Senin, 28 Maret 2011

pribadi yang cerdas, berwibawa, mantap, dan istiqomah sebagai modal utama seorang guru


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Guru sebagai ujung tombak tenaga kependidikan. Tugas seorang guru tidak hanya mengajar saja melainkan juga mendidik. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran agar peserta didiknya dapat menguasai materi pelajaran
 Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik. Kepribadian itulah yang akan menetukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya,
Seorang guru yang baik harus memiliki pribadi yang cerdas, berwibawa, mantap, dan istiqomah sebagai modal utamanya, selain itu ia juga harus bersikap santun kepada semua orang, jujur, taat beribadah, arif bijaksana,  dan sebagainya yang pada intinya ia harus menjadi teladan yang tidak hanya bagi siswa-siswinya tapi juga bagi masyarakat disekitarnya, karena dalam pandangan masyarakat seorang guru adalah seseorang yang berpendidikan.
Guru sebagai seseorang yang bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia. Seorang guru harus dapat menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender. Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai:
1.      Apa yang diamaksud dengan cerdas, berwibawa, mantap, dan istiqomah?
2.      Bagaimana guru sebagai pribadi yang cerdas?
3.      Bagaimana guru sebagai pribadi yang berwibawa?
4.      Bagaimana guru sebagai pribadi yang mantap?
5.      Bagaimana guru sebagai pribadi yang istiqomah?

C.     TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pribadi yang cerdas, berwibawa, mantap, dan istiqomah sebagai modal utama seorang guru itu bagaimana sehingga tercapai keberhasilan belajar anak.













BAB II
PEMBAHASAN
Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dari lainnya.kepribadian sebenarnya adalah suatu malah yang abstark, hanya dapat dilihat lewat penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, hingga dalam menghadapi semua persoalan. Prof. Dr. Zakiyah Dradjat (1980) mengatakan bahaa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (ma’nawi), sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segidan aspek kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, cara bergaul, berpakaian, hingga dalam menghadapi semua persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.[1]
Guru harus mempunyai sifat-sifat yang disenangi oleh para peserta didiknya, oleh orang tua, dan oleh masyarakat. Oleh sebab itu seorang guru wajib berusaha memupuk sifat-sifat pribadinya sendiri (intern) dan mengembangkan sifat-sifat yang disenangi oleh orang lain (ekstern).[2] Karena tuntutan tugas maka setiap guru harus memiliki kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik tersebut merupakan modal utama bagi seorang guru agar menjadi pengajar yang handal. Modal utama bagi seorang guru diantaranya yaitu:
A.    Pribadi yang Cerdas
Sebagai seorang guru, kita harus memiliki sifat pribadi yang cerdas. Guru selaku pendidik dituntut profesional, terampil dan cerdas. Guru tidak hanya harus menguasai mata pelajarannya tapi juga harus menguasai pengetahuan yang luas selain mata pelajarannya.
Pelaksanaan peran seorang pendidik menuntut pribadi yang cerdas yakni diantaranya:
·         cerdas membawa suasana kelas agar selalu stabil,
·         cerdas membina anak didiknya,
·         cerdas dalam mengambil sikap dalam suatu masalah,
·         cerdas bermasyarakat (bersosialisasi),
·         cerdas mengajarkan sesuatu yang belum tentu peserta didiknya tersebut tidak lebih ahli dari pada dia sendiri,
·         cerdas memilih dan menggunakan alat peraga pendidikan,
·          cerdas dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar,
·         Cerdas melakukan penilaian hasil belajar murid, dll.
Guru akan mampu mendidik dan mengajar apabila dia cerdas mengatur kestabilan emosinya, memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk memajukan anak didiknya, bersikap realistis, jujur, serta bersikap terbuka dan peka terhadap perkembangan, terutama cerdas terhadap inovasi pendidikan.
