Senin, 09 Mei 2011

eksistensi akidah dan akidah sebagai pandangan hidup

Tugas Mandiri Dosen Pengasuh
Pendidikan Akidah H. Mubin



TUGAS MIDLE
PENDIDIKAN AKIDAH














Oleh:
Lia Munawarah
(1001250654)

KEMENTERIAN AGAMA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
TAHUN AKADEMIK 2010/2011




TUGAS MIDLE
PENDIDIKAN AKIDAH

1. Jelaskan eksistensi Akidah Tauhid dalam diri manusia atau jiwa manusia, sertakan dalil Alqurannya!!!
Jawab:
Seperti kita ketahui pokok-pokok kepercayaan dalam islam ada enam yakni:
- Iman kepada Allah
- Iman kepada para malaikat-Nya
- Iman kepada Kitab-kitab-Nya
- Iman kepada para Rasul-Nya
- Iman kepada Hari akhir
- Iman kepada Qadha dan Qadar
Enam pokok kepercayaan itu menjadi dasar dalam kehidupan seorang muslim. Pokok dari iman kepada Allah terkandung dalam Tauhid. Tauhid adalah keyakinan tentang satu atau Esanya Tuhan.
Tauhid merupakan pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukannya. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhid lah yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti. Allah berfirman:
         •    •      
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Salah satu keunggulan Islam dibanding semua agama lain di dunia adalah identitas tauhid yang melekat di dalamnya. Sebagai agama tauhid, Islam menempatkan keesaan Allah pada posisi tertinggi. Prinsip itu dipertegas dengan memposisikan tauhidullah pada urutan pertama rukun Islam.
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa Pencipta alam semesta ini Allah, Bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran Wujud(keberadaan)Nya dan wahdaniyat(keesaan)Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asdma’ dan Shifat-Nya.
Tauhid ialah pemurnian ibadah kepada Allah, yaitu menghambakan diri hanya kepada allah secara murni dan konsekuen, dengan mentaati segala perintah-Nya dan enjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah. Dan sesungguhnya paraa rasul itu diutus untuk menegakkan tauhid dalam penegrtian tersebut, mulai dari rasul pertama hingga rasul terakhir, nabi Muhammad SAW. Allah berfirman:
               
“dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".(Al-Anbiya:25)
Kalimat tauhid merupakan esensi dari ajaran Islam. Ia adalah fondasi dari seluruh bangunan Islam. Pandangan hidup tauhid bukan saja mengesakan Allah, melainkan juga meliputi:
• keyakinan kesatuan penciptaan,
• kesatuan kemanusiaan,
• kesatuan tuntunan hidup,
• kesatuan tujuan hidup ,
• yang semuanya merupakan derivasi dari kesatuan ketuhanan.
Wujud dari kesatuan ketuhanan itu terpancar jelas dari persaksian manusia tauhid bahwa laailaahaillallaah, tidak ada tuhan selain Allah. Dengan mengatakan “la”, berarti manusia tauhid menyatakan “tidak” terhadap segala sumber keyakinan dan kekuatan nonilahiah. Jadi, pada setiap yang bukan tauhid, manusia tauhid harus berani mengatakan tidak. Sehingga, tidak ada tuhan, tidak ada kekuatan lain kecuali Allah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Itu berarti, sebelum meyakini Allah, kita wajib mengingkari yang selain Allah.
Karena itu, karakteristik pertama manusia tauhid adalah sikap penolakannya terhadap pedoman hidup yang datangnya bukan dari Allah. Allah berfirman:
      ••                     
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(Al-Baqarah: 256)
Dengan meyakini Allah sebagai sumber kebenaran, manusia tauhid harus berani mengatakan tidak pada semua ketidakbenaran. Ia harus berani melawan kebatilan, kekufuran, kebobrokan, keburukan. Tiada rasa takut untuk melakukan itu karena ketakutan hanya ditujukan kepada Allah.
Berikut adalah peranan akidah dalam diri manusia berdasarkan poin dan dimensi, yakni:
 Sisi Pemikiran.
Akidah menganggap manusia sebagai makhluk yang terhormat. Adapun kesalahan yang terkadang menimpa manusia, adalah satu hal yang biasa dan bisa diantisipasi dengan taubat. Atas dasar ini, akidah meyakinkannya bahwa ia mampu untuk meningkatkan diri dan tidak membuatnya putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya
Akidah telah berhasil memerdekakan manusia dari penindasan politik para penguasa zalim dan membebaskannya dari tradisi menuhankan manusia lain.
Akidah juga memberikan kebebasan penuh kepadanya. Namun ia membatasi kebebasan itu dengan hukum-hukum syariat, penghambaan kepada Allah supaya hal itu tidak menimbulkan kekacauan.
Melalui proses pembebasan pemikiran ini, akidah melakukan proses pembinaan manusia. Ia memberikan kedudukan yang layak kepada akal, mengakui peranannya dan membuka cakrawala pemikiran yang luas baginya. Di samping itu, akidah juga membuka jendela keghaiban baginya, serta menjadikan renungan (tafakkur) ini sebagai ibadah yang paling utama.
Tidak sampai di situ saja, akidah juga mengarahkan daya akal untuk menyingkap rahasia-rahasia sejarah yang pernah terjadi pada umat dan bangsa-bangsa terdahulu, dan merenungkan hikmah yang tersembunyi di balik syariat guna mengokohkan keyakinan muslim terhadap syariat.
Dari sisi lain, akidah mendorong manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan dan mengikat ilmu pengetahuan itu dengan iman. Karena memisahkan ilmu pengetahuan dari iman akan menimbulkan akibat jelek.
 Sisi Sosial.
Akidah telah berhasil melakukan perombakan besar dalam sisi ini. Di saat masyarakat Jahiliah hanya mementingkan diri mereka dan kemaslahatannya, dengan mengenal akidah, mereka relah mengorbankan segala yang mereka miliki demi agama dan kepentingan sosial.
Akidah telah berhasil menghancurkan tembok pemisah yang memisahkan antara ketamakan manusia akan kemaslahatan-kemaslahatan pribadinya dan jiwa berkorban demi kemaslahatan umum dengan cara menumbuhkan rasa peduli sosial dalam diri setiap individu.
Akidah telah berhasil menumbuhkan rasa peduli sosial ini dalam diri setiap individu dengan cara-cara berikut: menumbuhkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kepentingan orang lain, menanamkan jiwa berkorban dan mengutamakan orang lain dan mendorong setiap individu muslim untuk hidup bersama.
Dari sisi lain, akidah telah berhasil merubah tolok ukur hubungan sosial antar anggota masyarakat, dari tolok ukur hubungan sosial yang berlandaskan fanatisme, suku, warna kulit, harta dan jenis kelamin menjadi hubungan yang berlandaskan asas-asas spiritual. Yaitu takwa, fadhilah dan persaudaraan antar manusia.
Akidah telah berhasil merubah kondisi pertentangan dan pergolakan yang pernah melanda masyarakat insani menjadi kondisi salang mengenal dan tolong menolong. Dengan ini, mereka menjadi sebuah umat bersatu yang disegani oleh bangsa lain.
Di samping itu, akidah Islam juga telah berhasil merubah tradisi-tradisi Jahiliah yang menodai kehormatan manusia dan menimbulkan kesulitan.
 Sisi Kejiwaan.
Akidah dapat mewujudkan ketenangan dan ketentraman bagi manusia meskipun bencana sedang menimpa.
Dalam hal ini akidah telah menggunakan berbagai cara dan metode untuk meringankan bencana-bencana itu di mata manusia. Di antara cara-cara tersebut adalah menjelaskan kriteria dunia;bahwa dunia ini adalah tempat derita dan ujian yang penuh dengan bencana dan derita yang acap kali menimpa manusia. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi manusia untuk mencari kesenangan dan ketentraman di dunia ini.
Atas dasar ini, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga demi meraih kesuksesan dalam ujian Allah di dunia.
Dan di antara cara-cara tersebut adalah akidah menegaskan bahwa setiap musibah pasti membuahkan pahala, dan menyadarkan manusia bahwa musibah terbesar yang adalah musibah yang menimpa agama.
Dari sisi lain, akidah juga membebaskan jiwa manusia dari segala ketakutan yang dapat melumpuhkan aktifitas, membinasakan kemampuan dan menjadikannya cemas dan bingung.
Begitu juga akidah memotivasi manusia untuk mengenal dirinya. Karena tanpa tanpa itu, sulit baginya untuk dapat menguasai jiwa dan mengekangnya, dan tidak mungkin baginya dapat mengenal Allah secara sempurna.
Dari pembahasan-pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penyakit-penyakit jiwa yang berbahaya seperti fanatisme, rakus dan egoisme jika tidak diobati, akan menimbulkan akibat-akibat sosial dan politik yang berbahaya, seperti fitnah yang pernah menimpa muslimin di Saqifah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Ali a.s.
 Sisi Akhlak
Akidah memiliki peranan yang besar dalam membina akhlak setiap individu muslim sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang pahala dan siksa disesuaikan dengannya, dan bukan hanya sekedar wejangan yang tidak menuntut tanggung-jawab. Lain halnya dengan aliran-aliran pemikiran hasil rekayasa manusia biasa yang memusnahkan perasaan diawasi oleh Allah dalam setiap gerak dan rasa tanggung jawab di hadapan-Nya. Dengan demikian, musnahlah tuntunan-tuntunan akhlak dari kehidupan manusia. Karena akhlak tanpa iman tidak akan pernah teraktualkan dalam kehidupan sehari-hari.
Demi mendorong masyarakat berakhlak terpuji dan meninggalkan akhlak yang tidak mulia, akidah mengikuti bermacam-macam metode dalam hal ini:
• menjelaskan efek-efek uhkrawi dan duniawi dari akhlak yang terpuji dan tidak terpuji.
• memperlihatkan suri teladan yang baik kepada mereka dengan tujuan agar mereka terpengaruh oleh akhlaknya yang mulia dan mengikuti langkahnya.
           •          •         
" Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)

2. Jelaskan pengertian Akidah sebagai pandangan hidup atau way of life, bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari(contoh dalam kehidupan sehari-hari)?
Jawab:
Dari segi pandangan hidup (way of life) Akidah atau keyakinan adalah suatu nilai yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya sendiri, bahkan melebihinya. Hal ini terbukti bahwa orang rela mati untuk mempertahankan keyakinannya.
Akidah lebih mahal daripada segala sesuatu yang dimiliki manusia. Akidah yang sudah mendarah daging bagi pemeluknya tidak bisa dibeli atau ditukarkan dengan benda apapun. Manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari kepercayaan dan keyakinan. Tanpa adanya kepercayaan dan keyakinan, mustahil manusia bisa hidup. Orang tidak akan berani makan dan minum sebelum lebih dahulu yakin dan percaya bahwa makanan dan minuman itu tidak berbahaya bagi dirinya. Demikian pula segala kegiatan manusia lainnya yang bertalian dengan hidup dan kehidupan.
Ketergantungan manusia kepada kepercayaan dan keyakinan dapat melebihi ketergantungannya terhadap makanan dan minuman. Diantara segala macam kepercayaan dan keyakinan, kepercayaan akan Zat Ghaib yang Maha kuasa menempati posisi paling dalam dari lubuk hati manusia. Memang, pada hakikatnya secara naluri (fitrah) manusia meyakini wujud Tuhan sebagai Zat Mutlak. Manusia adalah makhluk bertuhan. Dalam hal ini semua manusia sama, tak ada bedanya, tetap bertuhan meskipun dalam istilah-istilah yang berbeda.
Tuhan adalah tempat pelarian terakhir bagi manusia apabila kandas dan terbentur dengan kegagalan. Seperti yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:
     •              • 
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.”(al-israa: 67)
Kepercayaan dan keyakinan yang tumbuh dalam lubuk hati yang paling dalam itu disebut akidah. Percaya kepada Allah dan rasul dengan segala firman-Nya disebut iman mujmal, yakni kepercayaan secara global. Iman semacam ini dianggap sah oleh orang awwam. Sebab dengan beriman kepada Allah dan rasul-Nya dengan segala firman-Nya, berarti dengan sendirinya percaya kepada rukun-rukun iman yang enam lainnya yakni malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhirat dan takdir. Semua tercakup dalam firman Allah dan sabda-Nya. Percaya pada rukun-rukun yang enam tersebut secara rinci disebut iman mufasshal.
Implementasi akidah tauhid dalam kehidupan sehari-hari misalnya dapat kita lihat dari sikap dan sifat dari jiwa seseorang, karena kalau tauhid sudah masuk dan meresap kedalam jiwa seseorang, maka akan tumbuh sifat-sifat terpuji, sebut saja sifat ikhlas. Sifat iklas akan karunia dan nikmat yang diberikan Allah SWT, sifat ikhlas beribadah karena Allah SWT, bukan mempersekutukannya dengan yang lain, sifat ikhlas terhadap ketetapan yang diberikan padanya, dan berbagai ikhlas lainnya. Tauhid sumber kekuatan jiwa, karena tauhid memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya, sebab jiwanya penuh harap kepada Allah saja, percaya dan tawakal kepada Nya, ridho atas (ketentuan) Nya,:
(رواه الترمذي). إذا سألت فاسأل الله, وإذا استعنت فاستعن بالله.
“Apabila kamu meminta mintalah kepada Allah, dan apabila kamu minta tolong minta tolonglah kepada-Nya.” (HR At-Tirmidziy)
Sebagian besar kaum muslimin yang tidak memiliki prinsip dan ketetapan tauhid mereka berbondong-bondong berziarah kekuburan kuburan para wali yang dikeramatkan, meminta (berdo`a) kepada mereka supaya hajat mereka dikabulkan oleh Allah Ta`aalaa. Mereka menjadikan para wali tersebut sebagai wasilah (perantara) antara mereka dengan Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang telah dilakukan oleh kafir Quraisy dahulu. Namun tanpa disadari sebagian besar manusia telah melakukannya juga.
Tauhid menutup rapat celah celah kekhawatiran terhadap rizki, jiwa dan keluarga, sehingga seorang yang bertauhid tadi jalurnya lurus, tidak ada rasa takut, sebab keta`atan tidak bisa mengurangi reziki seseorang.
( لأنعام: الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون. ) 82.
“ Orang-orang beriman itu tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik) mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk.”( Al-Ana’am : 82)
Kedua, manusia tauhid memiliki komitmen utuh pada Tuhannya. Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus dari segala sumber. Allah lah satu-satunya sumber nilai. Segala sesuatu bersumber dari Allah dan segala sesuatu pasti akan kembali kepada Allah. Apa yang dikehendaki Allah, akan menjadi pedoman manusia tauhid dalam melangkahkan kaki menyusuri jalan kehidupan. Misalnya saja, Allah mencintai keindahan, maka keindahan itu pula yang akan digelorakan manusia tauhid. Keindahan itu bisa berwujud dalam perilaku yang santun, tampilan yang bersih, sikap yang tawadhu’, atau tutur kata yang sopan. Manusia tauhid tak mau menerima otoritas dan petunjuk selain dari Allah. Ia berusaha secara maksimal untuk menjalankan pesan dan perintah Allah sesuai dengan kadar kemampuan yang ada.
Ketiga, manusia tauhid mempunyai tujuan hidup yang jelas. Dengan bertauhid, seorang muslim juga memproklamasikan kehidupannya hanya untuk Allah. Deklarasi itu berbunyi inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘aalamin, laa syariikalahuu wa bidzaalika umirtu wa ana awwalul muslimiin. Artinya: “Sesungguhnya shalatku dan ibadahku, hidupku dan matiku, aku persembahkan semata-mata hanya kepada Allah, Tuhan sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku ini termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Setiap fenomena kehidupan di alam semesta seperti siang dan malam, lautan dan daratan, matahari, bumi, bulan, bintang, manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh isi alam semesta dianggap manusia tauhid sebagai ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan adanya tauhidul wujud (kesatuan eksistensi). Eksistensi Allah terpapar jelas secara horizontal. Wujud Allah tidak hanya di atas. Wujud Allah ada dimana-mana.
Manusia tauhid tak hanya bertindak secara vertikal, tetapi juga horizontal. Ia senantiasa menebarkan rahmat ke alam semesta. Baginya, alam semesta adalah arena memperbanyak amal shaleh. Ia berupaya sekuat tenaga agar mampu memberikan manfaat seluas-luasnya kepada seluruh umat manusia beserta bumi tempatnya berpijak. Makanya, tak ada cerita manusia tauhid merusak lingkungan. Bohong apabila manusia tauhid buang sampah sembarangan. Dusta jika manusia tauhid berbuat kejahatan. Sebab, jika ia melakukan itu semua, berarti ia mengingkari deklarasinya menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan.
Keempat, manusia tauhid juga mempunyai misi jelas tentang kehidupan yang hendak dibangun bersama manusia lain. Misi manusia tauhid adalah mewujudkan sebuah orde kehidupan yang sesuai dengan keinginan Allah. Maka, perubahan harus selalu didengungkan oleh manusia tauhid. Tentu, bukan perubahan menuju keburukan, tetapi perubahan menuju kebaikan. Ia harus terpanggil untuk menjebol kejumudan masyarakat. Ia harus tergerak untuk mengubah tatanan masyarakat menjadi tatanan yang berkeadilan sosial, berperikemanusiaan, dan berkesejahteraan menuju tatanan yang beradab; bukannya tatanan yang biadab. Pembentukan orde sosial yang adil dan etis adalah tugas yang diperintahkan Allah melalui Al Quran.
Manusia tauhid tak boleh diam kala kerusakan melanda bumi. Ia harus terlibat dalam upaya jihad memberantas segala kemunkaran di sekelilingnya. Tetapi, itu bukanlah tujuan akhir, sebab tujuan akhir dari perjalanan manusia tauhid adalah kebahagiaan akhirat. Untuk itu, totalitas jihad dengan mengerahkan segala daya upaya tak boleh berhenti dikumandangkan demi terciptanya nilai-nilai yang diridhai Allah. Allah berfirman:
                                              
“ Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ”(At-Taubah:40)
Kelima, manusia tauhid bersikap progresif dengan selalu menilai kualitas kehidupannya. Apabila ditemukan unsur-unsur syirik, ia akan membongkar kehidupannya dan membangunnya kembali agar sesuai dengan pesan-pesan Illahi. Ia tak menganggap dirinya sebagai orang besar karena yang besar hanyalah Allah. Anggapan seperti itulah yang menggiringnya untuk selalu merasa kecil di hadapan Allah. Karenanya, ia tidak akan menyombongkan diri, sebab yang berhak sombong hanyalah Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar