Senin, 09 Mei 2011

filsafat manusia dan masyarakat


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Filsafat merupakan salah satu bidang yang selalu menusuk nurani kehidupan sesuai dengan zamannya. Filsafat manusia merupakan bagian integral dari filsafat yang selalu mempertanyakan kodrat manusia. Di bidang ini pun terdapat pengertian dan pemahaman yang selalu berkembang.
Manusia (individu) mempunyai hubungan antara masyarakatdan anggota-anggota bersifat resiprok atau timbal balik. Didalam masyarakat yang terdiri dari unsur-unsur pembentuk  seorang manusia individual, terdapat suatu susunan hierarkis dimana ada unsure yang menduduki tempat tertinggi karena peranannya yang dominan untuk menentukan cita-cita diri sebagai pribadi, sehingga terjadi kesatuan yang utuh dari jejak pengalaman.
Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsure pokok yang membentuknya, seperti materialisme, spiritualisme, individualisme, atruisme, liberalism dan sosialisme.
B.    RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini kami membahas  tentang:
1)      Bagaimana system pemikiran filsafat manusia?
2)      Bagaimana system pemikiran filsafat tentang masyarakat?
3)      Apa itu materialisme?
4)      Apa itu spiritualisme?
5)      Apa itu individualisme?
6)      Apa itu atruisme?
7)      Apa itu liberalisme?
8)      Apa itu sosialisme?
C.    TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah agar para pembaca dapat mengetahui system-sistem pemikiran filsafat manusia dan masyarakat dalam hal materialism, spiritualisme, individualism, atruisme, liberalism, dan sosialisme.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Sistem-sistem Pemikiran Filsafat Tentang Manusia
Adapun pandangan beberapa filsuf tentang manusia, yaitu:
1)     Plato
Menurut Plato, martabat manusia sebagai pribadi tidak terbatas pada mulainya jiwa bersatu dengan raga. Jiwa telah berada lebih dahulu sebelum jatuh kedunia dan disatukan dengan badan. Maka bagi Plato, yang disebut manusia atau pribadi adalah jiwa sendiri. Sedangkan badan oleh Plato dianggap sebagai alat yang berguna sewaktu masih didunia ini. Tetapi badan itu, disamping berguna, sekaligus juga memberati usaha jiwa untuk mencapai kesempurnaan, yaitu kembali kepada dunia ide.
Jiwa menurut Plato sudah berada sebelum bersatu dengan badan. Persatuan jiwa dengan badan merupakan hukuman karena kegagalan jiwa untuk memusatkan perhatiannya kepada dunia ide.
Jadi manusia mempunyai “pra – eksistensi”, yaitu sudah berada sebelum dipersatukan dengan badan dan jatuh kedunia ini.
2)     Thomas Aguinas
Pendapat Plato diatas ditolak Thomas Aguinas. Bagi Aguinas, yang disebut manusia sebagai pribadi adalah “makhluk individual yang dianugerahikodrat rasional”. Yang disebut makhluk individual ialah makhluk yang merupakan kesatuan antara jiwa dan badan. Maka sejauh jiwa sudah bersatu dengan badan, yaitu sudah hidup meskipun belum dapat berdikari, haruslah disebut sebagai pribadi yang utuh. Aguinas tidak ada pra – eksistensi jiwa sebelum dipersatukan dengan badan.
Menjadi jelas pula bahwa yang dimaksud dengan pribadi oleh Aguinas adalah masing-masing manusia individual; manusia yang konkret dan riil. Manusia adalah suatu substansi yang komplet terdiri dari badan (materia) dan jiwa (forma).

