A. CARA MENGOLAH SKOR ATAU NILAI
1. Menskor dan Menilai
Menskor dan menilai merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan yang luar biasa dari penilai, ditambah dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu. Nama lain dari menskor adalah memberi angka. Dalam hal pekerjaan menskor atau menentukan angka, dapat digunakan tiga macam alat bantu yaitu :
· Pembantu menentukan jawaban yang benar, disebut kunci jawaban.
· Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan salah, disebut kunci scoring.
· Pembantu menentukan angka, disebut pedoman penilaian.
2. Perbedaan antara Skor dan Nilai
Sebelum sampai pada pembahasan tentang cara mengolah skor atau nilai, perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan antara skor dan nilai. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kadang-kadang orang menganggap bahwa skor itu sama dengan nilai, padahal pengertian seperti itu belum tentu benar.
Skor adalah hasil pekerjaan menskor (= memberikan angka) yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan benar, dengan mempertimbangkan bobot jawaban benarnya. Contoh berikut ini kiranya akan memperjelas pernyataan di atas.
Misalkan tes hasil belajar dalam bidang studi bahasa inggris menyajikan lima butir soal tes uraian dimana untuk setiap butir soal yang dijawab dengan benar diberikan bobot 10. Siswa bernama Rina, untuk kelima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:
· Untuk butir soal no.1 dapat dijawab dengan sempurna, sehingga diberikan skor 10.
· Untuk butir soal no.2 hanya dijawab benar separohnya, sehingga skor yang diberikan adalah 5
· Untuk butir soal no.3 ,hanya sekitar seperempat bagian saja yang dapat dijawab dengan benar, sehingga diberikan skor 2,5
· Untuk butir soal no.5 dijawab benar sekitar tiga perempatnya, sehingga diberikan skor 7,5.
Dengan demikian untuk kelima butir tes uraian tersebut, Rina mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 +2,5 + 7,5 = 30. Angka 30 disini belum dapat disebut nilai, sebab angka 30 itu masih merupakan skor mentah. Untuk dapat disebut nilai masih memerlukan pengolahan atau pengubahan.[1]
Nilai adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, yakni acuan normal atau acuan standar. Pengubahan skor menjadi nilai dapat dilakukan untuk skor tunggal, misalnya sesudah memperoleh skor ulangan harian atau untuk skor gabungan dari beberapa ulangan dalam rangka memperoleh nilai.
Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah angka (bias juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah sebabnya mengapa nilai sering disebut skor standar.
Nilai pada dasarnya adalah angka atau huruf yang melambangkan seberapa jauh atau seberapa besar kemampuan yang telah ditunjukan oleh testee terhadap materi atau bahan yang diteskan, sesuai dengan tujuan intruksional khusus yang telah ditentukan. Nilai pada dasarnya juga melambangkan penghargaan yang diberikan oleh tester kepada testee atas jawaban benar yang diberikan oleh testee dalam tes hasil belajar.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa untuk sampai kepada nilai, skor-skor hasil tes yang pada hakikatnya masih merupakan skor-skor mentah itu perlu diolah lebih dahulu sehingga dapat diubah menjadi skor yang sifatnya baku atau standar.
3. Norm – Referenced dan Criterion - Referenced
Dari sederetan skor yang telah diubah maka dapat diperoleh gabungannya, misalnya gabungan antara nilai ulangan ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya, yang merupakan catatan untuk dirata-rata dan menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan atau menggambarkan sejauh mana siswa mencapai tujuan intruksional umum dari satu unit bahan yang dipelajari dalam satu ukuran waktu.
Sebelum ini telah disinggung sedikit tentang penggunaan norm referenced dan criterion referenced. Didalam penggunaan criterion referenced, siswa dibandingkan dengan sebuah standar tertentu, yang dalam uraian sebelum ini, dibandingkan dengan standar mutlak. Dalam penggunaan norm-referenced, prestasi belajar seorang siswa dibandingkan dengan siswa lain dalam kelompoknya. Kualitas seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas kelompoknya. Seorang siswa yang apabila terjun ke kelompok A termasuk “hebat”, mungkin jika pindah ke kelompok lain hanya menduduki kualitas “sedang” saja. Ukurannya adalah relatife. Oleh karena itu, maka dikatakan pula diukur dengan standar-relatif atau norma kelompok.
