BAB III
KALIMAT
1. Pengertian Kalimat
Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, penyataan itu bukanlah kalimat. Deretan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Kalau dilihat dari hal predikat, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu
a. kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja dan
b. kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Akan tetapi, dalam pemakaian sehari-hari kalimat yang berpredikat kata kerja lebih besar jumlahnya daripada kalimat yang berpredikat bukan kata kerja. Hal itu membantu kitadengan mudah untuk menentukan predikat sebuah kalimat. Oleh sebab itu, kalau ada kata kerja dalam suatu untaiankalimat, kata kerja itu dicadangkan sebagai predikat dalam kalimat itu.
Contoh:
Tugas itu dikerjakan oleh para mahasiswa.
Kata kerja dalam kalimat ini ialah dikerjakan. Kata dikerjakan adalah predikat dalam kalimat ini.
Setelah ditemukan predikat dalam kalimat itu, subjek dapat ditemukan dengan cara bertanya menggunakan predikat, sebagai berikut.
Apa yang dikerjakan oleh para mahasiswa?
Jawaban pertanyaan itu ialah tugas itu. Kata tugas itu merupakan subjek kalimat. Kalau tidak ada kata yang dapat dijadikan jawaban pertanyaan itu, hal itu berarti bahwa subjek tidak ada. Dengan demikian, pernyataan dalam bentuk deretan kata-kata itu bukanlah kalimat.
Contoh yang lain:
Rektor Universitas Indonesia memimpin upacara.
Kata kerja dalam kalimat itu adalah memimpin. Kata memimpin merupakan predikat kalimat tersebut. Oleh karena itu, cara mencari subjeknya sangat mudah, yaitu dengan mengajukan pertanyaan:
Siapa yang memimpin upacara?
Jawabnya adalah Rektor Universitas Indonesia. (Subjek)
Coba Anda bandingkan empat pernyataan di bawah ini:
· Berdiri aku di senja senyap.
· Mendirikan pabrik baja di Cilegon.
· Berenang itu menyeha tkan kita.
· Karena sangat tidak manusiawi.
Kalimatkah itu?
Ternyata, pernyataan pertama dan ketiga merupakan kalimat, sedangkan pernyataan kedua dan keempat bukan kalimat. Mengapa?
Marilah kita perhatikan pula pernyataan di bawah ini.
- Dalam ruangan itu memerlukan tiga buah kursi.
Untuk menentukan apakah kalimat itu benar atau tidak, yang mula-mula dicari ialah predikat. Hal ini mudah kita lakukan karena ada kata kerja dalam pernyataan itu, yaitu memerlukan. Kata memerlukan adalah predikat kalimat. Setelah itu, kita mencari subjek kalimat dengan bertanya apa/siapa yang memerlukan.
Jawabnya ialah ruangan itu.
Akan tetapi, kata ruangan itu tidak mungkin dapat ber-status sebagai subjek karena di depan kata ruangan itu terdapat kata dalam (kata depan). Kata dalam menandai kata di belakangnya itu sebuah keterangan tempat. Dengan demikian, pernyataan itu tidak bersubjek, dan tidak tergolong kalimat yang benar?
Bagaimana dengan pernyataan-pernyataan berikut?
a) Ruangan itu memerlukan tiga buah kursi.
b) Dalam ruangan itu diperlukan tiga buah kursi.
Sebuah kata kerja dalam sebuah kalimat tidak dapat menduduki status predikat kalau di depan kata kerja itu terdapat partikel yang, untuk, dan sebangsa dengan itu seperti pernyataan di bawah ini.
Singa yang menerkam kambing itu.
Mahasiswa yang meninggalkan ruang kuliah.
pertemuan untuk memilih ketua baru.
Seharusnya kata menerkam, meninggalkan, dan memilih berfungsi sebagai predikat kalimat 1, 2, dan 3 tidak didahului kata yang atau untuk.
Tunjukkan pernyataan yang tergolong kalimat dan yang bukan kalimat. Kemukakan alasan Anda.
· pengrajin yang ulet akan memetik hasil yang memuaskan.
· Seminar untuk memperoleh masukan tentang konservasi a lam.
· Kesenian Bali yang sudah terkenal di mancanegara.
Kalau dalam suatu pernyataan tidak terdapat kata kerja, kata yang dapat kita cadangkan sebagai predikat ialah kata sifat. Di samping itu, kata bilangan dan kata benda pun dapat di jadikan sebagai predikat. Predikat itu dapat pula berupa frasa depan.
Tadi sudah dikatakan bahwa mencari subjek sebuah kalimat ini adalah dengan cara bertanya melalui predikat dengan pertanyaan
siapa yang atau apa yang +. . . predikat.
Bagaimana halnya dengan objek? Unsur objek dalam kalimat hanya ditemukan dalam kalimat yang berpredikat kata kerja. Namun, tidak semua kalimat yang berpredikat kata kerja harus mempunyai objek. Objek itu hanya muncul pada kalimat yang berpredikat kata kerja transitif. Objek tidak dapat mendahului predikat karena predikat dan objek merupakan suatu kesatuan.
Dengan demikian, objek itu adalah kata benda yang terletak di belakang predikat yang berawalan meng- dan kata benda itu dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Jika dilihat dari segi makna kalimat, objek merupakan unsur yang harus hadir setelah predikat yang berupa verba transitif. Coba Anda perhatikan pernyataan di bawah ini.
Ekspor nonmigas mendatangkan.
Frasa ekspor nonmigas merupakan subjek kalimat sedang-kan kata mendatangkan adalah unsur predikat yang berupa verba transitif. Kalimat ini belum memberikan informasi yang lengkap sebab belum ada kejelasan tentang mendatangkan itu. Oleh sebab itu, agar kalimat itu dapat memberikan informasi yang jelas, predikatnya harus dilengkapi dengan objek, seperti kalimat di bawah ini.
Ekspor nonmigas mendatangkan keuntungan.
S P O
Catatan:
Singkatan yang digunakan adalah sebagai berikut.
S = subjek
P = predikat
O = objek
K = keterangan
Pel. = pelengkap
KB = kata benda (nornina)
KK = kata kerja (verba)
KS = kata sifat (adjektiva)
K Bil. = kata bilangan (numeralia)
FD = frasa depan (frasa preposisi)
KD = kata depan (preposisi)
Andaikata suatu kalimat sudah mengandung kelengkapan makna dengan hanya memiliki subjek dan predikat yang berupa verba intransitif, objek tidak diperlukan lagi. Kalimat di bawah ini tidak memerlukan objek.
Penanaman modal asing berkembang
S P
Kalimat itu sudah lengkap dan jelas. Jadi, unsur subjeknya adalah penanaman modal asing dan unsur predikatnya adalah berkembang. Kalimat itu telah memberikan informasi yang jelas. Kalimat itu tidak perlu dilengkapi lagi. Andaikata di belakang unsur berkembang ditambah dengan sebuah kata atau beberapa kata, unsur tambahan itu bukan objek, melainkan keterangan
Misalnya:
Penanaman modal asing berkembang saat ini
S P K
Dalam seminar itu dibicarakan makalah tentang perbankan
K P S
Dibawah ini terdapat beberapa kalimat yang berobjek dan yang tidak berobjek.
Ia memperkaya khazanah musik Indonesia.
S P O
Pertemuan ini mengimbau segenap lembaga pendidikan
Pertemuan ini mengimbau segenap lembaga pendidikan
S P O
Masalah pangan ditangani oleh pemerintah.
S P K
Obor persahabatan menyala terus sepaniang jalan.
S P K
5.2 Pola Kalimat Dasar
Setelah membicarakan beberapa unsur yang membentuk sebuah kalimat yang benar, kita telah dapat menentukan pola kalimat dasar itu sendiri. Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
1) KB + KK : Mahasiswa berdiskusi.
2) KB + KS : Dosen itu ramah.
3) KB + KBil : Harga buku itu tiga puluh ribu rupiah.
4) KBX + KK + KB2 : Mereka menonton film.
5) KB1 + KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan.
6) KBj + KB2 : Rustam peneliti.
Keenam pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.
5.3 Jenis Kalimat menurut Struktur Gramatikalnya
Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dapat pula berupa kalimat majemuk. Kalimat majemuk dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara (subordinatif), ataupun campuran (koordinatif-subor-dinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat majemuk.
a. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Pada hakikatnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang panjang-panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada kalimat-kalimat dasar yang sederhana. Kalimat-kalimat tunggal yang sederhana itu terdiri atas satu. subjek dan satu predikat. Sehubungan dengan itu, kalimat-kalimat yang panjang itu dapat pula ditelusuri pola-pola pembentukannya. Pola-pola itulah yang dimaksud dengan pola kalimat dasar. Mari kita lihat sekali lagi pola-pola kalimat dasar tersebut.
1) Mahasiswa berdiskus
S:KB + P:KK
2) Dosen itu ramah
S:KB + P:KS
3) Harga buku itu tiga puluh ribu rupiah
S:KB + P;KBil
4) Mereka menonton film
S:KB + P:KK + O:KB
5) Paman mencarikan saya pekerjaan
S:KB + P:KK + O:KB + Pel KB
6) Rustam peneliti.
S:KB + P:KB
Pola-pola kalimat dasar ini masing-masing hendaklah dibaca sebagai berikut.
Pola 1 adalah pola yang mengandung subjek (S) kata benda (mahasiswa) dan predikat (P) kata kerja (berdiskusi).
Kalimat itu menjadi Mahasiswa berdiskusi
S P
Contoh lain:
1) Pertemuan APEC sudah berlangsung.
S P
2) Teori itu dikembangkan.
S P
3) Cerita itu sudah tersebar.
S P
4) Umur kita bertambah terus.
S P
Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (dosen itu) dan berpredikat kata sifat (ramah). Kalimat itu menjadi
Dosen itu ramah.
S P
Contoh lain:
1) Komputernya rusak.
S P
2) Suku bunga bank swasta tinggi.
S P
3) Bisnis kondominium sangat marak.
S P
4) Atlet itu cekatan sekali
S P
Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (harga buku itu) dan berpredikat kata bilangan (tiga puluh ribu rupiah). Kalimat selengkapnya ialah
Harga buku itu tiga puluh ribu rupiah.
S P
Contoh lain:
1) Panjang jalan tol Cawang-Tanjung Prio tujuh belas kilometer.
S P
2) Masalahnya seribu satu.
S P
3) Rumahnya dua buah.
S P
4) Gedung Bank Mandiri Pusat tiga puluh tingkat
S P
Pola 4 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (mereka) berpredikat kata kerja (menonton) dan berobjek kata benda (film). Kalimat itu menjadi
Mereka menonton film.
S P O
Contoh lain:
1) Pesawat itu menembus angkasa.
S P O
2) Setiap pemilik saham mengharapkan deviden yang memuaskan.
S P O
3) Pemerintah menggalakkan ekspor nonmigas.
S P O
4) Kabinet Indonesia Bersatu memberantas KKN.
S P O
5) Pemerintah berusaha menyedot uang yang beredar.
S P O
Kalimat pola 4 atau SPO merupakan kalimat yang dapat bentuk menjadi kalimat pasif. Kalimat pasif tersebut dibentuk dengan menempatkan objek menjadi subjek dan predikat diubah menjadi awalan di.
Mereka menonton film (aktif)
Film itu ditonton oleh mereka (pasif)
Dengan berubahnya kalimat aktif menjadi pasif, pelaku dalam kalimat aktif itu menjadi keterangan (oleh mereka).
Film itu = subjek
ditonton = predikat
oleh mereka = keterangan
Pola 5 adalah pola kalimat yang terdiri atas subjek kata benda (paman), predikat kata kerja (mencarikan), objek (O) kata benda (saya), dan pelengkap (Pel.) kata benda (pekerjaan). Selengkapnya kalimat itu menjadi
Paman mencarikan saya pekerjaan.
S P O Pel.
Contoh lain:
1) Dia membuatkan saya lukisan.
S P O pel.
2) Ajaran agama menjanjikan pemeluknya keselamatan.
S P O Pel.
3) Ibuku menggorengkan Ayah ikan.
S P O Pel.
4) Rush membukakan ibunya pintu.
S P O Pel.
Pola 6 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (Rustam) dan berpredikat kata benda (peneliti). Baik subjek maupun predikat, keduanya kata benda. Jadi, kalimat itu selengkapnya menjadi
Rustam peneliti
S P
Contoh lain:
1) Suhart pemasung demokrasi kita.
S P
2) Dia juara.
S P
3) Chairil Anwar tokoh penyair kenamaan.
S P
4) Pacarnya insinyur pertanian.
S P
5) Sukarno-Hatta proklamator RI.
S P
Keenam pola kalimat di atas masing-masing terdiri atas satu kalimat tunggal. Setiap kalimat tunggal di atas dapat diperluas dengan menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya. Dengan menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya itu, kalimat akan menjadi panjang (lebih panjang daripada kalimat asalnya), tetapi masih dapat dikenali unsur utamanya.
Kalimat Mahasiswa berdiskusi dapat diperluas menjadi kalimat.
Mahasiswa semester III sedang berdiskusi di aula.
S P K
Perluasan kalimat itu adalah hasil perluasan subjek mahasiswa dengan semester III. Perluasan predikat berdiskusi dengan sedang, dengan menambah keterangan tempat di akhir kalimat.
Kalimat 2, yaitu Dosen itu ramah dapat diperluas menjadi
Dosen itu selalu ramah setiap hari.
S P K
Kalimat 3, yaitu Harga buku itu tiga puluh ribu rupiah da pat diperluas pula dengan kalimat
Harga buku gambar besar itu tiga puluh ribu rupiah per buah.
S P
Kalimat 4, yaitu Mereka menonton Him dapat diperluas menjadi kalimat
Mereka dengan rombongannya menonton film detektif.
S P O
Kalimat 5, yaitu Raman mencarikan saya pekerjaan dapat diperluas menjadi
Paman tidak lama lagi akan mencarikan saya keponakan tunggalnya, pekerjaan.
S P O pel.
Kalimat 6, yaitu Rustam peneliti dapat diperluas menjadi
Rustam, anak Pak Camat, adalah seorang peneliti.
S P
Dalam kalimat pola 6 ini, antara subjek dan predikat dapat disisipkan kata adalah sebagai pengantar predikat.
Memperluas kalimat tunggal tidak hanya terbatas seperti pada contoh-contoh di atas. Tidak tertutup kemungkinan kalimat tunggal seperti itu diperluas menjadi dua puluh kata atau lebih.
Pemerluas kalimat itu, antara lain, terdiri atas
(1) keterangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Yogyakarta, dalam republik itu, dan sekeliling kota;
(2) keterangan waktu, seperti setiap hari, pada pukul 19.00, tahun depan, kemarin sore, dan minggu kedua bulan mi;
(3) keterangan alat, seperti dengan linggis, dengan undang-undang itu, dengan sendok dan garpu, dengan wesel pos, dan dengan cek;
(4) keterangan modalitas, seperti harus, barangkali, seyogyanya, sesungguhnya, dan sepatutnya;
(5) keterangan cara, seperti dengan hati-hati, seenaknya saja, selekas mungkin, dan dengan tergesa-gesa;
(6) keterangan aspek, seperti akan, sedang, sudah, dan telah.
(7) keterangan tujuan, seperti agar bahagia, supaya tertib, untuk anaknya, dan bagi kita;
(8) keterangan sebab, seperti karena tekun, sebab berkuasa, dan lantaran panik;
(9) frasa yang, seperti mahasiswa yang IP-nya 3 ke atas, para atlet yang sudah. menyelesaikan latihan, dan pemimpin yang memperhatikan rakyatnya;
(10) keterangan aposisi, yaitu keterangan yang sifatnya saling menggantikan, seperti penerima Kalpataru, Abdul Rozak, atau Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
Perhatikan perbedaan keterangan alat dan keterangan cara berikut ini.
- dengan + kata benda = keterangan alat.
- dengan + kata kerja/kata sifat = keterangan cara.
Contoh kemungkinan perluasan kalimat tercantum di bawah mi.
1) Gubernur/memberikan/kelonggaran/kepada pedagang/.
2) Gubernur DKI Jakarta / memberikan / kelonggaran / kepada pedagang/.
3) Gubernur DKI Jakarta/memberikan/berbagai kelonggaran/kepada pedagang kaki lima/.
4) Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo/ memberikan/berbagai kelonggaran/kepada pedagang kaki lima/.
5) Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo / sudah memberikan / berbagai kelonggaran/kepada pedagang kaki lima/di pinggiran jalan atau di tempat-tempat lain/.
6) Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo/ sudah memberikan/ berbagai kelonggaran/kepada pedagang kaki lima/di pinggiran jalan atau di tempat-tempat lain/di lima wilayah kota/.
7) Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo /sudah memberikan/ berbagai kelonggaran/kepada pedagang kaki lima/di pinggiran jalan atau di tempat-tempat lain/ di lima wilayah kota/pada bulan puasa/.
8) Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo / sudah memberikan / berbagai kelonggaran/kepada pedagang kaki lima/di pinggiran jalan atau di tempat-tempat lain/ di lima wilayah kota/pada bulan puasa hingga lebaran nanti/.
b. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terjadi dari dua kalimat tunggal «itau lebih. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
1) Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serfa jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara perjumlahan.
Contoh:
Kami membaca.
Mereka menulis.
Kami membaca dan mereka menulis.
Tanda koma dapat digunakan jika kalimat yang digabung-kan itu lebih dari dua kalimat tunggal.
Contoh:
Direktur tenang.
Karyawan duduk teratur.
Para nasabah antre.
Direktur tenang, karyawan duduk teratur, dan para nasabah antre.
2) Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu
dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu
menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat
majemuk setara pertentangan. Contoh:
dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu
menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat
majemuk setara pertentangan. Contoh:
Amerika danjepang tergolong negara rnaju.
Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang
Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia tergolong negara berkembang.
Kata-kata penghubung lain yang dapat digunakan dalam menghubungkan dua kalimat tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan ialah kata sedangkan dan melainkan seperti kalimat berikut.
Puspiptek terletak di Serpong sedangkan PT Dirgantara Indonesia terletak di Bandung.
la bukan peneliti, melainkan pedagang.
3) Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh
kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya
berurutan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara
perurutan.
kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya
berurutan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara
perurutan.
Contoh:
Mula-mula disebutkan nama-namajuara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan nama-namajuara MTQ tingkat dewasa.
Upacara serah terima pengurus koperasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.
4) Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih itu dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
Contoh:
Para pemilik televisi membayar iuran televisinya dikantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi.
Kalimat Majemuk Setara Rapatan
Dalam kalimat majemuk setara, ada yang berbentuk kalimat rapatan, yaitu suatu bentuk yang merapatkan dua atau lebih kalimat tunggal. Yang dirapatkan ialah unsur subjek atau unsur objek yang sama. Dalam hal seperti ini, unsur yang cukup disebutkan satu kali.
Contoh kalimat majemuk setara rapatan sebagai berikut.
· Kami berlatih.
Kami bertanding.
Kami berhasil menang.
Kami berlatih, kami bertanding dan kami berhasil menang.
Kami berlatih, bertanding dan berhasil menang.
· Menteri Agama tidak membuka seminar tentang zakat.
Menteri Agama menutup seminar tentang zakat.
Menteri Agama bukan membuka, melainkan menutup seminar tentang zakat.
- Kalimat Majemuk Tidak Setara
Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas (klausa bebas) dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas (klausa terikat). Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain diungkapkan dalam anak kalimat.
Contoh:
1) a. Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern.
(tunggal)
b. Mereka masih dapat mengacaukan data-data computer.
(tunggal).
c. Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
2) a. Para pemain sudah lelah.
b. Para pemain boleh beristirahat
c. Karena para pemain sudah lelah, para pemain boleh beristirahat
d. Karena sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
Sudah dikatakan di atas bahwa kalimat majemuk taksetara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan, sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan dengan hal-hal lain.
Mari kita perhatikan kalimat di bawah ini.
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas, saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Anak kalimat:
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas.
Induk kalimat:
Saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Penanda anak kalimat ialah kata walaupun, meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar, supaya, ketika, schingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, sekalipun, bahwa, dan sebagainya.
d Kalimat Majemuk Taksetara yang Berunsur Sama
Kalimat majemuk taksetara dapat dirapatkan andaikata unsur-unsur subjeknya sama.
Contoh:
Kami sudah lelah.
Kami ingin pulang.
Karena sudah lelah, kami ingin pulang.
Pada anak kalimat terdapat kata kami sebagai subjek anak kalimat, dan pada induk kalimat terdapat pula kata kami sebagai subjek induk kalimat. Dalam hal seperti ini, subjek itu ditekankan pada induk kalimat sehingga subjek pada anak kalimat boleh dihilangkan, dan bukan sebaliknya.
Perhatikan kalimat ini.
Karena kami sudah lelah, kami ingin pulang.
Perbaikannya:
Karena sudah lelah, kami ingin pulang.
jika perbaikannya seperti berikut ini, kalimat menjadi salah.
Karena kami sudah lelah, ingin pulang.
Berdasarkan perbaikan itu diperoleh suatu kaidah sebagai berikut.
Jika dalam anak kalimat tidak terdapat subjek, itu berarti bahwa subjek anak kalimat sama dengan subjek induk kalimat.
