Rabu, 31 Juli 2013

tafsir QS. al-Hasyr :22-23



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Surah al-Hasyr merupakan salah satu surah yang disepakati turun setelah Nabi saw. Berhijrah ke Madinah. Namanya, “surah al-Hasyr”, dikenal sejak masa Nabi saw., bahkan at-Tirmidji meriwayatkan satu hadis melalui Ma’qil Ibn Yasar yang menunjukkan bahwa nabi menunjuk surah ini dengan nama surah al-Hasyr. Nama tersebut terambil dari kata al-hasyr yang disebut pada ayat kedua yang menguraikan peristiwa pengumpulan dan pengusiran salah satu dari tiga komunitas besar Yahudi di Madinah, yakni Bani an-Nadhir, pada tahun keempat hijriyah. Karea itu pula surah ini dikenal juga dengan nama surah Bani an-Nadhir.
            Demikian pandangan banyak ulama.Al-Biqai berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang apa yang diuraikan pada akhir surah yakni surah al-Mujadilah tentang uasa Allah swt. Yang tampak dalam kenyataan, yakni meraih kemenangan buat Allah dan para Rasul-Nya serta merendahkan derajat musuh-musuh-Nya, karena DiaMahakuat lagi Mahaperkasa (buka QS. Al-Mujadilah :21).
            Apa yang dikemukakan al-Biqai tentang pembuktian adanya hasyr di hari Kemudian melalui hasyr yang terjadi terhadap orang-orang Yahudi itu sejalan dengan pengamatan Thabathabai yang menyatakan bahwa, melalui tujuh ayat terakhir surah ini, Allah swt. Memerintahkan hamba-hambaNya untuk bersiap-siap menemuiNya dengan jalan melakukan pengawasan diri dan intropeksi/muhasabah serta mengingat keagunganNya yang digambarkan oleh al-Asma al-Husna yang disebut pada ayat-ayat terakhir surah ini.  [1]
B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang:
1.      Apa saja makna yang terkandung dalam QS. Al-Hasr: 22
2.      Apa saja makna yang terkandung dalam QS. Al-Hasr: 23
C.     TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam QS. Al-Hasr: 22 – 23


BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR SURAH Al-HASYR : 22 – 23
A.    Al-Hasyr : 22
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ÞOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur ( uqèd ß`»oH÷q§9$# ÞOŠÏm§9$# ÇËËÈ
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:22)
Ayat ini merupakan penutup uraian surah. Sebelum ini telah berulang-ulang disebut nama Allah atau pengganti nama-Nya serta sifat-sifat-Nya. Kesemuanya menunjuk keagungan Allah swt. Di sisi lain, ayat yang lalu menguraikan tentang keagungan Al-Qur’an, maka sangat wajar jika ayat ini berbicara tentang sifat-sifat Allah yang menurunkan kitab suci itu, sekaligus menunjuk kepada Allah yang disebut berulang-ulang pada ayat-ayat yang lalu.
Ayat ini menunjuk-Nya dengan kata “Dia” yakni Dia yang menurunkan al-Qur’an dan yang disebut-sebut pada ayat-ayat yang lalu Dia, Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah, serta tiada Pencipta dan Pengendali alam raya selain Dia, Dia Maha Mengetahui yang gaib baik yang nisbyy (relatif) maupun yang mutlak dan yang nyata,  Dia-lah saja ar-Rahman Pencurah rahmat yang bersifat sementara untuk seluruh makhluk dalam pentas kehidupan dunia ini lagi ar-Rahim Pencurah rahmat yang abadi bagi orang-orang beriman di akhirat nanti.
Al-Biqa’i berkomentar tentang kata (هو) huwa pada ayat di atas, bahwa Dia yang wujud-Nya dari Dzat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh oleh ‘adam (ketiadaan) dalam bentuk apapun, dan dengan demikian tidak ada wujud yang pantas disifati dengan kata tersebut selain-Nya, karena Dialah yang selalu wujud sejak dahulu hingga kemudian yang tak terhingga. Dialah yang hadir pada setiap benak, dan yang gaib (tidak terjangkau) keangungan-Nya oleh semua indra.
Kata (هو) huwa yang mendahului kata ar-Rahman ar-Rahim berfungsi mengkhususkan kedua sifat itu dalam pengertiannya yang sempurna hanya untuk Allah swt.
Kata (الله) Allah sepintas tidak diperlukan lagi karena kata (هو) huwa telah menunjuk kepada-Nya. Tetapi ini agakya untuk menggambarkan semua sifat-sifat-Nya, sebelum menyebut sifat-sifat tertentu, karena kata Allah menunjuk kepada Dzat yang wajib wujud-Nya itu dengan semua sifat-Nya, baik sifat Dzat maupun sifat fi’l. Apabila anda berkata “Allah” maka apanyang anda ucapkan itu telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedang bila anda mengucapkan nama-Nya yang lain – misalnya ar-Rahim atau al-Malik maka ia hanya menggambarkan sifat Rahmat, tau sifat kepemilikan-Nya.
Penyebutan sifat ar-Rahman dan ar-Rahim setelah menegaskan pengetahuan-Nya yang menyeluruh mengisyaratkan bahwa Dia Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya sehingga semua diberikan rahmat sesuai kebutuhan dan kewajarannya menerima.[2]
Dialah Allah SWT yang berhak disembah dan diTuhankan, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu yang nampak dan yang tidak tampak, yang nyata dan yang abstrak, yang jelas dan yang samar. Dia-lah Allah, Yang Maha Mengasihi setiap orang, Yang Maha Menyayangi orang yang taat kepada-Nya.
Kasih Allah SWT meliputi seluruh makhluk, sampai-sampai kepada orang yang berbuat maksiat. Namun khusus bagi orang yang senantiasa mencari Ridho-Nya, Allah SWT menambah sayangNya baginya.[3]
B.     Al-Hasyr : 23
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨rà)ø9$# ãN»n=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$# ÚÆÏJøygßJø9$# âƒÍyèø9$# â$¬6yfø9$# çŽÉi9x6tGßJø9$# 4 z`»ysö6ß «!$# $£Jtã šcqà2ÎŽô³ç ÇËÌÈ
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”(Al-Hasyr:23)
Dialah Allah SWT yang disembah dengan kebenaran kalimat tauhid ‘la illaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Selain Allah tidak boleh disembah dan tidak boleh pula dipertuhankan.
            Dialah Allah SWT yang memiliki dan mengatur semua yang ada di alam semesta ini. Dia-lah Yang mengatur urusan penciptaan, yang bebas dan selamat dari segala aib dan kekurangan. Pada Zat-Nya terhimpun sifat-sifat kesempurnaan dan pujian.
            Dialah Allah SWT yang membenarkan para nabi yang yang Dia utus dengan mukjizatnya-mukjizatnya dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Dia mengalahkan selainNya, menimpa bencana kepada orang yang melawan-Nya, dan mengawasi segala sesuatu yang ditampakkan oleh hamba atau yang disamarkan. Dia-lah Yang Mahaperkasa, Yang tidak bisa dikalahkan dan dilemahkan oleh siapapun.
Dialah Allah SWT yang Mahakuasa, yang kehendakNya mengalahkan kehendak siapapun dan kekuasaanNya meliputi seluruh ciptaanNya, Yang memilikisegala keagungan . Dia memiliki sifat2 keagungan pada nama-nama-Nya yang bersih dari aib dan kekurangan.[4]
Ayat di atas menyebut beberapa sifat-Nya yang dapat menggugah yang taat mengingat-Nya untuk lebih mendekatkan kepada-Nya dan mengingatkan yang durhaka dan lupa kepada-Nya untuk berhati-hati. Ayat ini kembali mengulangi penggalan awal ayat yang lalu dengan menyatakan bahwa : Dia allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Dia adalah al-Malik Maha Pemilik segala sesuatu dengan sebenarnya lagi Maha Raja, al-Quddus Maha Suci dari segala kekurangan dan segala yang tidak pantas, as-Salam Maha Damai dan sejahtera, al-Mu’min Maha Mengaruniakan keamanan, al-Muhaimin Maha Memelihara dan Maha Mengawasi, al-‘Aziz Maha Agung, al-Jabbar Maha Perkasa, al-Mutakabbir Maha Tinggi, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Kata ( الملك) al-Malik terdiri dari huruf-huruf (مـ) mim, (لـ) lam, dan (ك) kaf  yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan kesahihan. Ia pada mulanya berarti ikatan dan penguatan. Kata ini terulang dalam al-Qur’an sebanyak lima kali.
Al-Malik mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu disebabkan oleh kekuatan pengendalian dan keshahihannya. Malik yang biasa diterjemahkan dengan Raja adalah yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, anugerah dan pencabutan dan karena itu biasanya kerajaan terarah kepada manusia dan tidak kepada barang yang sifatnya tidak dapat menerima perintah dan larangan.
Menurut Imam al-Ghazali, al-Malik yang merupakan salah satu nama Allah Ynag Mulia adalah Dia “Yang Dzat dan sifat-Nya tidak membutuhkan segala yang wujud, bahkan segala yang wujud butuh kepada-Nya dalam segala sesuatu dan menyangkut segala sesuatu. Segala sesuatu selain-Nya menjadi milik-Nya.
Kata (القدّوس) al-Quddus atau ada juga yang membacanya al-Qaddus adalah kata yang mengandung makna kesucian. Dalam penjelasan beberapa kamus bahasa Arab antara lain karya al-Fairuzabadi ditemukan bahwa Quddus adalah ath-Thahr auw al-Mubarak/ Yang suci murni atau penuh keberkatan. Agaknya atas dasar inilah apa ulama yang mengartikan kata tersebut sebagai Yang menghimpun semua makna-makna yang baik atau Yang terpuji dengan segala macam kebajikan.
Menurut imam Ghazali, Allah al-Quddus adalah Dia Yang Maha Suci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh indra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga oleh waham, atau yang terlintas dalam nurani dan pikiran.
Al-Biqa’i memahami ke-Quddus-an adalah “kesucian yang tidak menerima perubahan, tidak disentuh oleh kekotoran, dan terus menenrus terpuji dengan langgengnya sifat itu.”
Ada juga yang memahami sifat Allah sebagai Quddus dalam arti bahwa Dia meng-Quddus-kan hamba-Nya dalam arti mensucikan hati manusia-manusia pilihan-Nya, para nabi dan aulia-Nya. Sementara pakar menyatakan bahwa ke-Quddus-an mengandung beberapa aspek yaitu kebenaran, keindahan, dan kebaikan, sehingga Allah Yang Quddus itu adalah Dia Yang Maha Indah, Maha Baik, dan Maha Benar dalam Dzat, sifat dan perbuatan-Nya, keindahan, kebenaran, dan kebaikan yang tidak dinodai oleh sesuatu apapun. Dari sisni kemudian datang perintah mensucikan Allah dari segala sifat kekurangan.
Sifat al-Quddus pada ayat ini disebut setelah kata al-Malik/Maha Raja. Ini karena raja yang dikenal dalam kehidupan duniawi tidak luput dari kesalahan, maka di sini kata al-Quddus menyusul kata malik untuk menunjukkan kesempurnaan kerajaan-Nya sekaligus menapikkan adanya kesalahan, perusakan, atau kekejaman dari-Nya.
Kata (السلام) as-salam terambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Allah adalah as-Salam karena Yang Maha Esa itu terhindar dari segala aib, kekurangan dan kepunahan yang dialami oleh makhluk. Demikian tulis Ahmad Ibn Faris dalam bukunyanya Maqayis al-Lughah.
Ibn al-‘Arabi menyatakan bahwa semua ulama sepakat bahwa nama as-Salam yang dinisbahkan kepada Allah berarti Dzu as-Salamah yakni Pemilik as-Salamah, hanya saja mereka berbeda dalam memahami istilah ini. Ada yang memahaminya dalam arti Allah terhindar dari segala aib dan kekurangan, ada juga yang berpendapat bahwa Allah yang menghidarkan semua makhluk dari penganiayaan-Nya, dan yang lain berpendapat bahwa as-Salam yang dinisbahkan kepada Allah itu berarti “Yang memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak”.
Kata (المؤمن) al-Mu’min terambil dari akar kata (أمن) amina, yang melahirkan sekian banyak bentuk antara lain (إيما ن) iman, ( (أما نةamanah, dan   (أما ن) aman. Amanah adalah lawan dari khianat yang melahirkan ketenangan batin serta rasa aman karena adanya pembenaran dan kepercayaan terhadap sesuatu, sedang iman adalah pembenaran hati dan kepercayaan terhadap sesuatu.
Az-Zajjaj, pakar bahasa Arab, menulis dalam bukunya Tafsir Asma’ al-Husna beberapa pendapat tentang makna Mu’min sebagai sifat Allah. “Allah menamai dirinya Mu’min karena Dia menyaksikan sendiri keesaan-Nya sesuai firman-Nya: “Allah menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah” (QS.Al-Imran:18). Ada juga yang berpendapat bahwa kata ini jika menyifati Allah maka berarti Dia yang memberi rasa aman dari siksa-Nya siapa pun yang tidak wajar menerima siksa.
Pendapat lain tentang makna Mu’min yang menjadi sifat Allah itu dikemukakan oleh Asy-Syanqithi. Menurutnya, al-Mu’min dapat dipahami sebagai bermakna pembenaran Allah akan keimanan hamba-hamba-Nya yang beriman dan ini mengantar kepada diterimanya iman mereka serta tercurahnya ganjaran kepada mereka. Atau dapat pula dipahami sebagai pembenaran terhadap apa yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Menurut Imam al-Ghazali, Mu’min adalah yang kepadanya dikembalikan rasa aman dan keamanan melalui anugerah tentang sebab-sebab perolehan rasa aman dan keamanan itu serta dengan menutup segala jalan yang menimbulkan rasa takut. Tidak dapat digambarkan adanya rasa aman kecuali dalam situasi ketakutan, dan tidak pula ketakutan kecuali saat adanya kemungkinan kepunahan, kekurangan atau kebinasaan. Allah sebagai al-Mu’min adalah Dia yang tidak tergambar dalam benak siapa pun adanya rasa aman dan keamanan kecuali yang bersumber dari-Nya.
Kata (المهيمن) al-Muhaimin ditemukan dua kali dalam al-Qur’an sekali menujuk kepada sifat Allah pada ayat yang ditafsirkan ini dan kali kedua menunjuk kepada sifat al-Qur’an yakni pada QS. Al-Maidah: 48.
Ada yang berpendapat bahwa kata ini sama dengan kata al-Mu’min, karena menurut asal kata al-Muhaimin adalah al-mu’amin. Jika pendapat ini diterima maka maknanya sama dengan al-mu’min yang telah dikemukakan di atas.
Pendapat yang lebih kuat adalah yang mengartikan al-muhaimin sebagai yang menjadi saksi terhadap sesuatu serta memelihara. Imam Ghazali berpendapat bahwa kata al-Muhaimin yang menjadi salah satu Asma’ al-Husna itu bermakna Allah yang menangani serta mengawasi urusan makhluk-Nya dari sisi amal perbuatan mereka, rezeki dan ajal mereka. Penanganan ini adalah dengan pengetahuan, penguasaan dan pemeliharaan-Nya, karena semua yang mengawasi hakikat sesuatu, bertanggung jawab dan memeliharanya, adalah Muhaimin. Pengawasan merujuk kepada pengetahuan, penguasaan kepada qudrat dan pemeliharaan kepada akal, karena itu siapa yang memiliki ketiga unsur diatas, maka dia adalah Muhaimin, dan tentu saja tidak ada yang dapat menghimpun ketiganya secara sempurna kecuali Allah swt.
Penempatan kata al-Muhaimin sesudah al-Mu’min menurut Thahir Ibn ‘Asyur, adalah untuk menampik kesan yang boleh jadi muncul bahwa rasa aman yang diberikan-Nya adalah karena dia lemah atau takut kepada yang lain. Dengan adanya kata al-Muhaimin maka diketahui bahwa rasa aman yang diberikan-Nya itu adalah karena adanya hikmah, sedang Dia sendiri Maha Mengawasi, karena itu rasa aman yang diberikan-Nya adalah bukti dari rahmat-Nya.
Al-Biqa’i memberikan penjelasan tentang makna kata Muhaimin, serta penempatannya sesudah as-Salim dan al-Mu’min antara lain bahwa untuk terpenuhinya rasa damai dan aman yang terkandung oleh kata as-Salam  dan al-Mu’min, tentu bersifat tersembunyi, karena itu kedua kata tersebut disusul dengan kata Muhaimin karena sifat ini bermakna kesaksian yang dilandasi oleh pengetahuan menyeluruh tentang detail serta pandangan yang mencakup keseluruhan dari yang lahir maupun batin, sehingga tidak satu pun yang tersembunyi, tersembunyi bagi-Nya, apalagi yang lahir dalam kenyataan.
Kata (العزيز) al-Aziz terambil dari akar kata yang terdiri dari dua huruf, yaitu (عـ) ‘ain dan (ز) zai. Maknanya berkisar pada kekukuhan dan kemantapan. Dari sini kemudian lahir makna-makna baru sesuai dengan konteks serta bentuk mudhari’nya. Jika bentuknya (يغُزّ) ya’uzzu maka ini berarti mengalahkan; jika (يعِزّ) ya'izzu maka maknanya sangat jarang, atau sedikit bahkan tidak ada samanya, dan jika (يعَزّ) ya’azzu maka ia berarti menguatkan sehingga tidak dapat dibendung atau diraih. Ketiganya dapat menyifati Allah swt.
Allah adalah al-aziz yakni Yang Maha Mengalahkan siapa pun yang melawan-Nya, dan tidak terkalahkan oleh siapa pun. Dia juga yang tidak ada sama-Nya, serta tidak pula dapat dibendung kekuatan-Nya, atau diraih kedudukan-Nya, Dia begitu tinggi hingga tidak dapat disentuh oleh keburukan dan kehinaan. Dari sini al-Aziz biasa juga diartikan dengan Yang Maha Mulia.
Kata (الجبّا ر) al-Jabbar sebagai sifat Allah swt. hanya ditemukan sekali dalam al-Qur’an yakni pada ayat ini, tetapi ditemukan delapan kali sebagai sifat seorang manusia yang angkuh. Semua ayat yang menggunakan kata ini sebagai sifat manusia, menunjukkan keburukan perilakunya, karena itu para ulama berbeda pendapat tentang makna sifat ini jika disandang oleh Allah swt.
Menurut tinjauan bahasa, kata yang terdiri dari ketiga huruf (جـ) jim, (مـ) ba’, (ر) ra’ mengandung makna keagungan, ketinggian, dan istiqamah yakni konsisteni. Ada yang berpendapat bahwa kata jabbar yang disandang oleh Allah itu mengandung makna ketinggian yang tak dapat terjangkau. Allah adalah al-Jabbar karena ketinggian sifat-sifat-Nya yang menjadikan siapa pun tidak mampu menjangkau-Nya. Ada juga yang memahami kata ini dalam arti menumbuhkan, menutup dan memperbaiki, agar tetap dalam keadaannya semula atau istiqamah.
Al-Biqa’i menafsirkan kata Jabbar dengan “Yang Maha Tinggi sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya, dan tidak terlihat atau terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk diraih dari sisi-Nya, ketundukan dan ketidakterjangkauan yang nampak secara amat jelas.”
Kata (المتكبّر) al-Mutakabbir sebagai sifat Allah tidak ditemukan dalam al-Qur’an kecuali sekali, yakni pada ayat ini. Kata ini terambil dari akar kata yang mengandung makna kebesaran serta lawan dari kata kemudaan atau kekecilan. Mutakabbir biasa diterjemahkan dengan angkuh.
Sementara pakar kebahasaan berpendapat bahwa kata al-mutakabbir berarti Yang Maha besar, karena menurut mereka huruf ta’ dalam bahasa Arab biasanya jika disisipkan pada kata, maka ia mengandung makna takalluf (kesengajaan membuat-buat), sedang Allah swt. Maha Suci dari segala sifat kesenganjaan membuat-buat kebesaran. Mengapa pula Dia ber-takalluf atau membuat-buatnya, padahal Dia Maha Besar lagi Maha Agung. Dia adalah penyandang kibriya’. Karena itu hanya manusia yang berpotensi bertakabbur, bukan Allah, karena ketika angkuh dan menyombongkan dirinya, maka ia pada hakikatnya membuat-buat kebesaran itu untuk dirinya.
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa al-Mutakabbir adalah Yang memandang selainnya hina dan rendah, bagai pandangan raja kepada hamba sahayanya bahkan merasa bahwa keagungan dan kebesaran hanya milik-Nya. Sifat ini tidak mungkin disandang kecuali oleh Allah swt., karena hanya Dia yang berhak dan wajar bersikap demikian. Setiap yang memandang keagungan dan kebesaran hanya miliknya secara khusus tanpa selain-Nya – maka pandangan itu salah kecuali jika yang melakukannya adalah Allah swt.
   Namun perlu dicatat bahwa sifat kibriya’ ini ditujukan oleh-Nya kepada mereka yang angkuh, yang memandang serta memperlakukan selainnya secara hina dan rendah.
Manusia sangat tercela bila memiliki sifat takabur, betapa ia akan takabur, padahal asalnya adalah nuthfah yang menjijikkan, akhirnya menjadi bangkai yang menyebalkan, dan masa antara awal dan akhir hidupnya membawa urin dan kotoran yang menusuk baunya. Hai manusia, janganlah berjalan dengan keangkuhan, kakimu tidak dapat menembus bumi dan ketinggianmu tidak dapat menyentuh langit.
Manusia yang takabbur menggabungkan dalam dirinya kebodohan dan kebongohan. Kebodohan karena dia tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah. Sehingga akibat kebodohannya dia menduga dirinya besar. Selanjutnya dia melakukan kebohongan, karena dengan takabburnya dia membohongi dirinya sendiri sebelum orang lain. Bukankah takabbur membuat-buat kebesaran pada diri yang pada hakikatnya tidak pernah dapat wujud?[5]
Kata (عـمـّا يشر كـو ن) Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Di, Raja yang Maha Suci, Pencurah segala sesuatu, Maha Keras tuntutan-Nya, Maha Perkasa, Maha Besar, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah, Allah yang tunggal, yang memiliki segala sesuatu, Dia mengurusi semua hal menurut kehendak-Nya yang suci dari segala keaiban dan kekurangan, dan yang tidak menzalimi makhluk-Nya. Karena itu, Dialah yang berhak menerima kebesaran yang mutlak. Maha suci Allah dari segala tunduhan orang-orang musyrik.[6]
Menurut Thahir Ibn ‘Asyur, penyebutan sifat-sifat Allah sebagaimana terbaca pada ayat ini dapat dibagi menjadi tiga bagian sesuai dengan konteks uraian surah ini. Bagian pertama, sesuai dan berkaitan dengan sikap kaum musyrikin serta orang-orang yahudi dan orang-orang munafik yang bekerja sama memusuhi serta memerangi Nabi dan kaum muslimin. Ini dicakup oleh kalimat La Ilaha illa Allah. Inilah yang merupakan prinsip dasar yang mendorong untuk memperhatikan sifat-sifat Allah yang lain. Hal tersebut demikian karena sumber dari segala dari segala kesesatan adalah mempersekutukan Allah swt. demikian juga dengan sifat-Nya Maha Mengetahui yang gaib, dalam hal ini adalah kebangkitan manusia setelah kematiannya dan keniscayaan kiamat. Sifat-sifat al-Malik, al-Aziz, al-Jabbar, dan al-Mutakabbir, kesemuanya sejalan dengan konteks uraian tentang siksa yang dijatuhkan kepda kelompok Yahudi yang dibicarakan dalam surah ini.