Dasar pikiran dari penggunaan standar ini adalah adanya asumsi bahwa disetiap populasi yang heterogen, tentu terdapat:
1) Kelompok baik
2) Kelempok sedang
3) kelompok kurang
Apabila standar relative dan standar mutlak ini dihubungkan dengan pengubahan skor menjadi nilai, akan terlihat demikian :
a) Dengan standar mutlak
· Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
· Nilai diperoleh dengan mencari skor rata-rata langsung dari skor asal (skor mentah).
Contoh :
- Dari ulangan ke-1, memperoleh skor 60
(mencapai 60 % tujuan )
- Dari ulangan ke-2, memperoleh skor 80
(mencapai 80 % tujuan )
- Dari ulangan ke-3, memperoleh skor 50
(mencapai 50 % tujuan )
Maka nilai siswa tersebut :
= 63,3
Dan dibulatkan menjadi 63.
b) Dengan standar relative
· Pemberian skor terhadap siswa juga didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
· Nilai dapat diperoleh dengan 2 cara :
- Mengubah skor dari tiap-tiap ulangan lalu diambil rata-ratanya.
- Menjumlah skor tiap-tiap ulangan, baru diubah kenilai.[2]
4. Mengolah Nilai
Beberapa Skala Penilaian:
a. Skala Bebas
“Ani, seorang pelajar disuatu SMU, pada suatu hari berlari-lari kegirangan setelah menerima kembali kertas ulangan dari guru Matematika. Diamatinya sekali lagi angka yang tertera dikertas itu. Benar ia tidak salah liat! Pada sudut atas kertas itu tertulis angka 10, yaitu angka yang diperoleh Ani dengan ulangan itu.
Pada waktu ulangan memang Ani merasa ragu-ragu mengerjakannya. Rumus yang digunakan sedikit ingat sedikit lupa. Dan ketika seluruh umus hampir teringat, waktu yang disediakan telah habis. Seberapa selesai soal itu dikerjakan kertas ulangan harus dikumpulkan.
Setelah tiba di luar kelas, Ani berdiskusi dengan kawan-kawannya. Ternyata cara mengerjakan dan pendapatnya tidak sama dengan yang lain. Tetapi mereka juga tidak yakin mana yang betul. Oleh karena itu, ketika kertas ulangan dikembalikan dan ia mendapat 10, ia kegirangan. Ditunjukannya kertas itu kepada kawan-kawannya. Baru sampai bertemu 4 kawannya, wajahnya sudah menjadi malu tersipi-sipu.” Apa sebabnya ?
Rupanya ia menyadari kebodohannya karena setelah melihat angka yang diperoleh keempat orang kawannya, ternyata kepunyaan Ani yang paling sedikit. Ada kawannya yang mendapat 15,20,bahkan ada yang 25. Dan kata Guru. pekerjaan Tika yang mendapat angka 25 itulah yang betul.
Dan gambaran ini tampak bahwa dalam pikiran Ani, terpancang suatu pengertian bahwa anka 10 adalah angka tertinggi yang mungkin dicapai. Ini memang lazim. Mungkin bukan hanya Ani saja yang berpikiran demikian. Padahal pada waktu ulangan matematika ini, guru memberikan angka paling tinggi 25 kepada mereka yang dapat mengerjakan seluruh soal dengan betul. Cara pemberian angka seperti ini tidak salah. Hanya sayangnya, guru tersebut barangkali perlu menerangkan kepada para siswanya, cara mana yang digunakan untuk memberi angka atau skor. Ia baru pindah dari sekolah lain. Ia sudah bebas menggunakan skala bebas, yaitu skala yang tidak tetap. Adakalanya skor tertinggi 20, lain kali 25, dan lain kali lagi 50. Ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka tertinggi dan skala yang digunakan tidak selalu sama.
b. Skala 1-10
Pada umumnya guru-guru di Indonesia mempunyai kebiasaan menggunaka skala 1 – 10 untuk laporan prestasi belajar siswa dalam rapor. Adakalanya juga digunakan skala 1 – 100, sehingga memungkinkan bagi guru untuk memberikan penilaian yang lebih halus. Dalam skala 1 – 10, guru jarang memberikan angka pecahan, misalnya 5,5. Angka 5,5 tersebut kemudian dibulatkan menjadi 6. Padahal angka 6,4 pun akan dibulatkan menjadi 6. Dengan demikian maka rentangan angka 5,5 sampai dengan 6,4 ( selisih hampir 1 ) akan keluar dirapor dalam satu wajah, yaitu angka 6.
c. Skala 1 – 100
Memang di seyogiakan bahwa angka itu merupakan bilangan bulat. Dengan menggunakan skala 1 – 10 maka bilangan bulat yang ada masih menunjukan penilaian yang agak kasar. Ada sebenarnya hasil prestasi yang berada diantara kedua angka bulat itu. Untuk itulah maka dengan menggunakan skala 1 – 100, dimungkinkan melakukan penilaian yang lebih halus karena terdapat 100 bilangan bulat.Nilai 5,5 dan 6,4 dalam skala 1 – 10 yang biasanya dibulatkan menjadi 6, dalam skala 1 – 100 ini boleh dituliskan 55 dan 64.[3]
d. Skala huruf
Di samping penilaian yang dinyatakan dengan angka, kita mengenal pula penilaian yang dinyatakan dengan huruf. Seperti penilaian yang dilakukan oleh guru taman kanak- kanak dan atau guru-guru disekolah dasar kelas I dan kelas II, mereka menggunakan nilai huruf A, B, C dan D.[4]
Penggunaan huruf dalam penilaian akan terasa lebih tepat digunakan karena tidak ditafsirkan sebagai arti perbandingan. Huruf tidak menunjukan kuantitas, tetapi dapat digunakan sebagai symbol untuk menggambarkan kualitas. Oleh karena itu, dalam mengambil jumlah rata-rata, akan dijumpai kesulitan. Padahal dalam pengisian rapor, kita tidak dapat terlepas dari pekerjaan mengambil rata-rata.
5. Distribusi Nilai
Distribusi niali yang dimiliki oleh siswa-siswanya dalam suatu kelas didasarkan pada dua macam standar, yaitu:
a. Distribusi Nilai Berdasarkan Standar Mutlak
Dengan dasar bahwa hasil belajar siswa dibandingkan dengan sebuah standar mutlak atau dalam hal ini skor tertinggi yang diharapkan, maka tingkat penguasaan siswa akan terlihat dalam berbagai bentuk kurva.
Apabila soal-soal yang dibuat guru terlalu mudah, sebagian besar siswa akan dapat berhasil mengerjakan soal-soal itu dan tingkat pencapaiannya tinggi. Sebaliknya apabila soal-soal tes termasuk yang sukar maka pencapaian siswa juga sebaliknya pula. Namun demikian dengan standar mutlak ini mungkin pula diperoleh gambar kurva nomal jika soal-soal tes disusun oleh guru dengan tepat seperti gambaran kecakapan siswa-siswanya.
Berikut adalah kurva kemungkinan prestasi siswa berdasarkan standar mutlak:
1 10 1 10
2% 14% 34% 14% 2%
Untuk melihat penyebaran atau distribusi nilai siswa-siswa dalam satu kelas, terlebih dahulu skor-skor yang diperoleh dari ulangan disusun urut dari yang paling tinggi ke yang paling rendah.
b. Distribusi Nilai Berdasarkan Standar Relatif
Menggunakan standar relative atau norm-referenced, kedudukan seorang selalu dibandingkan dengan kawan-kawannya dalam kelompok. Dalam norm-referenced selalu tergambar dalam kurva normal. Hal ini didasarkan apabila distribusi skor tergambar dalam kurva juling positif, yang kurang sempurna adalah soal-soal tesnya, yaitu terlalu sukar. Dengan demikian nilai siswalalu direntangkan dari nilai tinggi ke nilai rendah, dengan sebagian besar terletak pada nilai sedang, dan demikian pula sebaliknya.
Ubahan nilai dari skor-skor yang mengumpul dibawah atau pun diatas dapat dilihat dalam gambar-gambar berikut:



6. Standar Nilai
Dari distribusi nilai, kita dapat membicarakan masalah standar nilai.
a) Standard Nines/Stanines
Menurut Gronlund dalam distribusi nilai ini skor-skor siswa direntangkan menjadi 9 nilai (Standard Nines/Stanines) seperti berikut:
| STANINE | INTERPRETASI |
| 9 4% | Tinggi (4%) |
| 8 7% 7 12% | Diatas rata-rata (19%) |
| 6 17% 5 20% 4 17% | Rata-rata (54%) |
| 3 12% 2 7% | Dibawah rata-rata (19%) |
| 1 4% | Rendah (4%) |
Dengan adanya persentase yang ditentukan inilah maka semua situasi skor siswa dapat direntangkan menjadi nilai 1-9 diatas.
b) Standar Enam.
Selain dengan stanadar Sembilan (stanines), ada pula yang menggunakan standar enam. Dalam hal ini, hanya berkisar antara 4-9, berikut persentasi penyebaran nilainya:
| STANDAR ENAM | Interpretasi | |
| 9 8 7 6 5 4 | 5% 10% 20% 40% 20% 5% | Baik sekali Baik Lebih dari cukup Cukup Kurang Kurang sekali |
Penyebaran nilai denga standar enam yang dimaksud, adalah berikut:
10% siswa yang mendapat nilai tertinggi diberi nilai 9
20% dibawahnya diberi 8
40% dibawahnya diberi 7
20% dibawahnya diberi 6
5% dibawahnya diberi 5
5% dibawahnya diberi 4
Dalam hal yang sangat khusus dimana siswa yang dianggap sangat cerdas ataupun sangat kurang, dapat diberikan nilai 10 atau 3.
c) Standar Eleven (Stanel)
Standar ini dikembangkan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan UGM yang sesuai dengan system penilaian di Indonesia. Dengan stanel ini, system penilaian membagi skala menjadi 11 golongan yaitu angka-angka dari 0-10, yang satu sama lain berjarak sama. Tiap-tiap angka menempati interval sebesar 0,55 SD, bertitik tolak dari Mean = 5 yang menempati jarak antara -3,025 SD sampai +3,025 SD.
Bilangan-bilangan persentil untuk menentukan titik dalam Stanel ini adalah: P1, P3, P8, P21, P39, P61, P79, P92, P97 & P99. Dasar pemikiran Stanel ini dalah bahwa jarak praktis dalam kurva normal adalah 6 SD yang terbagi atas 11 skala.
11 skala = 6 SD
Skala = 6/11 SD
= 0,55 SD
d) Standar Sepuluh
Untuk mengubah skor menjadi nilai, diperlukan dahulu:
v Mean (rata-rata skor)
v Deviasi Standar (simpangan Baku)
v Tabel konversi angka kedalam nilai berskala 1-10
Tahap-tahap yang dilalui dalam mengubah skor mentah menjadi nilai berskala 1-10 adalah sebagai berikut:
ü Menyusun distribusi frekuensi dari angka-angka atau skor-skor mentah.
ü Menghitung rata-rata skor (mean).
ü Menghitung Deviasi Standar.
ü Mentransformasi (mengubah) angka-angka mentah kedalam nilai skala 1-10.
e) Standar Lima
kembali kepada Grondlund selain ia mengemukakan penyebaran nilai dengan angka, juga mengemukakan penyebaran nilai dengan huruf yang digambarkan dengan kurva normal sebagai berikut[5]:
![]() |
7% 24% 38% 24% 7%
B. MENCARI NILAI AKHIR
1. Fungsi Nilai Akhir
Secara garis besar, nilai mempunyai 4 fungsi:
a. Fungsi instruksional.
Pemberian nilai merupakan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk memberikan suatu balikan (feed back/ umpan balik) yang mencerminkan seberapa jauh seorang siswa telah mencapai tujuan yang ditetapkan dalam pengajaran atau system instruksional.
Apabila pemberian nilai dapat dilakukan dengan cermat dan terperinci, maka akan lebih mudah diketahui pula keberhasilan dan kegagalan siswa disetiap bagian tujuan. Nilai rendah yang diperoleh oleh seseorang atau beberapa siswa, jika disajikan dalam keadaan yang terperinci akan dapat membantu siswa dalam usaha memperbaiki dan member motivasi peningkatan prestasi berikutnya. Bagi pengelola pengajaran, sajian terperinci nilai siswa dapat berfungsi menunjukkan bagian-bagian proses pengajaran mana yang perlu diperbaiki.
b. Fungsi informative.
Memberikan nilai siswa kepada orang tuanya mempunyai arti bahwa orang tua siswa tersebut menjadi tahu akan kemajuan dan prestasi anak-anak mereka disekolah. Catatan ini akan sangat berguna, dengan catatan nilai untuk orang tua siswa maka:
- Orang tua menjadi sadar akan keadaan putra-putri mereka untuk kemudian lebih baik memberikan bantuan berupa perhatian, dorongan atau bimbingan.
- Hubungan orang tua dengan sekolah menjadi baik.
c. Fungsi bimbingan
Pemberian nilai kepada siswa akan mempunyai arti besar bagi pekerjaan bimbingan. Dengan perincian gambaran nilai siswa, petugas bimbingan akan segera tahu bagian-bagian mana dari usaha siswa disekolah yang masih memerlukan bantuan. Catatan lengkap yang juga mencakup tingkat (rating) dalam kepribadian siswa serta sifat-sifat yang berhubungan dengan rasa social akan sangat membantu siswa dalam pengarahannya sebagai pribadi seutuhnya.
d. Fungsi administrative
Fungsi administrative dalam penilaian mencakup:
Ø Menentukan kenaikan dan kelulusan siswa.
Ø Memindahakan atau menempatkan siswa.
Ø Memberikan beasiswa.
Ø Memberiakn rekomendasi untuk melanjutkan belajar.
Ø Memberikan gambaran tentang prestasi siswa atau lulusan kepada para calon pemakai tenaga.
2. Faktor-Faktor yang Turut di Perhitungkan dalam Penilaian
Unsur umum dalam penilaian yang menyangkut faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah:
a. Prestasi / pencapaian (achievement).
Nilai prestasi harus mencerminkan tingkat-tingkatan siswa sejauh mana telah dapat mencapai tujuan yang ditetapkan disetiap bidang studi.
Simbol yang digunakan untuk menyatakan nilai, baik huruf maupun angka hanya merupakan gambaran tetang prestasi saja. Unsure pertimbangan atau kebijaksanaan guru tentang usaha dan tingkah laku siswa tidak boleh diikut sertakan.
b. Usaha (effort).
Usaha siswa Terpisah dari nilai prestasinya, guru dapat menyampaikan laporannya kepada orang tua siswa. Laporan atau nilai tidak boleh dicampuri dengan nilai prestasi sama sekali.
c. Aspek pribadi dan social
Unsure ini juga perlu dilaporkan terutama yang berhubungan dengan berlangsungnya proses belajar-mengajar. Rentang nilai sebaiknya tidak usah lebar-lebar (lebih baik 6-10). Lebih baik lagi jika diterangkan dengan khusus dan jelas sehingga mudah di mengerti oleh guru pembimbing dan siapa saja.
d. Kebiasaan bekerja.
Yang dimaksud disini adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan melakukan tugas. Misalnya, segera mengerjakan PR. Keuletan dalam usaha, bekerja teliti, kerapihan kerja dan sebagainya.
3. Cara Menentukan nilai Akhir
Tiap guru mempunyai pendapatnya sendiri dalam menentukan nilai akhir. Hal ini sangant dipengaruhi oleh pandanagn mereka terhadap pentingnya dan tidaknya bagian, kegiatan yang dilakukan siswa. Yang dimaksudkan dengan kegiatan-kegiatan siswa misalnya: menyelesaikan tugas, mengikuti diskusi, mengikuti ujian, menghadiri pelajaran, dan sebagainya.
Penentuan nilai akhir ini dilakukan terutama pada waktu guru akan mengisi rapor atau STTB. Biasanya dalam menentukan nilai akhirini guru sudah dibimbing oleh suatu peraturan atau pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah atau kantor/badan yang membawahinya.
Ada beberapa cara menentuakn nilai akhir, diantaranya:
a. Untuk memperoleh nilai akhir, perlu diperlukan nilai tes formatif dan tes sumatif dengan rumus:
![]() |
Keterangan:
NA = Nilai akhir.
F = Nilai tes formatif.
S = Nilai tes sumatif.
Jadi nilai akhir diperoleh dari rata-rata nilai tes formtaif (diberikan bobot satu) dijumlahkan dengan nilai tes sumatif (diberi bobot dua) kemudian dibagi 3.
b.
|
Keterangan:
T = Nilai tugas.
H = Nilai ulangan harian (rata-ratanya).
U = Nilai ulangan umum.
c. Nilai Akhir untuk STTB diproleh dari rata-rata nilai ulangan harian (diberi bobot satu) dan nilai EBTA (diberi bobot 2) kemudian dibagi 3.
Rumus:
![]() |
Dimana :
Σ H = jumlah nilai ulangan harian
E = nilai EBTA
nH = frekuensi ulangan harian
Selanjutnya didalam kurikulum SMA tahun 1984 disebutkan cara menentukan nilai akhir bukan hanya didasarkan atas hasil kegiatan kurikuler saja, tetapi juga ko-kurikuler.
Rumusnya :
|
Keterangan :
p = nilai tes sub sumatif
q = nilai tes sumatif
r = nilai ko-kurikuler.
Merata-ratakan hasil penilaian sumatif dengan hasil penilaian formatif.
Setelah hasil-hasil penilain formatif diubah kedalam nilai berskala 1 – 10, kemudian untuk setiap siswa dicari rata-rata hasil penilaian formatif dalam semester yang bersangkutan.
Nilai rata-rata ini selanjutnya dijumlahkan dengan nilai tes sumatif dan kemudian hasil penjumlahan dibagi dua. Hasil yang terakhir inilah yang akan merupakan nilai akhir bagi setiap siswa yang nantinya dijadikan nilai raport.
Perlu dikemukakan disini bahwa apabila pada nilai akhir terdapat pecahan kurang dari setengah, maka nilai itu di bulatkan kebawah. Kalau pecahannya setengah, nilai akhir tetap seperti itu. Sedangkan dalam pecahan lebih dari setengah, maka nilai dibulatkan ke atas.[6]
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suahrsimi. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, M. Ngalim. 2010. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosda karya,
Sudijono, Anas. 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada
[1] Prof. Drs. Anas Sudijono,Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2001). Hlmn 309-310
[2] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, DASAR-DASAR EVALUASI PENDIDIKAN (Jakarta: Bumi Aksara, 2010). Hlmn 237-239
[4] Drs.M.Ngalim Purwanto,Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran(Bandung : Remaja Rosdakarya ,2009). Hlmn 87
[5] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Op-Cit. Hlmn 251-264
[6] Ibid, Hlmn 282- 288



MKSIH MB KARYA NY... SENANG JUMPA DGN KARYA ANDA...
BalasHapus