3)     David Hume
Kalau David Hume berbicara mengenai “pribadi” yang dimaksudkannya adalah identitas diri, yaitu kesamaan jati diri manusia dalam kaitannya dengan waktu. Hume berpegang teguh bahwa pengetahuan ilmiah hanya dapat dicapai dengan titik tolak pengalaman inderawi, yaitu dari penglihatan, penciuman, perabaan, pencicipan dan pendengaran. Dari penyelidikannya dia menyimpulkan bahwa “pribadi” manusia hanyalah suatu kumpulan persepsi yang berbeda-beda, yang saling mengartikan secara berurutan dengan kecepatan yang luar biasa, selalu mengalir dan bergerak.[1]
B.       Sistem-sistem Pemikiran Filsafat tentang Masyaratkat
            Adapun sistem-sistem pemikiran filsafat tentang masyarakat oleh para tokoh-tokoh diantaranya:
a)    Jhon Dewey
            Bagi Jhon Dewey pribadi tidak hanya seorang individu tapi berarti juga  seseorang yang bertindak sebagai wakil dari suatu grup atau masyarakat. Seorang individu hanya bisa disebut pribadi kalau ia mengemban dan menampilkan nilai-nilai social masyarakat tertentu. Maka ada hubungan erat antara martabat seseorang sebagai pribadi dan perannya dalam masyarakat. Gagasan mengenai individu haruslah memasukkan nilai-nilai masyarakat. Bukannya memandang masyarakat sebagai penghalang bagi kebebasan dan perkembangan individual. (individu adalah bagian dari masyarakat).
b)   Thomas Hobbes
            Menurut Thomas Hobbes (1588-1679) masyarakat bukan muncul berdasarkan kodrat tetapi hanyalah ciptaan manusia sendiri yang saling mengadakan kontak social untuk membentuk masyarakat tertata.
c)    Karl Popper
            Masyarakat karl Popper kesatuan social merupakan acuan teoritis :”semua gejala social, termasuk yang bersifat kolektif, haruslah di analisis berdasarkan individu-individu dan tindakan-tindakan serta hubungan-hubungan mereka.[2]
1.1.Materialisme
Menurut materialism, hakikat benda adalah materi benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit dan sebangsanya muncul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada benda. Bagi materialism, roh, jiwa itu malahan tidak diakui adanya, tentu saja termasuk Tuhan. Materialisme tidak mengangkat adanya spirit, roh, termasuk Tuhan. Akan tetapi, spirit, Tuhan itu muncul dari benda. Jadi, roh, Tuhan spirit itu bukan hakikat.[3] 
Aliran ini berpandangan bahwa seluruh realitas terdiri dari materi. Artinya, tiap benda atau peristiwa dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses materiil filsafat materialis merupakan salah satu sistem pemikiran tertua dalam sejarah manusia. Karakteristiknya yang paling mendasar adalah anggapan bahwa materi itu absolut. Materialisme merupakan aliran terpenting dan sangat berpengaruh sepanjang abad XIX, bahkan sampai dewasa ini.
Materialisme merupakan suatu istilah dalam filsafat ontology yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas spiritual dalam metafisika, teori nilai fisiologi, epistemology, atau penjelasan historis. Maksudnya suatu keyakinan bahwa didunia ini tidak ada sesuatu selain materi yang sedang bergerak.[4]
Didalam bentuknya yang paling ekstrem. Materialisme adalah pandangan yang menyatakan  bahwa apapun yang ada tentulah bersifat fisik atau material. Dan pandangan ini dibalik tesis yang menyatakan bahwa semua ungkapan mengenai peristiwa mental adalah pernyataan yang berupa makna atau kalau bermakna pastilah sinonim dengan ungkapan mengenai benda-benda fisik.[5]
Pada sisi ekstrem yang lain, materialisme adalah sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa pikiran (roh, kesadaran, jiwa) hanyalah materi yang sedang bergerak.
 Menurut Hornby (ed) (1974:534) bahwa materialisme adalah theory, belief, that only material thinks exist (teori atau kepercayaan bahwa yang ada hanyalah benda-benda material saja).
Beberapa macam materialisme, antara lain:
·           Materialisme rasionalistik: menyatakan bahwa seluruh realitas dapat dimengerti seluruhnya berdasarkan ukuran dan bilangan (jumlah).
·           Materialisme mitis atau biologis: menyatakan bahwa dalam peristiwa-peristiwa maretial terdapat misteri yang mengungguli manusia.
·           Materialisme parsial: menyatakan bahwa pada sesuatu yang material tidak terdapat karakteristik khusus unsur (material atau formal).
·           Materialisme antropologis: menyatakan bahwa jiwa itu tidak ada karena yang dinamakan jiwa pada dasarnya hanyalah materi atau perubahan-perubahan fisik-kimiawi materi.
·           Materialisme dialektik: menyatakan bahwa yang real hanyalah materi semata.
·           Materialisme historis: menyatakan bahwa hakikat sejarah terjadi karena proses-proses ekonomis.
·           Materialisme sebagai teori menyangkal realitas yang bersifat rohaniah, sedangkan materialisme metode menciba membuat abstraksi hal-hal yang bersifat material.[6]
1.2.Spritualisme
Spiritualisme (inggris) dan spiritualis (latin), dari spiritus yang artinya “roh”. Spiritualisme, secara filosofis kadang di sinonimkan dengan idealism. Secara teologis (agama) istilah ini merupakan istilah lain dari roh. Didalam filsafat spiritualisme merupakan gerakan reaksi lawan positivisme,
Dikatakan oleh Hornby (1974: 831) bahwa spiritualisme ialah belief in the possibility of receiving messages from the spirits of the dead (keyakinan kemungkinan dapat diterima adanya wahyu yang datang dari roh-roh orang yang sudah meninggal yang bersifat rohaniah atau spiritualisme).
  Spiritualisme menganggap bahwa realitas puncak yang mendasari realitas eksis, yaitu roh atau jiwa dunia yang meliputi makrokosmos dengan semua aktivitasnya. Jadi, roh atau spirit merupakan kuasa dari setiap aktivitas, aturan, dan arahan. Ia juga merupakan satu-satunya penjelasan rasionaldan lengkap tentang eksistensi makrokosmos. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa hanya roh absolut sajalah yang eksis, sedang yang lain hanyalah produk dari roh absolut itu.[7]
1.3.Individualisme
Jhon Stuart Mill (1805-1873) adalah pendukung tegar individualisme. Kebebasan individu, menurut Mill adalh nilai tertinggi yang dimiliki manusia dan tidak dapat ditawar. Kesejahteraan dan kebebasan individu, yang berlangsungnya sangat mudah terancam oleh campur tangan masyarakat , merupakan keprihatinan yang utama. Bahkan menurut Mill, demokrasi pun tidak selalu merupakan jaminan bagi kebebasan dan hak individu. Sebab didalam masyarakat demokratis ada bahaya bahwa kemauan minoritas digilas dan ditindas oleh kemauan mayoritas masyarakat.
Prinsip mill adalah: pertama, bahwa individu tidak bertanggung jawab kepada masyarakat atas tindakan-tindakannya sejauh tindakan tersebut hanya menyangkut dirinya sendiri dan tidak mengenai orang lain..kedua, bahwa terhadap tindakan-tindakan yang merugikan kepentingan orang lain, pelaku bertanggung jawab dan bisa dikenai sanksi sosial atau sanksi hokum bila masyarakat memandang bahwa salah satu dari kedua alternative tersebut merupakan saran bagi perlindungan hak-hak orang lain.
Menurut Mill, setiap orang mempunyai hak atas cara hidup, berpendapat dan bertindak yang berbeda dari tradisi dan kebiasaan orang lain. Kemampuan untuk mewujudkan kebebasannya merupakan ciri khas manusia. Apapun yang dipilih manusia individual haruslah dihormati dan tidak diganggu gugat oleh masyarakat, meskipun pilihan itu berbeda dari kebanyakan orang. Mill juga menegaskan, keindahan tidak terletak pada keseragaman anggota-anggota itu sesuai dengan bakat dan pertimbangan pribadi masing-masing.[8]
1.4.Altruisme
Asal  dari kata alteri (Lt) yang berarti others, orang lain. Aliran ini merupakan lawan dari egois. Altruisme adalah suatu paham atau aliran yang prinsipnya mengutamakan kepentingan orang lain sebagai lawan dari kependingan diri sendiri. Perbuatan yang dianggap atau dinilai baik oleh aliran ini, dengan sendirinya adalah perbuatan yang mengutamakan kepentingan orang lain, walaupun dirinya sendiri menderita atau menanggung rugi (The principle or practice of unselfish concert for or devotion to the welfare of others).[9]
Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan. Ada tiga komponen dlm altruisme, yaitu loving others, helping them doing their time of need, dan making sure that they are appreciated.
Pendapat-pendapat para ilmuan diantaranya:
a.       Baston (2002)
 Menurut Baston dalam (Carr, 2004), altruisme adalah respon yang menimbulkan positive feeling, seperti empati. Motivasi altruistik tersebut muncul karena ada alasan internal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain. Alasan internal tersebut tidak akan memunculkan egoistic motivation (egocentrism).
b.      Mandeville
Menurut Mandeville, altruisme, yang memiliki motivasi dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan orang lain tidak mungkin terjadi (atau hanya khayalan). Menurutnya motivasi untuk semua hal didasari oleh egoistic. Tujuan akhir selalu untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi “seseorang menolong orang lain hanya untuk keuntungan dirinya”.
c.       Myers (1996)
Altruisme Menurut Myers (1996) altruisme adalah salah satu tindakan prososial dengan alasan kesejahteraan orang lain tanpa ada kesadaran akan timbal-balik (imbalan). Selain itu Myer  menjelaskan karakteristik dari tingkah laku altruisme, antara lain adalah sebagai berikut :
  • Emphaty, altruisme akan terjadi dengan adanya empati dalam diri seseorang. Seseorang yang paling altruis merasa diri mereka bertanggung jawab, bersifat sosial, selalu menyesuaikan diri, toleran, dapat mengontrol diri, dan termotivasi membuat kesan yang baik.
  • Belief on a just world, karakteristik dari tingkah laku altruisme adalah percaya pada “a just world”, maksudnya adalah orang yang altruis percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik dan dapat diramalkan bahwa yang baik selalu mendapatkan ”hadiah” dan yang buruk mendapatkan ”hukuman”. Dengan kepercayaan tersebut, seseorang dapat denga mudah menunjukkan tingkah laku menolong (yang dapat dikategorikan sebagai ”yang baik”).
  • Social responsibility, setiap orang bertanggungjawab terhadap apapun yang dilakukan oleh orang lain, sehingga ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, orang tersebut harus menolongnya.
  • Internal LOC, karakteristik selanjutnya dari orang yang altruis adalah mengontrol dirinya secara internal. Berbagai hal yang dilakukannya dimotivasi oleh kontrol internal (misalnya kepuasan diri).
  • Low egocentricm, seorang yang altruis memiliki keegoisan yang rendah. Dia mementingkan kepentingan lain terlebih dahulu dibandingkan kepentingan dirinya.[10]
1.5.Liberalisme
Para pendukung sikap revolusioner, yang biasanya disebut kaum liberal, berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya baik dan bisa mencapai kesempurnaan. Mereka memastikan bahwa sumber segala ketidakberesan didalam kehidupan sosial terdapat didalam lingkungan manusia. Bukannya didalam diri atau kodrat manusia sendiri.
Perbaikan keadaan manusia dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi dan sains. Tradisi dianggapnya sebagai sumber kekolotan yang tidak lain hanya merintangi kemajuan dan menghambat perkembangan serta cara kerja yang efisien. “Budi” manusia dan “Hak asasi” manusia telah menjadi panji-panji dan yel-yel perjuangan mereka untuk mengatasi segala macam persoalan manusia. Maka bagi mereka, kemajuan berarti pergeseran dari tingkah laku tradisional ke rasional.
Berkaitan dengan masalah kehidupan kemasyarakatan, para pendukung revolusi atau kaum liberal mempunyai pendekatan yaitu menekankan hak-hak individual, maka persetujuan dari bawahan menjadi syarat mutlak bagi penguasa.[11]     
1.6.Sosialisme
Oleh karena masyarakat terdiri dari manusia, maka ada yang berpendapat bahwa masyarakat yang menentukan baik-buruknya tindakan manusia yang menjadi anggotanya. Lebih jelas lagi apa yang lazim dianggap baik oleh masyarakat tertentu, inilah yang disebut sosialistis dalam etika.
Harus diakui, bahwa aliran ini banyak mengandung kebenaran. Hanya secara ilmiah kurang memuaskan, karena tidak umum. Kerap kali suatu adat- kebiasaan dalam suatu masyarakat dianggap baik, sedangkan dalam masyarakat dianggap tidak baik. Lihat saja perbedaan adat-istiadat dari bangsa timur dan barat, bahkan antara suku-suku ditanah air kita, disini kami tidak mengatakan, adat-istiadat mana yang baik atau tidak baik, kami hanya hendak menegaskan bahwa adat-istiadat sukar dijadikan ukuran umum, karena tidak umumnya itu.[12]
  

  












BAB III
ANALISIS MATERI
            Adapun pemikiran filsafat tentang manusia adalah bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan dan saling berhubungan antara badan dan jiwa.
Pemikiran filsafat tentang masyarakat menyatakan  bahwa individu adalah bagian dari masyarakat yang saling melakukan kontak sosial untuk membentuk masyarakat yang harmonis. Masyarakat bukan menjadi penghalang bagi kebebasan dan perkembangan individual. 
Dalam sistem-sistem pemikiran filsafat tentang manusia dan masyarakat terdapat beberapa aliran, seperti:
a.       Materialisme, memandang bahwa seluruh realitas adalah terdiri dari materi-materi. Menurutnya benda adalah materi benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit, dan sebangsanya muncul dari benda. Dalam aliran ini, roh, jiwa, spirit dan ide, tidak diakui eksistensinya, termasuk juga Tuhan. Jadi roh, jiwa, dan Tuhan bukan hakekat.
b.      Spritualisme, menganggap bahwa realitas yang mendasari eksis dalah roh atau jiwa. Jadi dapat dikatakan bahwa roh atau jiwa merupakan kuasa dari segala aktivitas, aturan dan arahan. Dan hanya roh yang eksis, sedangkan yang lain hanyalah produk dari roh.
c.       Individualism, menganggap bahwa kebebasan individu adalah nilai tertinggi yang dimiliki manusia, dan tidak dapat ditawar. Aliran ini, lebih mengutakan kebebasan individu.
d.      Altruisme, aliran ini lebih mengutamakan kepentingan kepentingan orang lain walaupun dirinya menderita atau menanggung rugi.
e.       Liberalism, aliran ini lebih menekankan kepada hak-hak individual. bahwa manusia pada hakikatnya baik dan bisa mencapai kesempurnaan.
f.       Sosialisme, memandang bahwa masyrakat yang menentukan baik buruknya tindakan manusia yang menjadi anggotanya.











DAFTAR PUSTAKA
C:\Users\acer\Documents\Downloads\Documents\agresi dan altruisme.pdf
Hadi, P. Hardono. 1996. Jati Diri Manusia Berdasarkan Filsafat Organisme Whitehead. Yogyakarta: Kanisius.
Rozak, Abdul. Dkk. 2002. Filsafat Umum. Bandung: Gema Media Pusakatama.
Salam, Burhanuddin. 2000. Etika Individual dan Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Salam, Burhanuddin. 1985. Filsafat Manusia (Antropologi Metafisika). Jakarta: Bina Aksara.
Tafsir, Ahmad. 1990. Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales sampai James. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



[1] Dr. P. Hardono Hadi. Jati Diri Manusia Berdasarkan Filsafat Organisme Whitehead (Yogyakarta, Kanisius: 1996) hal. 32-37
[2] Ibid hal 114.
[3] Dr. Ahmad Tafsir. Filsafat Umum Akal & Hati Sejak Thales sampai James ( Bandung, PT. remaja Rosdakarya: 1990)
[4] Abdul Rozak,Dkk. Filsafat Umum. (Bandung, Gema Media Pusakatama: 2002) hal. 42
[5] Dr. P. Hardono Hadi, Op.Cit, ha.  70
[6] Abdul Rozak, Dkk. Op.Cit, hal. 42-45
[7] Ibid hal. 47
[8] Dr. P. Hardono Hadi, Op.Cit, hal. 113-114
[9] Drs. H. Burhanuddin Salam. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral (Jakarta, PT.Rineka Cipta: 2000) hal. 223
[10] C:\Users\acer\Documents\Downloads\Documents\agresi dan altruisme.pdf
[11] Dr. P. Hardono Hadi, Op.Cit, hal 29-30
[12] Prof. Ir. Poedja Wiyarna. Etika Filsafat Tingkah Laku. ( Jakarta, Rineka Cipta: 1990).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar