Senin, 28 Maret 2011

keadaan awal dan peranannya dalam belajar (khusus anak)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   LATAR BELAKANG
Pada keadaan awal proses belajar-mengajar, siswa belum mempunyai kemampuan yang dijadikan tujuan dari interaksi antara guru dan siswa, bahkan terdapat suatu jurang antara tingkah laku siswa pada awal proses belajar-mengajar dan tingkah laku siswa pada akhir proses itu.
Keadaan awal itu sendiri bukan hanya meliputi kenyataan pada masing-masing siswa saja, melainkan pula kenyataan pada masing-masing guru.
Keadaan awal dapat dipandang sebagai komposisi sejumlah kenyataan yang terdapat pada awal proses belajar-mengajar tertentu dan sangat berpengaruh, sehingga keadaan awal itu adalah keseluruhan kenyataan kepribadian, sosial, instruksional yang berpengaruh terhadap kelangsungan proses belajar-mengajar didalam kelas.
Pada makalah ini kami akan mencoba membahas keadaan awal dalam peranannya terhadap belajar (khususnya pada anak).
1.2.   RUMUSAN MASALAH
  1. Apa yang dimaksud dengan keadaan awal dalam proses belajar ?
  2. Apa saja faktor-faktor yang langsung berkaitan dengan belajar ?
  3. Apa saja faktor-faktor yang ikut berperan dalam belajar ?
1.3.   TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat ikut mengetahui keadaan awal dalam individu pribadi siswa dan faktor-faktor yang ikut berperan dalam peranan belajar sehingga tercapainya tujuan belajar-mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN
            Selama proses belajar-mengajar berlangsung, terjadilah interaksi antara guru dan siswa, namun interaksi ini bercirikan khusus, karena siswa menghadapi tugas belajar dan guru harus mendampingi siswa dalam belajar. Keberhasilan proses mengajar-belajar itu, untuk sebagian dipengaruhi oleh ciri-ciri khas yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun kelompok. Kenyataan ini berakibat bagi guru. Sejauh dia harus mengikut sertakan cirri khas itu sebagi salah satu titik tolak bagi perencanaan dan pengelolaan proses belajar-mengajar.[1]
            Lebih kompleks lagi, setiap proses belajar-mengajar mempunyai tujuannya sendiri. Pada proses awal belajar-mengajar siswa belum mempunyai kemampuan yang dijadikan tujuan dari interaksi guru dan siswa, bahkan terdapat suatu jurang antara tingkah laku siswa pada proses awal belajar-mengajar dan tingkah laku siswa pada akhir belajar itu. Proses belajar mengajar justru harus menjembatani jurang itu. Jurang yang harus dijembatani ialah perbedaan antara tingkah laku awal dan tingkah laku final.[2]
            Pada proses belajar-mengajar lain kemampuan siswa menjumlahkan bilangan (tingkah laku awal) dapat menjadi titik tolak untuk membekali siswa dengan kemampuan menggalikan bilangan-bilangan yang sama (tingkah laku final). Maka, proses belajar mengajar mempunyai titik tolaknya sendiri atau berpangkal pada kemampuan siswa tertentu (tingkah laku awal) untuk dikembangkan menjadi kemampuan baru, sesuai dengan tujuan intruksional (tingkah laku final). Oleh karena itu, keadaan siswa pada awal proses belajar-mengajar tertentu (tingkah laku awal), mempunyai relevasi terhadap penetuan perumusan dan pencapaian tujuan instruksional (tingkah laku final).[3]
2.1. Pengertian Keadaan Awal dalam Proses Belajar
            “Keadaan Awal” dapat dipandang sebagai kumpulan sejumlah hal yang pada dasarnya dapat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar apapun, tetapi belum tentu semuanya jadi berdampak pada belajar-mengajar tertentu (keadaan awal potensional). [4]
            “keadaan awal” itu dapat juga dipandang sebagai komposisi sejumlah kenyataan yang terdapat pada awal proses belajar-mengajar tertentu dan nyata-nyata berpengaruh, selama guru dan siswa berinteraksi untuk mencapai tujuan intuksional khusus tertentu (keadaan awal aktual). Maka, “keadaan Awal” dapat dirumuskan sebagai keseluruhan kenyataan kepribadian, sosial, intraksional dan situasional yang nyata berpengaruh (aktual) terhadap kelangsungan proses belajar-mengajar didalam kelas.[5]
2.2. Faktor-faktor yang Langsung Berkaitan dengan Belajar
A.    Fungsi Kognitif
Salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.  
            Fungsi kognitif manusia menghadapi objek-objek dalam suatu bentuk repesentatif yang menghadirkan semua objek dalam kesadaaran.
  1. Taraf Intelegensi (daya kreativitas)
Istilah “Intelegensi” dapat diartikan dengan dua cara, yaitu:
§  Arti luas: kemampuan untuk mencapai prestasi, yang didalamnya berpikir memegang peranan. Prestasi itu dapat diberikan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pergaulan social, teknis, perdagangan, pengaturan rumahtangga dan belajar di sekolah.
§  Arti sempit: kemampuan untuk mencapai prestasi disekolah, yang didalamnya berpikir memegang peranan pokok. Intelegensi dalam arti ini, kerap disebut ”Kemampuan Intelektual” atau “Kemampuan Akademik”.
Mengenai hakikat intelegensi, belum ada kesesuaian pendapat di antara para ahli. Variasi dalam pendapat Nampak bila pandangan ahli yang satu dibandingkan dengan pendapat ahli yang lain, khususnya pendapat dari:
a)      Terman: intelegensi adalah kemampuan berfikir abstrak.
b)      Thorndike: intelegensi adalah kemampuan untuk menghubungkan reaksi tertentu dengan perangsang tertentu pula, misalnya orang mengatakan “meja”, bila melihat sebuah benda yang berkaki empat dan mempunyai permukaan datar. Maka, makin banyak hubungan (koneksi) semacam itu yang dimiliki seseorang, makin intelegenlah orang itu.
c)      Spearman: intelegensi merupakan hasil perpaduan antara faktor umum dan sejumlah faktor khusus. Faktor umum (faktor g) berperanan dalam semua bentuk berprestasi, sedangkan faktor-faktor khusus (faktor S1, S2, S3 dan seterusnya) berperanan dalam suatu bentuk berprestasi tertentu, seperti berkemampuan bahasa, berkemampuan matematis,. Perpaduan itu adalah unik untuk setiap orang, sehingga nampak perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain.[6]
Dalam kemampuan intelegensi terdapat taraf, dari taraf intelegensi yang tinggi sampai taraf intelegensi yang rendah. Banyak manfaatnya, bila taraf intelegensi para siswa diketahui; dengan demikian diketahui pula taraf prestasi yang dapat diharapkan dari siswa tertentu. Alat yang kerap digunakan dalam pengukur taraf intelegensi ialah tes intelegensi.
Tes intelegensi yang diberikan di sekolah terbagi atas dua kelompok, yaitu:
1)      Tes intelegensi umum (general ability test): disajikan soal-soal berpikir di bidang penggunaan bahasa, manipulasi bilangan dan pengamatan ruang. Hasil testing dilaporkan dalam bentuk IQ yang mencerminkan kemampuan intelektual pada umumnya. Komponen intelegensi yang ditonjolkan ialah komponen intelegensi teoritis.
2)      Tes intelegensi khusus (specific ability test; specific aptitude test): disajikan soal-soal yang terarah untuk menyelidiki, apakah siswa mempunyai bakat khusus disuatu bidang tertentu, misalnya di bidang matematika, dibidang bahasa, dibidang ketajaman pengamatan dan lain sebagainya.[7]
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain adalah:
  1. Pembawaan: pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
  2. Kematangan: tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
  3. Pembentukan: pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
  4. Minat dan pembawaan yamg khas: minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
  5. Kebebasan: kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah.
Semua faktor tersebut diatas bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang anak, kita dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut diatas. Intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.[8]       
  1. Bakat khusus
Bakat khusus merupakan kemampuan yang menonjol di suatu bidang tertentu, misalnya di bidang studi matematika atau bahasa asing. Orang sering berpendapat, bahwa semua bakat khusus merupakan sesuatu yang langsung diturunkan oleh orangtua, misalnya bakat khusus di bidang matematika diperoleh dari orangtua melalui proses generasi biologis. Pendapat itu ternyata tidak benar. Bakat khusus adalah sesuatu yang dibentuk dalam kurun waktu sejumlah tahun dan merupakan perpaduan dari taraf inteligensi pada umumnya {general ability), komponen inteligensi tertentu, pengaruh pendidikan dalam keluarga dan di sekolah, minat dari subyek sendiri. Pengaruh keturunan dalam kebanyakan bakat.
  1. Organisasi kognitif
Organisasi kognitif menunjuk pada cara materi yang sudah dipelajari, disimpan dalam ingatan; apakah tersimpan secara sistematis atau tidak. Hal ini sangat bergantung pada cara materi dipelajari dan diolah; makin mendalam dan makin sistematis pengolahan materi pelajaran, makin baiklah taraf organisasi dalam ingatan itu sendiri.
  1. Kemampuan berbahasa
Kemampuan berbahasa  mencakup kemampuan untuk menangkap inti suatu bacaan dan merumuskan pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh itu dalam bahasa yang baik, sekurang-kurangnya bahasa tertulis.
  1. Daya fantasi
Daya fantasi berupa aktivitas kognitif yang mengandung banyak pikiran dan sejumlah tanggapan, yang bersama-sama menciptakan sesuatu dalam alam kesadaran.
Daya fantasi mempunyai kegunaan kreatif, antisipatif, rekreatif dan sosial. Fantasi dapat berguna dalam menciptakan sesuatu yang baru (kreasi), dalam membayangkan kejadian mendatang dan mempersiapkan diri menghadapi kejadian itu (antisipasi), dalam melepaskan diri dari ketegangan hidup sehari-hari (rekreasi) dan dalam menempatkan diri dalam situasi hidup orang lain (sosial).
  1. Gaya belajar
Gaya bahasa merupakan cara belajar yang khas bagi siswa. Gaya belajar , mengandung beberapa komponen, antara lain gaya kognitif dan tipe belajar.
  1. Teknik-teknik studi atau tata cara belajar secara efisien dan efektif
Teknik-teknik studi atau tata cara belajar secara efisien dan efektif membantu siswa dalam belajar, lebih-lebih bila belajar di rumah. Siswa yang telah terbiasa mengikuti cara belajar yang tepat akan meningkatkan kemampuan belajar.
B.     Fungsi Konatif-Dinamik
fungsi psikis ini berkisar pada penentuan suatu tujuan dan pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari dan dihayati. Kemampuan ini menciptakan suatu kondisi dalam diri siswa, yang menjadi salah satu faktor dalam keadaan awal di pihak siswa.
1.      Karakter - hasrat - berkehendak. Semua ini berkaitan dengan arah dan tujuan dari belajar.
2.      Motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki enersi banyak untuk melakukan kegiatan belajar.[9]
3.       Konsentrasi - perhatian. Konsentrasi ialah pemusatan tenaga dan enersi psikis dalam menghadapi suatu obyek, dalam hal ini peristiwa proses mengajar-belajar di kelas dan apa yang berkaitan dengan itu. Istilah "perhatian" dapat berarti sama dengan konsentrasi, dapat pula menunjuk pada minat momentan, yaitu perasaan tertarik pada suatu masalah yang sedang dipelajari.
C.     Fungsi Afektif
  1. Temperamen. Pada setiap orang, alam perasaan memiliki sifat-sifat umum tertentu. Ada orang yang pada umumnya cenderung berperasaan sedih dan pesimis; ada pula yang biasanya berperasaan gembira dan optimis. Hal ini dikenal dengan istilah "stemming dasar" atau nada dasar alam perasaan, yang lebih kurang menetap.
  2. Perasaan. Yang dimasudkan di sini adalah perasaan momentan dan in-tensional. "Momentan" berarti bahwa perasaan timbul pada saat tertentu; "in-tensional" berarti bahwa reaksi perasaan diberikan terhadap sesuatu, seseorang atau situasi tertentu. Apabila situasi berubah, maka perasaan berganti pula.
  3. Sikap orang yang bersikap tertentu cenderung menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu sebagai hal yang berguna/berharga baginya atau tidak. Dengan demikian, siswa yang memandang belajar di sekolah pada umumnya, atau bidang studi tertentu, sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, akan memiliki sikap positif. Sebaliknya, siswa yang memandang itu semua sebagai sesuatu yang tidak berguna, akan memiliki sikap negatif.
  4. Minat. Minat diartikan sebagai kecenderungan subyek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Minat momentan ialah perasaan tertarik pada suatu topik yang sedang dibahas atau dipelajari; untuk itu kerap digunakan istilah "perhatian". Namun, perhatian dalam arri "minat momentan", perlu dibedakan dari perhatian dalam arti "konsentrasi", sebagaimana dijelaskan di atas. Antara minat dan berperasaan senang terdapat hubungan timbal balik, sehingga tidak mengherankan kalau siswa yang berperasaan tidak senang, juga akan kurang berminat, dan sebaliknya.
2.3. Faktor-faktor yang Berperan dalam Belajar
  1. Fungsi Sensorik-Motorik
Kemampuan yang dimiliki siswa di bidang psikomotorik, juga merupakan bagian dari keadaan awal di pihak siswa, yang dapat menghambat atau membantu di semua proses belajar-mengajar atau, paling sedikit, dalam proses belajar yang harus menghasilkan keterampilan motorik. Perolehan kemampuan yang dimaksud, antara lain, adalah kecepatan menulis; kecepatan berbicara dan artikulasi kata-kata; menggunakan alat-alat menggunting, memotong, membuat garis dan lingkaran serta menggambar dan lain sebagainya.
  1. Beberapa Hal yang Menyangkut Kepribadian Siswa
  1. Setiap siswa memiliki individualitas biologis sendiri. Individualitas biologis mencakup konstitusi dan habitus. Konstitusi meliputi susunan kimiawi badan, susunan alat-alat perlengkapan badan, daya tahan terhadap penyakit dan daya hidup. Habitus mencakup bentuk badan yang khas untuk setiap manusia. Yang paling berperanan dalam belajar adalah daya tahan terhadap penyakit, daya hidup dan alat-alat perlengkapan badan.
  2. Kondisi mental. Kondisi ini merupakan akibat dari keadaan psikis siswa, seperti ketenangan batin atau kegelisahan batin, stabilitas atau labilitas mental. Siswa yang menikmati ketenangan batin, karena kehidupan keluarganya harmonis dan pergaulan sosialnya dengan teman sebaya lancar, akan jauh lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar.
  3. Vitalitas psikis. Vitalitas ini menunjuk pada jumlah dan kekuatan enerf: yang dimiliki seseorang dan berkaitan erat dengan daya hidup jasmani. Orang yang badannya mudah merasa lesu, cepat lelah dan kerap merasa lemah, tidak akan memiliki enersi yang banyak
  4. Lingkungan hidup. Yang dimaksudkan dengan lingkungan hidup ialah keseluruhan keadaan yang melingkupi siswa atau keadaan yang dengan kehadirannya, memberikan pengaruh pada perkembangan siswa
  5. Perkembangan Kepribadian. Siswa yang berkembang secara normal, akan menampakan ciri-ciri yang khas bagi berbagai taraf perkembangannya. Adapun ciri-ciri yang dimaksudkan ialah :
v  Differensiasi antara fungsi-fungsi psikis. Subyek mampu membedakan antara berpikir, berkemauan dan berperasaan, serta menghayati perbedaan itu.
v  Integrasi antara fungsi-fungsi psikis. Subyek mampu menggunakan mencapai tujuan hidupnya.[10]







BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Keadaan awal merupakan keseluruhan kenyataan kepribadian, sosial, institusional, dan situasional yang dalam kaitannyadengan tujuan instruksional, dapat berpengaruh (potensi) atau nyata-nyata berpengaruh (aktual) terhadap kelangsungan proses belajar-mengajar didalam kelas.
Dalam aspek keadaanawal siswa, masih dapat dibandingkan pengaruh dari faktor-faktor yang bersifat kognitif, terutama kemampuan belajar, dengan aneka faktor yang bersifat non kognitif seperti motivasi belajar dan perasaan.
Adapun aspek keadaan awal pada pihak siswa (masing-masing) individu siswa:
1)      Faktor-faktor yang langsung berkaitan dengan belajar
-          Fungsi kognitif mencakup: taraf intelegensi-daya kreatifitas, bakat khusus, organisasi kognitif, kemampuan berbahasa, daya fantasi, gaya belajar dan teknik-teknik studi.
-          Fungssi konatif-dinamik yang mencakup: karakter-hasrat-kehendak-motivasi belajar,perhatian-konsentrasi.
-          Fungsi afektif yang mencakup: temperamen, perasaan, sikap, minat.
2)      Faktor yang ikut berperan dalam belajar:
-          Fungsi sensorik-motorik
-          Beberapa hal lain yang menyangkut kepribadian siswa: individualitas biologis, kondisi mental, vitalitas psikis, lingkungan hidup dan perkembangan kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo persada.
Winkel, W, S. 1996. Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia. 






[1] W.S. Winkel, Psikologi pengajaran, (Jakarta, PT.Gramedia: 1996) hal 148.
[2] Ibid hal 149.
[3] Ibid hal 150
[4] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo persada,2006),hal:22
[5] W. S. Winkel, Op.Cit, hal:152
[6] Ibid, hal:155-156
[7] Ibid, hal:158-159
[8] M. Dalyono, Psikologi pendidikan. (Jakarta: PT. Lineka Cipta, !997), hal:188-189
[9] W. S. Winkel, Op.cit, hal: 163-169
[10] Ibid, hal: 206-217

Tidak ada komentar:

Posting Komentar