B.     Pribadi yang Berwibawa
Berwibawa mengandung makna bahwa seorang guru harus:
a)      Memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik
Artinya,  guru harus selalu berusaha memilih dan melakukan perbuatan yang positif agar dapat mengangkat citra baik dan kewibawaannya, terutama di depan murid-muridnya. Disamping itu guru juga harus mengimplementasikan nilai-nilai tinggi terutama yang diambilkan dari ajaran agama,  misalnya jujur dalam perbuatan dan perkataan, tidak munafik. Sekali saja guru didapati berbohong, apalagi langsung kepada muridnya, niscaya hal tersebut akan menghancurkan nama baik dan kewibawaan sang guru, yang pada gilirannya akan berakibat fatal dalam melanjutkan tugas proses belajar mengajar.[3]
b)      Memiliki perilaku yang disegani tidak hanya di lingkungan sekolah tapi juag di lingkungan masyarakat. Disegani bukan berarti di takuti, melainkan dihormati. Bagaimana  seorang  guru dapat disegani oleh orang lain yaitu dengan perilaku yang sopan dan menghormati orang lain sebagai sesama manusia dengan tanpa membedakan satu sama lain.
c)      Memiliki figur sebagai seorang pemimpin (guidance worker) yang mampu memanajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis, mengkoordinasi kegiatan agar terciptanya lingkungan belajar yang serasi, menyenangkan, dan merangsang dorongan belajar para anggota kelas.
C.    Pribadi yang Mantap
Dalam hal ini untuk menjadi seseorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap. Ini penting karena banyak masalah pendidikan yang disebabkan oleh faktor kepribadian guru yang kurang mantap. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya).[4] Oleh sebab itu, sebagai seorang guru, seharusnya kita:
a)      Bertindak sesuai dengan norma hukum.
b)      Bertindak sesuai dengan norma sosial.
c)      Bangga sebagai guru.
d)     Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
Sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannyaadalah figur yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai seorang sosok yang ideal. Guru adalah mitra anak didiknya dalam kebaikan. Karena kemuliaan guru, berbagai gelar pun disandangnya. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan ilmu, pahlawan pendidikan, makhluk serba bisa, dll.
Dalam kaitannya, Zakiah Darajat dalam Syah (2000:225-226) menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yangv baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka  yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).[5]
D.    Pribadi yang Istiqamah
Kata-kata lain istiqomah merupakan sikap dedikasi dalam melakukan sesuatu pekerjaan, perjuangan menegakkan kebenaran, tanpa rasa kecewa, lemah semangat atau putus asa.  Sikap ini menjadi begitu rupa karena dorongan hati yang istiqamah. Seorang guru baik sebagai pendidik, pembimbing, maupun yang lainnya, dia haruslah miliki sifat pribadi yang istiqomah. Kenapa?, karena tanpa pendirian yang teguh takkan mampu seorang guru berhasil menjadi pengajar, pendidik, pembimbing yang handal. 
Guru dengan kemuliaannya, dalam menjalankan tugas, tidak mengenal lelah. Hujan dan panas bukan rintangan bagi guru yang istiqomah dan berdedikasi penuh untuk selalu hadir di sekolah. Anak didik berusaha mencapai cita-citanya dan guru dengan ikhlas mengantarkan dan membimbing anak didik kepintu gerbang cita-citanya. Itulah barangkali sikap guru yang tepat sebagai sosok pribadi yang mulia.[6]
Guru harus berakhlakul karimah, karena guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi para orang tua. Dengan berakhlak mulia, dalam keadaan bagaimanapun guru harus memiliki rasa percaya diri, istiqomah dan tidak tergoyahkan. Kompetensi kepribadian guru yang dilandasi dengan akhlak mulia tentu saja tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi memerlukan ijtihad, yakni usaha sungguh – sungguh, kerja keras, tanpa mengenal lelah dan dengan niat ibadah tentunya. Dalam hal ini, guru harus merapatkan kembali barisannya, meluruskan niatnya, bahkan menjadi guru bukan semata – mata untuk kepentingan duniawi. Memperbaiki ikhtiar terutama berkaitan dengan kompetensi pribadinya, dengan tetap bertawakkal kepada Allah. Melalui guru yang demikianlah, kita berharap pendidikan menjadi ajang pembentukan karakter bangsa.[7]










BAB III
PENUTUP
  1. SIMPULAN
Dari pembahasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa guru yang ideal adalah guru yang memiliki atau memenuhi karakter yang telah dibahas dalam kepribadian guru diatas, dan apabila guru tersebut memenuhi apa yang telah dibahas, maka guru tersebut akan bisa mengendalikan atau menjadikan suasana kelas yang harmonis antara guru dan peserta didik.












DAFTAR PUSTAKA
Bahri Djamarah, Syaiful. 2010. Guru & Anak Didik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Cet ketiga
Departemen Agama. 2005. Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Pendidikan. Jakarta : Direktorat Jenderal kelembagaan Agama Islam.
Hamalik, Oemar. 2006. Pendidikan Guru. Jakarta:  PT. Bumi Aksara. Cet keempat
 http://haripambudi.blogspot.com/2009/09/kompetensi-guru.html
http://jazzyla.wordpress.com/2010/04/15/kompetensi-guru/
http://kimia.upi.edu/isiberita.php?kode=15%20May%202007,%20Pukul%2011:31:42
http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/
http://rudien87.wordpress.com/2010/03/20/kompetensi-kepribadian/



[1] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Guru & Anak Didik (Jakarta, PT.Rineka Cipta: 2010) cet ketiga hal 40.
[2] Departemen Agama, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan (Jakarta, Direktorat jenderal Kelembagaan Agama Islam: 2005) hal 74
[3] http://haripambudi.blogspot.com/2009/09/kompetensi-guru.html
[4] http://jazzyla.wordpress.com/2010/04/15/kompetensi-guru/
[5] http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/
[6] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. opcit hal 43.
[7]http://kimia.upi.edu/isiberita.php?kode=15%20May%202007,%20Pukul%2011:31:42

keadaan awal dan peranannya dalam belajar (khusus anak)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   LATAR BELAKANG
Pada keadaan awal proses belajar-mengajar, siswa belum mempunyai kemampuan yang dijadikan tujuan dari interaksi antara guru dan siswa, bahkan terdapat suatu jurang antara tingkah laku siswa pada awal proses belajar-mengajar dan tingkah laku siswa pada akhir proses itu.
Keadaan awal itu sendiri bukan hanya meliputi kenyataan pada masing-masing siswa saja, melainkan pula kenyataan pada masing-masing guru.
Keadaan awal dapat dipandang sebagai komposisi sejumlah kenyataan yang terdapat pada awal proses belajar-mengajar tertentu dan sangat berpengaruh, sehingga keadaan awal itu adalah keseluruhan kenyataan kepribadian, sosial, instruksional yang berpengaruh terhadap kelangsungan proses belajar-mengajar didalam kelas.
Pada makalah ini kami akan mencoba membahas keadaan awal dalam peranannya terhadap belajar (khususnya pada anak).
1.2.   RUMUSAN MASALAH
  1. Apa yang dimaksud dengan keadaan awal dalam proses belajar ?
  2. Apa saja faktor-faktor yang langsung berkaitan dengan belajar ?
  3. Apa saja faktor-faktor yang ikut berperan dalam belajar ?
1.3.   TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat ikut mengetahui keadaan awal dalam individu pribadi siswa dan faktor-faktor yang ikut berperan dalam peranan belajar sehingga tercapainya tujuan belajar-mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN
            Selama proses belajar-mengajar berlangsung, terjadilah interaksi antara guru dan siswa, namun interaksi ini bercirikan khusus, karena siswa menghadapi tugas belajar dan guru harus mendampingi siswa dalam belajar. Keberhasilan proses mengajar-belajar itu, untuk sebagian dipengaruhi oleh ciri-ciri khas yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun kelompok. Kenyataan ini berakibat bagi guru. Sejauh dia harus mengikut sertakan cirri khas itu sebagi salah satu titik tolak bagi perencanaan dan pengelolaan proses belajar-mengajar.[1]
            Lebih kompleks lagi, setiap proses belajar-mengajar mempunyai tujuannya sendiri. Pada proses awal belajar-mengajar siswa belum mempunyai kemampuan yang dijadikan tujuan dari interaksi guru dan siswa, bahkan terdapat suatu jurang antara tingkah laku siswa pada proses awal belajar-mengajar dan tingkah laku siswa pada akhir belajar itu. Proses belajar mengajar justru harus menjembatani jurang itu. Jurang yang harus dijembatani ialah perbedaan antara tingkah laku awal dan tingkah laku final.[2]
            Pada proses belajar-mengajar lain kemampuan siswa menjumlahkan bilangan (tingkah laku awal) dapat menjadi titik tolak untuk membekali siswa dengan kemampuan menggalikan bilangan-bilangan yang sama (tingkah laku final). Maka, proses belajar mengajar mempunyai titik tolaknya sendiri atau berpangkal pada kemampuan siswa tertentu (tingkah laku awal) untuk dikembangkan menjadi kemampuan baru, sesuai dengan tujuan intruksional (tingkah laku final). Oleh karena itu, keadaan siswa pada awal proses belajar-mengajar tertentu (tingkah laku awal), mempunyai relevasi terhadap penetuan perumusan dan pencapaian tujuan instruksional (tingkah laku final).[3]
2.1. Pengertian Keadaan Awal dalam Proses Belajar
            “Keadaan Awal” dapat dipandang sebagai kumpulan sejumlah hal yang pada dasarnya dapat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar apapun, tetapi belum tentu semuanya jadi berdampak pada belajar-mengajar tertentu (keadaan awal potensional). [4]
            “keadaan awal” itu dapat juga dipandang sebagai komposisi sejumlah kenyataan yang terdapat pada awal proses belajar-mengajar tertentu dan nyata-nyata berpengaruh, selama guru dan siswa berinteraksi untuk mencapai tujuan intuksional khusus tertentu (keadaan awal aktual). Maka, “keadaan Awal” dapat dirumuskan sebagai keseluruhan kenyataan kepribadian, sosial, intraksional dan situasional yang nyata berpengaruh (aktual) terhadap kelangsungan proses belajar-mengajar didalam kelas.[5]
2.2. Faktor-faktor yang Langsung Berkaitan dengan Belajar
A.    Fungsi Kognitif
Salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.  
            Fungsi kognitif manusia menghadapi objek-objek dalam suatu bentuk repesentatif yang menghadirkan semua objek dalam kesadaaran.
  1. Taraf Intelegensi (daya kreativitas)
Istilah “Intelegensi” dapat diartikan dengan dua cara, yaitu:
§  Arti luas: kemampuan untuk mencapai prestasi, yang didalamnya berpikir memegang peranan. Prestasi itu dapat diberikan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pergaulan social, teknis, perdagangan, pengaturan rumahtangga dan belajar di sekolah.
§  Arti sempit: kemampuan untuk mencapai prestasi disekolah, yang didalamnya berpikir memegang peranan pokok. Intelegensi dalam arti ini, kerap disebut ”Kemampuan Intelektual” atau “Kemampuan Akademik”.
Mengenai hakikat intelegensi, belum ada kesesuaian pendapat di antara para ahli. Variasi dalam pendapat Nampak bila pandangan ahli yang satu dibandingkan dengan pendapat ahli yang lain, khususnya pendapat dari:
a)      Terman: intelegensi adalah kemampuan berfikir abstrak.
b)      Thorndike: intelegensi adalah kemampuan untuk menghubungkan reaksi tertentu dengan perangsang tertentu pula, misalnya orang mengatakan “meja”, bila melihat sebuah benda yang berkaki empat dan mempunyai permukaan datar. Maka, makin banyak hubungan (koneksi) semacam itu yang dimiliki seseorang, makin intelegenlah orang itu.
c)      Spearman: intelegensi merupakan hasil perpaduan antara faktor umum dan sejumlah faktor khusus. Faktor umum (faktor g) berperanan dalam semua bentuk berprestasi, sedangkan faktor-faktor khusus (faktor S1, S2, S3 dan seterusnya) berperanan dalam suatu bentuk berprestasi tertentu, seperti berkemampuan bahasa, berkemampuan matematis,. Perpaduan itu adalah unik untuk setiap orang, sehingga nampak perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain.[6]
Dalam kemampuan intelegensi terdapat taraf, dari taraf intelegensi yang tinggi sampai taraf intelegensi yang rendah. Banyak manfaatnya, bila taraf intelegensi para siswa diketahui; dengan demikian diketahui pula taraf prestasi yang dapat diharapkan dari siswa tertentu. Alat yang kerap digunakan dalam pengukur taraf intelegensi ialah tes intelegensi.
Tes intelegensi yang diberikan di sekolah terbagi atas dua kelompok, yaitu:
1)      Tes intelegensi umum (general ability test): disajikan soal-soal berpikir di bidang penggunaan bahasa, manipulasi bilangan dan pengamatan ruang. Hasil testing dilaporkan dalam bentuk IQ yang mencerminkan kemampuan intelektual pada umumnya. Komponen intelegensi yang ditonjolkan ialah komponen intelegensi teoritis.
2)      Tes intelegensi khusus (specific ability test; specific aptitude test): disajikan soal-soal yang terarah untuk menyelidiki, apakah siswa mempunyai bakat khusus disuatu bidang tertentu, misalnya di bidang matematika, dibidang bahasa, dibidang ketajaman pengamatan dan lain sebagainya.[7]
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain adalah:
  1. Pembawaan: pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
  2. Kematangan: tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
  3. Pembentukan: pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
  4. Minat dan pembawaan yamg khas: minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
  5. Kebebasan: kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah.
Semua faktor tersebut diatas bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang anak, kita dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut diatas. Intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.[8]       
  1. Bakat khusus
Bakat khusus merupakan kemampuan yang menonjol di suatu bidang tertentu, misalnya di bidang studi matematika atau bahasa asing. Orang sering berpendapat, bahwa semua bakat khusus merupakan sesuatu yang langsung diturunkan oleh orangtua, misalnya bakat khusus di bidang matematika diperoleh dari orangtua melalui proses generasi biologis. Pendapat itu ternyata tidak benar. Bakat khusus adalah sesuatu yang dibentuk dalam kurun waktu sejumlah tahun dan merupakan perpaduan dari taraf inteligensi pada umumnya {general ability), komponen inteligensi tertentu, pengaruh pendidikan dalam keluarga dan di sekolah, minat dari subyek sendiri. Pengaruh keturunan dalam kebanyakan bakat.
  1. Organisasi kognitif
Organisasi kognitif menunjuk pada cara materi yang sudah dipelajari, disimpan dalam ingatan; apakah tersimpan secara sistematis atau tidak. Hal ini sangat bergantung pada cara materi dipelajari dan diolah; makin mendalam dan makin sistematis pengolahan materi pelajaran, makin baiklah taraf organisasi dalam ingatan itu sendiri.
  1. Kemampuan berbahasa
Kemampuan berbahasa  mencakup kemampuan untuk menangkap inti suatu bacaan dan merumuskan pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh itu dalam bahasa yang baik, sekurang-kurangnya bahasa tertulis.
  1. Daya fantasi
Daya fantasi berupa aktivitas kognitif yang mengandung banyak pikiran dan sejumlah tanggapan, yang bersama-sama menciptakan sesuatu dalam alam kesadaran.
Daya fantasi mempunyai kegunaan kreatif, antisipatif, rekreatif dan sosial. Fantasi dapat berguna dalam menciptakan sesuatu yang baru (kreasi), dalam membayangkan kejadian mendatang dan mempersiapkan diri menghadapi kejadian itu (antisipasi), dalam melepaskan diri dari ketegangan hidup sehari-hari (rekreasi) dan dalam menempatkan diri dalam situasi hidup orang lain (sosial).
  1. Gaya belajar
Gaya bahasa merupakan cara belajar yang khas bagi siswa. Gaya belajar , mengandung beberapa komponen, antara lain gaya kognitif dan tipe belajar.
  1. Teknik-teknik studi atau tata cara belajar secara efisien dan efektif
Teknik-teknik studi atau tata cara belajar secara efisien dan efektif membantu siswa dalam belajar, lebih-lebih bila belajar di rumah. Siswa yang telah terbiasa mengikuti cara belajar yang tepat akan meningkatkan kemampuan belajar.
B.     Fungsi Konatif-Dinamik
fungsi psikis ini berkisar pada penentuan suatu tujuan dan pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari dan dihayati. Kemampuan ini menciptakan suatu kondisi dalam diri siswa, yang menjadi salah satu faktor dalam keadaan awal di pihak siswa.
1.      Karakter - hasrat - berkehendak. Semua ini berkaitan dengan arah dan tujuan dari belajar.
2.      Motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki enersi banyak untuk melakukan kegiatan belajar.[9]
3.       Konsentrasi - perhatian. Konsentrasi ialah pemusatan tenaga dan enersi psikis dalam menghadapi suatu obyek, dalam hal ini peristiwa proses mengajar-belajar di kelas dan apa yang berkaitan dengan itu. Istilah "perhatian" dapat berarti sama dengan konsentrasi, dapat pula menunjuk pada minat momentan, yaitu perasaan tertarik pada suatu masalah yang sedang dipelajari.
C.     Fungsi Afektif
  1. Temperamen. Pada setiap orang, alam perasaan memiliki sifat-sifat umum tertentu. Ada orang yang pada umumnya cenderung berperasaan sedih dan pesimis; ada pula yang biasanya berperasaan gembira dan optimis. Hal ini dikenal dengan istilah "stemming dasar" atau nada dasar alam perasaan, yang lebih kurang menetap.
  2. Perasaan. Yang dimasudkan di sini adalah perasaan momentan dan in-tensional. "Momentan" berarti bahwa perasaan timbul pada saat tertentu; "in-tensional" berarti bahwa reaksi perasaan diberikan terhadap sesuatu, seseorang atau situasi tertentu. Apabila situasi berubah, maka perasaan berganti pula.
  3. Sikap orang yang bersikap tertentu cenderung menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu sebagai hal yang berguna/berharga baginya atau tidak. Dengan demikian, siswa yang memandang belajar di sekolah pada umumnya, atau bidang studi tertentu, sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, akan memiliki sikap positif. Sebaliknya, siswa yang memandang itu semua sebagai sesuatu yang tidak berguna, akan memiliki sikap negatif.
  4. Minat. Minat diartikan sebagai kecenderungan subyek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Minat momentan ialah perasaan tertarik pada suatu topik yang sedang dibahas atau dipelajari; untuk itu kerap digunakan istilah "perhatian". Namun, perhatian dalam arri "minat momentan", perlu dibedakan dari perhatian dalam arti "konsentrasi", sebagaimana dijelaskan di atas. Antara minat dan berperasaan senang terdapat hubungan timbal balik, sehingga tidak mengherankan kalau siswa yang berperasaan tidak senang, juga akan kurang berminat, dan sebaliknya.
2.3. Faktor-faktor yang Berperan dalam Belajar
  1. Fungsi Sensorik-Motorik
Kemampuan yang dimiliki siswa di bidang psikomotorik, juga merupakan bagian dari keadaan awal di pihak siswa, yang dapat menghambat atau membantu di semua proses belajar-mengajar atau, paling sedikit, dalam proses belajar yang harus menghasilkan keterampilan motorik. Perolehan kemampuan yang dimaksud, antara lain, adalah kecepatan menulis; kecepatan berbicara dan artikulasi kata-kata; menggunakan alat-alat menggunting, memotong, membuat garis dan lingkaran serta menggambar dan lain sebagainya.
  1. Beberapa Hal yang Menyangkut Kepribadian Siswa
  1. Setiap siswa memiliki individualitas biologis sendiri. Individualitas biologis mencakup konstitusi dan habitus. Konstitusi meliputi susunan kimiawi badan, susunan alat-alat perlengkapan badan, daya tahan terhadap penyakit dan daya hidup. Habitus mencakup bentuk badan yang khas untuk setiap manusia. Yang paling berperanan dalam belajar adalah daya tahan terhadap penyakit, daya hidup dan alat-alat perlengkapan badan.
  2. Kondisi mental. Kondisi ini merupakan akibat dari keadaan psikis siswa, seperti ketenangan batin atau kegelisahan batin, stabilitas atau labilitas mental. Siswa yang menikmati ketenangan batin, karena kehidupan keluarganya harmonis dan pergaulan sosialnya dengan teman sebaya lancar, akan jauh lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar.
  3. Vitalitas psikis. Vitalitas ini menunjuk pada jumlah dan kekuatan enerf: yang dimiliki seseorang dan berkaitan erat dengan daya hidup jasmani. Orang yang badannya mudah merasa lesu, cepat lelah dan kerap merasa lemah, tidak akan memiliki enersi yang banyak
  4. Lingkungan hidup. Yang dimaksudkan dengan lingkungan hidup ialah keseluruhan keadaan yang melingkupi siswa atau keadaan yang dengan kehadirannya, memberikan pengaruh pada perkembangan siswa
  5. Perkembangan Kepribadian. Siswa yang berkembang secara normal, akan menampakan ciri-ciri yang khas bagi berbagai taraf perkembangannya. Adapun ciri-ciri yang dimaksudkan ialah :
v  Differensiasi antara fungsi-fungsi psikis. Subyek mampu membedakan antara berpikir, berkemauan dan berperasaan, serta menghayati perbedaan itu.
v  Integrasi antara fungsi-fungsi psikis. Subyek mampu menggunakan mencapai tujuan hidupnya.[10]







BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Keadaan awal merupakan keseluruhan kenyataan kepribadian, sosial, institusional, dan situasional yang dalam kaitannyadengan tujuan instruksional, dapat berpengaruh (potensi) atau nyata-nyata berpengaruh (aktual) terhadap kelangsungan proses belajar-mengajar didalam kelas.
Dalam aspek keadaanawal siswa, masih dapat dibandingkan pengaruh dari faktor-faktor yang bersifat kognitif, terutama kemampuan belajar, dengan aneka faktor yang bersifat non kognitif seperti motivasi belajar dan perasaan.
Adapun aspek keadaan awal pada pihak siswa (masing-masing) individu siswa:
1)      Faktor-faktor yang langsung berkaitan dengan belajar
-          Fungsi kognitif mencakup: taraf intelegensi-daya kreatifitas, bakat khusus, organisasi kognitif, kemampuan berbahasa, daya fantasi, gaya belajar dan teknik-teknik studi.
-          Fungssi konatif-dinamik yang mencakup: karakter-hasrat-kehendak-motivasi belajar,perhatian-konsentrasi.
-          Fungsi afektif yang mencakup: temperamen, perasaan, sikap, minat.
2)      Faktor yang ikut berperan dalam belajar:
-          Fungsi sensorik-motorik
-          Beberapa hal lain yang menyangkut kepribadian siswa: individualitas biologis, kondisi mental, vitalitas psikis, lingkungan hidup dan perkembangan kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo persada.
Winkel, W, S. 1996. Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia. 






[1] W.S. Winkel, Psikologi pengajaran, (Jakarta, PT.Gramedia: 1996) hal 148.
[2] Ibid hal 149.
[3] Ibid hal 150
[4] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo persada,2006),hal:22
[5] W. S. Winkel, Op.Cit, hal:152
[6] Ibid, hal:155-156
[7] Ibid, hal:158-159
[8] M. Dalyono, Psikologi pendidikan. (Jakarta: PT. Lineka Cipta, !997), hal:188-189
[9] W. S. Winkel, Op.cit, hal: 163-169
[10] Ibid, hal: 206-217