Perapatan kalimat taksetara ini sering keliru. Kekeliruan ini terjadi oleh kesalahan menalar suatu gagasan sehingga terjadi percampuran perapatan antara subjek dan objek.
Contoh:
a) Usul itu tidak melanggar hukum.
b) la menyetujui usul itu.
Jika kedua kalimat itu dijadikan kalimat majemuk taksetara, subjek anak kalimat dan subjek induk kalimat harus dieksplisitkan karena kedua subjek berbeda sehingga hasilnya harus menjadi sebagai berikut.
c) Karena usul itu tidak melanggar hukum, ia menyetujui usul itu.
Dalam kalimat majemuk taksetara ini terdapat persamaan .mtara subjek anak kalimat dan objek induk kalimat, yaitu usul itu. Dengan adanya persamaan ini kadang-kadang tejadilah perapatan antara subjek anak kalimat dan objek induk kalimat, dalam bentuk yang salah, seperti berikut ini.
Karena tidak melanggar hukum, ia menyetujui usul itu.
Kalimat ini tidak benar sebab penghilangan subjek pada anak kalimat akan memberikan makna kesamaan subjek itu dengan subjek pada induk kalimat. Andaikata kalimat ini dibiarkan seperti itu, kita akan memberi makna sebagai berikut.
Karena (ia) tidak melanggar hukum, ia menyetujui usul itu.
Hal ini berbeda sekali dengan gagasan pertama, yaitu
Karena usul itu tidak melanggar hukum, ia menyetujui usul itu.
Perhatikan empat buah kalimat yang salah berikut ini.
1. Setelah diganti dengan pita haru, mereka tidak mengalami kesukaran mempergunakan mesin ketik itu.
Kalimat 1) salah karena subjek anak kalimat yang dile-sapkan akan sama dengan subjek induk kalimat. Jadi, yang diganti pitanya dengan pita baru dalam kalimat 1) adalah mereka. Padahal, yang diganti dengan pita baru adalah pita mesin ketik.
Perbaikan kalimat 1) menjadi dua versi sebagai berikut.
l.a) Setelah menggantipita mesin ketik dengan pita baru, mereka tidak mengalami kesukaran mempergunakan mesin ketik itu.
l.b) Setelah pita mesin ketik diganti dengan pita baru, mereka tidak mengalami kesukaran mempergunakan mesin ketik itu.
- Sebelum diletakkan di tengah ruangan, parapengawas terlebih dahulu memperbaiki kipas angin itu.
Kalimat 2) salah karena subjek anak kalimat yang dile-sapkan akan sama dengan subjek induk kalimat, yaitu para pengawas. Padahal, yang diletakkan di tengah ruangan adalah kipas angin. Agar subjek pada anak kalimat (yang dilesapkan) sama dengan subjek pada induk kalimat, perbaikannya menjadi dua versi sebagai berikut.
2.a) Sebelum diletakkan di tengah ruangan, kipas angin itu terlebih dahulu diperbaikipara pengawas.
2.b) Sebelum meletakkan kipas angin di tengah ruangan, para pengawas terlebih dahulu memperbaiki kipas angin itu.
Perhatikan kalimat salah yang lain.
- Jika sudah menerima biaya yang direncanakan, pembangunan gedung itu akan segera saya mulai.
Kalimat 3) salah karena subjek yang dilesapkan dalam anak kalimat (seolah-olah) adalah pembangunan gedung itu. Padahal, yang sudah menerima biaya yang sudah direncanakan tin adalah saya. Jadi, kalimat 3) harus diperbaiki menjadi dua versi sebagai berikut.
3.a) Jika sudah menerima biaya yang direncanakan, saya akan segera memulai pembangunan gedung itu.
3.b) Jika biaya yang sudah direncanakan diterima, pembangunan gedung itu akan segera saya mulai.
- Setelah membaca buku itu berulang-ulang isinya dapat dipahami.
Kalimat 4) salah karena subjek yang dilesapkan dalam .ii i.ik kalimat (seolah-olah) adalah isinya. Padahal, yang membaca buku itu adalah mereka. Kalimat itu akan bernalar jika diperbaiki menjadi dua versi sebagai berikut.
4.a) Setelah membaca buku itu berulang-ulang dia dapat memahami isinya.
4.b) Setelah buku itu dibacanya berulang-ulang, isinya dapat dipahaminya
Contoh kalimat benar yang lain sebagai berikut
Setelah mendengar vonis hakim, terdakwa menjerit histeris.
