung,
9. al-Jabbar Maha Perkasa,
10. al-Mutakabbir Maha Tinggi,
“Dia
allah Yang tiada Tuhan selain Dia”, “Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan”.
Pemilihan
sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam surah ini disesuaikan dengan dua
kelompok manusia yang dibicarakan pada ayat-ayat sebelumnya, yakni lengah dan
melupakan Allah sehingga melupakan dirinya sendiri, dan yang mengingat Allah
serta patuh kepada-Nya.
B.
SARAN
Dari
ayat ini kita dapat mengambil ibroh yakni kita sebagai manusia yang diciptakan
Allah swt yang memiliki kesempurnaan tiada tara, maka tiadalah bagi kita berhak
untuk bersikap sombong dan takabbur di muka bumi ini karena betapapun kita hanyalah
berasal dari nuthfah yang menjijikkan, akhirnya menjadi bangkai yang
menyebalkan, dan masa antara awal dan akhir hidupnya membawa urin dan kotoran
yang menusuk baunya. Jadi janganlah berjalan dengan keangkuhan, karena
betapapun kaki kita tidak dapat menembus bumi dan ketinggian kita tidak dapat
menyentuh langit.
DAFTAR PUSTAKA
al-Qarni, Aidh. 2007. Tafsir Muyassar. Jakarta:
Qisthi Press.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah (Pesan,
Kesan dan Keserasian al-Qu’ran), Jakarta: Lentera Hati,
Siddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. 2003. Tafsir
Al-Qur’anul Majid An-Nur, Semarang: Rizky Putra. Cetakan ke II.
[1]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qu’ran),
(Jakarta: Lentera Hati, 2002) h.517-518
[2]Ibid,
H. 134-135
[3]
Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (Jakarta : Qisthi Press, 2007) h. 321
[4]
Ibid, h. 322
[5]
M. Quraish Shihab, Op-Cit, H. 135-145
[6]
Tengku Muhammad Hasbi Siddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur,
(Semarang : PT. Rizky Putra, 2003) Cetakan ke II, h. 4181
[7] M. Quraish Shihab, Op-Cit,
H. 146