Bagain kedua, sesuai dan berkaitan dengan kaum beriman serta hasil yang mereka peroleh menghadapi orang-orang Yahudi dari Bani an-Nadhir yang dibicarakan dalam surah ini. Yakni as-Salam dan al-Mu’min, demikian juga dengan ar-Rahman dan ar-Rahim.
Bagian ketiga berkaitan dengan kedua kelompok yang tersebut terdahulu, yakni kepada kaum beriman yang taat dan kepada para pembangkang. Masing-masing dapat memperoleh dari sifat-sifat-nya al-Quddus, al-Muhaimin, serta al-Khaliq, al-Bari’, al-Mushawwir.
Dapat dikatakan bahwa pemilihan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam surah ini disesuaikan dengan dua kelompok manusia yang dibicarakan pada ayat-ayat sebelumnya, yakni lengah dan melupakan Allah sehingga melupakan dirinya sendiri, dan yang mengingat Allah serta patuh kepada-Nya.[7]    


BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Dari dua ayat ini kita dapat mengetahui beberapa sifat-sifat Allah yakni
1.      ar-Rahman Pencurah rahmat yang bersifat sementara untuk seluruh makhluk dalam pentas kehidupan dunia ini
2.      ar-Rahim Pencurah rahmat yang abadi bagi orang-orang beriman di akhirat nanti.
3.      al-Malik Maha Pemilik segala sesuatu dengan sebenarnya lagi Maha Raja,
4.      al-Quddus Maha Suci dari segala kekurangan dan segala yang tidak pantas,
5.      as-Salam Maha Damai dan sejahtera,
6.      al-Mu’min Maha Mengaruniakan keamanan,
7.      al-Muhaimin Maha Memelihara dan Maha Mengawasi,
8.      al-‘Aziz Maha Agung,
9.      al-Jabbar Maha Perkasa,
10.  al-Mutakabbir Maha Tinggi,
“Dia allah Yang tiada Tuhan selain Dia”, “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
Pemilihan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam surah ini disesuaikan dengan dua kelompok manusia yang dibicarakan pada ayat-ayat sebelumnya, yakni lengah dan melupakan Allah sehingga melupakan dirinya sendiri, dan yang mengingat Allah serta patuh kepada-Nya.
B.     SARAN
Dari ayat ini kita dapat mengambil ibroh yakni kita sebagai manusia yang diciptakan Allah swt yang memiliki kesempurnaan tiada tara, maka tiadalah bagi kita berhak untuk bersikap sombong dan takabbur di muka bumi ini karena betapapun kita hanyalah berasal dari nuthfah yang menjijikkan, akhirnya menjadi bangkai yang menyebalkan, dan masa antara awal dan akhir hidupnya membawa urin dan kotoran yang menusuk baunya. Jadi janganlah berjalan dengan keangkuhan, karena betapapun kaki kita tidak dapat menembus bumi dan ketinggian kita tidak dapat menyentuh langit.


DAFTAR PUSTAKA
al-Qarni, Aidh. 2007. Tafsir Muyassar. Jakarta: Qisthi Press.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qu’ran), Jakarta: Lentera Hati,
Siddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. 2003. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur, Semarang: Rizky Putra. Cetakan ke II.



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qu’ran), (Jakarta: Lentera Hati, 2002) h.517-518
[2]Ibid, H. 134-135
[3] Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (Jakarta : Qisthi Press, 2007) h. 321
[4] Ibid,  h. 322
[5] M. Quraish Shihab, Op-Cit, H. 135-145
[6] Tengku Muhammad Hasbi Siddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur, (Semarang : PT. Rizky Putra, 2003) Cetakan ke II, h. 4181
[7] M. Quraish Shihab, Op-Cit, H. 146