Dalam anak kalimat tidak terdapat subjek, sedangkan dalam induk kalimat subjeknya adalah kata terdakwa. Jadi, subjek anak kalimat pun pasti kata terdakwa sehingga kalimat di atas bermakna
Setelah (terdakwa) mendengar vonis hakim, terdakwa menjerit histeris.
e Penghilangan Kata Penghubung
Ada beberapa kalimat majemuk taksetara rapatan yang mencoba mengadakan penghematan dengan menghilangkan penanda anak kalimat sehingga kalimat itu menjadi salah.
Contoh:
Membaca surat itu, saya sangat terkejut
Anak kalimat:
Membaca surat itu.
Induk kalimat:
Saya sangat terkejut.
Subjek anak kalimat itu persis sama dengan subjek pada induk kalimat, yaitu saya.
Kalau tidak ada penanda pada anak kalimat, kalimat majemuk itu tidak benar (tidak baku). Penanda yang dapat dipakai ialah setelah sehingga kalimat akan menjadi
Setelah (saya) membaca surat itu, saya sangat terkejut.
Setelah membaca surat itu, saya sangat terkejut.
Beberapa contoh:
1. a. Memasuki masa pensiun, ia merasa mempunyai waktu yang cukup untuk menolong orang banyak. (Salah)
b. Setelah memasuki masa pensiun, ia merasa mempunyai waktu yang cukup untuk menolong orang banyak. (Benar)
2. a. Menderita penyakit jantung ia terpaksa berurusan dengan dokter. (Salah)
b. Karena menderita penyakit jantung, ia terpaksa berurusan dengan dokter. (Benar)
3. a. Memasuki Pula u Bali, para pembawa Obor Persahabatan diterima oleh pembesar Bali. (Salah)
b. Ketika memasuki Pulau Bali, para pembawa Chor Persahabatan diterima oleh pembesar Bali. (Benar)
4. a. Dipimpin wasit Muntohir dari Semarang dan disaksikan 90.000 penonton, pertandingan Persija dan Persib berlang-sung imbang. (Salah)
b. Ketika dipimpin wasit Muntohir dari Semarang dan disaksikan 90.000 penonton, pertandingan Persija dan Persib berlangsung imbang. (Benar)
f. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat jenis ini terdiri atas kalimat majemuk taksetara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk taksetara (bertingkat). Misalnya:
1) Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.(Bertingkat + Setara)
2) Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai. (Setara + Bertingkat) penjelasan
Penjelasan
Kalimat pertama terdiri atas anak kalimat karena hari midah malam dan induk kalimat yang berupa kalimat majemuk Mara, kami berhenti dan langsung pulang. Jadi, susunan kalimat pertama adalah bertingkat + setara.
Kalimat kedua terdiri atas induk kalimat yang berupa kalimat majemuk setara, kami pulang, tetapi mereka masih bekerja, dan anak kalimat karena tugasnya belum selesai. Jadi, susunan kalimat kedua adalah setara + bertingkat.
5.4 JENIS KALIMAT MENURUT BENTUK GAYANYA (RETORIKANYA)
Tulisan akan lebih efektif jika di samping kalimat-kalimat yang disusunnya benar, juga gaya penyajiannya (retorikanya) menarik perhatian pembacanya. Walaupun kalimat-kalimat yang disusunnya sudah gramatikal, sesuai dengan kaidah, belum tentu tulisan itu memuaskan pembacanya jika
Begi retorikanya tidak memikat. Kalimat akan membosankan pembacanya jika selalu disusun dengan konstruksi yang monoton atau tidak bervariasi. Misalnya, konstruksi kalimat itu elalu subjek-predikat-objek-keterangan, atau selalu konstruksi bentuk kalimat-anak kalimat.
Menurut gaya penyampaian atau retorikanya, kalimat majemuk dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu (1) kalimat yang melepas (induk-anak), (2) kalimat yang berklimaks anak-induk), dan (3) kalimat yang berimbang (setara atau Campuran).
A. Kalimat yang Melepas
Jika kalimat itu disusun dengan diawali unsur utama,yaitu induk kalimat dan diikuti oleh unsur tambahan, yaitu anak kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut melepas. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya dan kalaupun unsur ini diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap.
Misalnya:
1) Saya akan dibelikan kendaraan oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar