Sabtu, 19 November 2011

TES STANDAR DAN TES TIDAK STANDAR SERTA CARA MENGANALISISNYA



Hakikat Tes adalah salah satu jenis instrumen yang banyak digunakan guru dalam evaluasi KBM di sekolah adalah tes. Menurut Cronbach (1970), Tes ialah Prosedur yang sistematis untuk mendeskripsikan dan mengobservasi atau mengukur tingkah laku seseorang dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori. Tes ini tidak mengukur secara langsung, hanya pada sifat/karakteristik yang ada pada jawaban testee terhadap item tes. Secara umum tes terbagi atas:
1)        Maximum Performance tes, mengukur seluruh kemampuan siswa dan seberapa baik dapat melakukannya. Dalam hal ini pertanyaan (tugas) yang diberikan harus jelas struktur dan tujuannya, serta arah jawaban yang dikehendakinya. Di sini ada jawaban betul dan salah, misalnya: tes kemampuan/bakat, dan tes hasil belajar.
2)        Typical Performance tes, mengukur kecenderungan reaksi atau perilaku individu dalam situasi tertentu. Dalam hal ini tidak ada jawaban benar – salah, misalnya: tes kepribadian, sikap, minat. (Joesmani, 1988)[1]

A.    TES STANDAR

1.      Pengertian
Dalam salah satu kamus, arti kata “standar” adalah: a degree af level of requirement, excellence, or attainment. Test standar, yaitu test yang sudah dibakukan setelah mengalami beberapa kali uji coba (try out) dan memenuhi syarat test yang baik.[2]
Tes standar ini sebenarnya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a.       tes bakat (aptitude test)
b.      tes prestasi (achievement test)
Walaupun keduanya mengandung sifat ketumpangtindihan, Karena perbendaan antara keduanya seringkali saling melingkupi (overlap). Untuk kedua macam tes ini biasanya menggunakan hitungan-hitungandan perbendaharaan kata-kata dan sekelompok tes dari kedua macam tes ini biasanya juga menguji tentang keterampilan membaca. Kesamaan yang lain adalah bahwa keduanya telah digunakan untuk meramalkan hasil untuk masa yang akan datan, walaupun pada umumnya jika kita menggunakan tes prestasi penilai melihat apa yang telah diperoleh setelah siswa (tercoba) itu diberi suatu pelajaran.
Tes standar yang dibicarakan berikut adalah tes standar yang berupa prestasi. Pengertian standar dapat diartikan sebagai suatu tingkat kemampuaan tertentu yang harus dimiliki siswa pada program-program tertentu (SD, SMP, SMA). Pengertian standar dalam tes lebih dimaksudkan bahwa tes tersebut dikerjakan oleh semua siswa dengan mengikuti petunjuk yang sama dan dalam batasan waktu yang sama pula.[3]
Standar untuk siswa dimaksudkan sebagai suatu tingkat kemampuan yang harus dimiliki bagi suatu program tertentu. Istilah “standar” dalam tes dimaksudkan bahwa semua siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dari sejumlah besar pertanyaan dikerjakan dengan mengikuti petunjuk yang sama dan dalam batasan waktu yang sama pula. Dengan demikian maka seolah-olah ada suatu standar atau ukuran sehingga diperoleh satu standar penampilan (performance) dan penampilan kelompok lain dapat dibandingkan dengan kelompok standar tersebut.
Istilah “standar” tidak mengandung arti bahwa tes itu mengukur apa yang harus dan dapat diajarkan pada suatu tingkat tertentu atau bahwa tes itu menyiapkan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu.
Penyusun tes standar selalu mengusahakan agar system skoringnya sangat objektif sehingga dapat diperoleh reliabilitas yang tinggi. apabila mungkin, dilakukan dengan mesin, hal ini tidak berarti bahwa bentuk tes standar harus pilihan ganda. Tetapi untuk skoringnya diusahakan agar tidak kena bias factor-faktor lain. Usaha lain adalah penggunaan skala skor dan norma yang relevan. Skala skor digunakan untuk menyesuaikan antara bnetuk parallel dan bentuk aslinya. Disamping itu juga diperlukan penjelasan terinci tentang tes itu. Tentang keterangan ini akan dibicarakan pada bagian kelengkapan tes standar.
Tes standar sebenarnya bukanlah sesuatu yang istimewa dalam tes prestasi belajar. Tes ini disusun dalam tipe-tipe soal yang sama dan meliputi bahan atau pengetahuan yang sama banyak dengan bahan atau pengetahuan yang dicakup tes buatan guru.[4]
2.      Ciri Tes Standar
Ciri tes standar adalah sebagai berikut:
Ø  penyusunan tes standar biasanya dilakukan oleh sebuah tim yang sengaja dibentuk,
Ø  seleksi bahan dan tujuan didasarkan pada kurikulum atau buku-buku teks yang dipakai secara nasional,
Ø  tes diujicobakan kepada sejumlah siswa, hasilnya dianalisis, yaitu analisis butir soal untuk mencari koefisien taraf kesukaran dan daya pembeda,
Ø  tes bersifat seragam dan dipergunakan di semua sekolah. Jadi, tes ini lebih bersifat nasional dan dipakai berkali,
Ø  tes standar didasarkan pada tujuan umum yang diharapkan dapat merangkum semua tujuan khusus yang disusun oleh guru di berbagai sekolah,
Ø  tes standar biasanya telah dilengkapi dengan sebuah manual yang berisi petunjuk-petunjuk penting tentang pelaksanaan tes, penskoran, dan penafsiran terhadap hasil tes. Manual juga memuat keterangan tentang proses standardisasi seperti kegiatan uji coba, analisis hasil, revisi, dan juga informasi tentang tingginya taraf kesahihan dan ketepercayaan tes.[5]

3.      Kegunaan Tes Standar
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes standar adalah:
·         Jika ingin membuat perbandingan
·         Jika banyak orang yangakan memasuki suatu sekolah tetapi tidak tersedia data tentang calon ini.
a.       Membuat perbandingan
Banyak situasi pendidikan dimana guru atau pimpinan terpaksa mengadakan perbandingan. Hal ini termaksud perbandingan antar siswa untuk setiap bidang studi, atau perbandingan tentang prestasi belajar yang mendasarkan diri pada kemampuan dasar, atau perbandingan prestasi setelah digunakan dua metode yang berbeda. Nilai yang dibuat guru yang berbeda dari bidang yang berbeda dari kelompok yang berbeda dan situasi belajar yang berbeda, tidak dapat digunakan untuk alat perbandingan. Akan tetapi tugas yang sifatnya umum, norma-norma, tes yang mempunyai realibilitas yang tinggi dan tes standar, ada kemungkinan boleh digunakan sebagai alat pembanding.

b.      Sebagai ilustrasi dapat dimisalkan sebuah sekolah menengah yang menerima 5 orang siswa dari sekolah-sekolah dasar yang berbeda. Para adaministrator di SLTP dihadapkan pada suatumasalah apabilaharus menentukan afektivitas belajar. Kelima anak ini dating dari SD telah membawa nilai sendiri-sendiri dariguru yang berbeda sehingga sukar diinterpretasikan. Nilai yang diperoleh dari guru yang berbeda, tidak diketahui dasar pertimbangan yang diambil untuk menentukannya. Guru yang satu mungkin dipengaruhi oleh keterampilan bekerja, sedang guru lain didasrkan atas panjang-pendeknya jawaban.
Walaupun sangat luas, namun secara garis besar kegunaan tes standar adalah:
a.       Membaningkan prestasi belajar dengan pembawaan individu atau kelompok.
b.      Membandingkan tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk individu atau kelompok.
c.       Membandingkan prestasi siswa antara berbagai sekolah atau kelas.
d.      Mempelajari perkembangan siswa dalam suatu periode waktu tertentu.   

4.      Kelengkapan Tes Standar
Sebuah tes yang sudah distandardisasikandan sudah dapat sebagai tes standar, biasanya dilengkapi dengan sebuah manual. Manual ini memuat keterangan-keterangan atau petunjuk-petunjung yang perlu terutama yang menjelaskan tentang pelaksanaan, menskor, dan mengadakan interpretasi.
Secara garis besar manual tes standar ini memuat:
1)      Ciri-ciri mengenai tes, misalnya menyebutkan tingkat validitas, tingkat reliabilitas dan sebagainya.
2)      Tujuan serta keuntungan-keuntungan dari tes, misalnya disebutkan untuk siapa tes tersebut diberikan dan untuk tujuan apa.
3)      Proses standardisasi tes, misalnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sampel:
-          Besarnya sampel
-          Teknik sampling
-          Kelompok mana yang diambil sebagai sampel (sifat sampel).
juga mengenai taraf kepercayaan yang diambil dan bagaimana kaitannya dengan hasil tes.
4)      Petunjuk-petunjuk tentang cara melaksanakan tes, misalnya dilaksanakan dengan lisan atau tertulis, waktu yang digunakan untuk mengerjakan setiap bagian, boleh tidaknya tercoba keluar jika sudah selesai mengerjakan soal itu dan sebagainya.
5)      Petunjuk-petunjuk bagaimana cara menskor, misalnya untuk beberapa skor tiap-tiap soal/unit, menggunakan system hukuman atau tidak, bagaimana cara menghitung nilai akhir dan sebagainya.
6)      Petunjuk-petunjuk untuk menginterpretasikan hasil, misalnya:
-          Betul nomor sekian sampai sekian cocok untuk jabatan kepala seksi.
-          Betul nomor sekian saja, cocok untuk jabatan guru dan sebagainya.
7)      Saran-saran lain, misalnya siapa harus menjadi pengawas, bagaimana seandainya tidak ada calon yang emncapai skor tertentu dan sebagainya.
5.      Penyusunan Tes Standar
Untuk menyusun tes standar, dibutuhkan waktu yang lama. Seperti disebutkan bahwa untuk memperoleh sebuah tes standar melalui prosedur:
a.       Penyusunan
Soal dapat disusun dalam bentuk tes objektif maupun tes esai. Urutan langkah yang dilakukan adalah:
-          Menentukan tujuan mengadakan tes.
-          Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
-          Merumuskan tujuan instruksional khusus drai tiap bagian bahan.
-          Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku terkandung dalam TIK itu. Tabel ini digunakan untuk mengadakan identifikasi terhadap tingkah laku yang dikehendaki, agar tidak terlewati.
-          Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek berpikir yang diukur beserta imbangan antara kedua hal tersebut. Uraian secara terinci tentang tabel spesifikasi, akan disajikan pada bab selanjutnya.
-          Menuliskan butir-butir soal didasarkan atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup.
Apabila TIK ditulis sangat khusus, maka satu TIK diukur oleh satu butir soal. Tetapi jika TIK itu merupakan TIK esensial, maka satu TIK dapat diukur dengan lebih dari satu butir soal.
b.      Uji coba
Agar memperoleh soal/tes yang baik maka soal/test harus di uji coba terlebih dahulu dan hasilnya dianalisis sehingga memenuhi syarat-syarat tes yang baik. Peserta uji coba adalah mahasiswa yang mempunyai status sama dengan peserta tes yang sebenarnya.
c.       Analisis
Langkah-langkah menganalisis tes:
-          Menghitung Validitas Butir (r butir)
-          Menghitung Indeks kesukaran
-          Menghitung daya beda
-          Analisis distraktor (pengecoh)
-          Validitas Tes
-          Reliabilitas Tes
d.      Revisi
e.       Edit
Kelima kegiatan diatas membutuhkan waktu yang lama. [6]
B.     TES TIDAK STANDAR
Tes tidak standar  atau  Test buatan guru adalah test yang dibuat oleh  guru kelas itu sendiri. Tes tersebut dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan setelah berlangsungnya proses pembelajaran yang dikelola oleh guru kelas yang bersangkutan,
Penyusunan butir-butir tes harus mendasarkan diri kepada tujuan (khusus) dan deskripsi bahan yang telah diajarkan, pada umumnya tes buatan guru tidak diujicobakan terlebih dahulu karena berbagai hal, baik yang menyangkut masalah waktu, kesempatan, tenaga, biaya, dan juga kemampuan guru itu sendiri untuk menganalisisnya.
Taraf ketepercayaan tes buatan guru sering dikatakan rendah atau tidak diketahui secara pasti karena memang jarang dilakukan pengujian, tes buatan guru bertujuan untuk mengetahui kadar pencapaian tujuan pembelajaran yang telah disusun, tingkat penguasaan bahan siswa, memberikan nilai kepada siswa sebagai laporan hasil belajarnya di sekolah.[7]
Tes buatan guru didasarkan pada tujuan khusus yang dirumuskan sendiri oleh guru tersebut. Kegunaan tes buatan guru adalah:
a.       Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu.
b.      Untuk menentukan apakah sesuatu tujuan telah tercapai.
c.       Untuk memperoleh suatu nilai.[8]
Ditinjau dari pelaksanaannya tes buatan guru dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis:
1)        Lisan (oral test), dilaksanakan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada siswa, dan jawabannya secara lisan dalam komunikasi langsung.
2)        Tertulis (written test), dilaksanakan dengan jalan mengajukan lembaran pertanyaan/soal tes kepada siswa, dan jawabannya dilakukan secara tertulis.
3)        Perbuatan/keterampilan (skill test atau performance test).[9]
Dari uraian diatas maka dapat kita tinjau perbedaan  antara tes stadar dan tes buatan guru atau tes tidak standar. Perbedaannya yakni:
(1)   Jika tes standar didasarkan atas bahan dan tujuan umum dari sekolah-sekolah  diseluruh negeri tapi tes buatan guru didasarkan atas bahan dan tujuan khusus yang dirumuskan oleh guru untuk kelasnya sendiri.
(2)   Jika tes standar mencakup aspek yang luas dan pengetahuan atau keterampilan dengan hanya sedikit butir tes untuk setiap keterampilan atau topik. Sedangkan tes buatan guru dapat terjadi hanya mencakup pengetahuan atau keterampilan yang sempit.
(3)   Jika tes standar disusun kelengkapan staf professor, pemabahas, editoer, butir tes. Sedang tes buatan guru biasanya disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain atau tenaga ahli.
(4)   Jika tes standar menggunakan butir-butir tes yang sudah diujucobakan (try out), dianalisis dan direvisi sebelum menjadi sebuah tes. Sedangkan tes buatan guru jarang-jarang menggunakan butir-butir tes yang sudah diujicobakan dianalisis dan direvisi.
(5)   Jika tes standar mempunyai reliabilitas yang tinggi maka tes buatan guru hanya mempunyai reliabilitas sedang atau bahkan rendah.
(6)   Jika tes standar dimungkinkan menggunakan norma untuk seluruh sekolah disebuah Negara baik didalam maupun luar negeri sedangkan norma kelompok terbatas kelas tertentu. 
Selanjutnya baik tes standar dan tes buatan guru dianjurkan dipakai jika hasilnya akan digunakan untuk:
a)      Mengadakan diagnosis terhadap ketidakmampuan siswa.
b)      Menentukan tempat siswa dalam suatu kelas atau kelompok.
c)      Memberikan bimbingan kepada siswa dalam pendidikan dan pemilihan jurusan.
d)     Memilih siswa-siswa untuk program khusus.
Dari uraian diatas tampak bahwa baik tes standar maupun tes buatan guru atau tes tidak standar masing-masing mempunyai kegunaan sendiri. Dua macam tipe evaluasi ini saling mengisi dan saling melengkapi.[10]
C.     MENGANALISIS TES STANDAR DAN TES TIDAK STANDAR
1.      Menilai Tes
Secara teoritis siswa dalam satu kelas merupakan populasi atau kelompok yang keadaannya heterogen. Dengan demikian maka apabila dikenal sebuah tes akan tercermin hasilnya dalam suatu kurva normal. Sebagian besar siswa berada didaerah sedang, sebagian kecil berada di ekor kiri, dan sebagian kecil berada di ekor kanan.
Apabila keadaansetelah hasil tes dianalisis tidak seperti yang diharapkan dalam kurva normal, maka tentu ada “apa-apa” dengan soal tesnya.
Apabila hampir seluruh siswa memperoleh skor jelek, berarti bahwa tes yang disusun mungkin terlalu sukar. Sebaliknya, jika seluruh siswa memperoleh skor baik, dapat diartikan bahwa tesnya terlalu mudah. Tentu saja interpretasi terhadap soal tes akan lain seandainya tes itu sudah disusun sebaik-baiknya sehingga memenuhi persyaratan sebagai tes.
Ada empat cara menganalisis tes, yaitu:
a.       Cara pertama meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang dapat diperoleh jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran dan lain-lain keadaan soal tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:
(1)   Apakah pertanyaan soal untuk tiap topic sudah seimbang?
(2)   Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah diajarkan?
(3)   Apakah semua soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan yang membingungkan (dapat disalahkan artikan)?
(4)   Apakah soal itu tidak sukar untuk dimengerti ?
(5)   Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa?
b.      Cara kedua adalah mengadakan analisis soal (term analysis).
Analisi soal adalah suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun
Faedah mengadakan analisis soal.
(1)   Membantu kita dalaam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek.
(2)   Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan lebih lanjut.
(3)   Memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan yang kita susun.
Analisis soal terutama dapat dilakukan untuk tes objektif. Hal ini tidak berarti bahwa tes uraian tidak dapat danalisis akan tetapi memang dalam menganalisis butir tes uraian, belum ada pedoman secara standar. Tentang kegunaan dan cara mengadakan analisis soal akan dibicarakan tersendiri dibagian lain.
c.       Cara ketiga adalah mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting dari tes buatan guru adalah validitas kurikuler (content validity). Untuk mengadakan checking validitas kurikuler, kita harus merumuskan tujuan setiap bagian pelajaran secara khusu dan jelas sehingga setiap soal dapat kita jodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut.
Tes yang tidak mempunyai validitas kurikuler atau walau pun mempunyai tetapi kecil, maka dapat juga terjadi jika salah satu atau beberapa tujuan khusus tidak dicantumkan dalam tabel spesifikasi. Semakin banyak tujuan khusus yang tidak dicantumkan, berarti bahwa validitas kurikulernya semakin kecil.
Dalam hal ini Terry D. Ten Brink, dalam bukunya yang berjudul : “evaluation, a practical Guide for Teacher” mengemukakan pendapatnya demikian:
(1)   Untuk tes yang dirancang akan menggunakan normreferenced tidak harus menuliskan setiap tujuan khusus, tetapi cukup dengan tujuan-tujuan yang esensial saja.
(2)   Untuk tes yang dirancang akan menggunakan criterionreferenced, maka setiap tujuan khusus harus dicantumkan dalam tabel spesifikasi
d.      Cara keempat adalah dengan mengadakan checking reabilita. Salah satu indikator untuk tes yang mempunyai reliabilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal tes itu mempunyai daya pembeda yang tinggi.



2.      Menganalisis Butir-butir Soal
Analisis soal anatara lain bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dpata diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan “petunjuk” untuk mengadakan perbaikan.
Tiga masalah yang berhubungan dengan analisis soal yaitu:
a.       Taraf kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sulit akan memnyebabkan siswa jadiputus asa dan tidak bersemangant untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.
Bilangan yang menunjukkan sulit dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficult index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan1,00. Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal terlalu sulit, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah.
 
                0,0                                               1.0
Didalam istilah evaluasi, indeks kesukaran ini diberi symbol P, singkatan dari kata “proporsi”. Dengan demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih mudah dari nilai P = 0,20.
Rumus mencari P:


 

                                                     
            Dimana:
P   =     Indeks kesukaran.
B  =     Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.
JS =     Jumlah siswa yang mengikuti tes.
Walaupun demikian ada yang berpendapat bahwa soal-soal yang dianggap baik yaitu soal-soal tes sedang, dimana soal-soal mempunyai indeks kesukaran 0.30-0.70
b.      Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemmapuan suatu soal untuk membedakan antara siswa pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (daya pembeda), indeks ini berkisar antara 0,00-1,00. Hanya bedanya dengan indeks kesukaran adalah pada indeks diskriminasi terdapat tanda negative sedangkan di indeks kesukaran tidak. Tanda negative pada indeks diskriminasi digunakan jika suatu soal “tebalik” menunjukkan kualitas testee. Yaitu anak pandai disebut bodaoh dan anak bodoh disebut pandai.
Dengan demikian ada tiga titik pada daya pembeda yaitu:
  
-1,00                                  0,00                                 +1,00
Bagi suatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun siswa bodoh, maka soal itu tidak baik karena tidak mempeunyai nilaibeda. Demikian pula jika semua kelompok bawah menjawab betul, maka nilai kelompok bawah sama-sama menajawab benar atau sama-sama menjawab salah, maka soal tersebut mempunyai nilaiD 0,00. Karena tidak mempunyai daya pembeda sama sekali.
Cara menentukan daya pembeda (nilai D):
-          Untuk kelompok kecil
Seluruh kelompok testee dibagi dua sama besar, 50 kelompok atas dan 50% kelompok bawah.
-          Untuk kelompok besar
Kelompok besar biasanya hanay diambil dua kutubnya saja, yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB)
Rumus mencari D:
D  =   BA    -    BB    = PA  -  PB
            JA            JB

 
  
        

Dimana:
J        =     jumlah peserta tes.
JA      =     banyaknya peserta atas.
JB      =     banyaknya peserta bawah.
BA      =     banyaknya peserta atas yang menjawab benar.
BB     =     banyaknya peserta bawah yang menjawab benar.
PA       =     proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.
PB     =     proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.
Klasifikasi daya pembeda:
D    :    0,00 – 0,20      =   jelek (poor)
D    :    0,20 – 0,40      =   cukup (satisfactory)
D    :    0,40 – 0,70      =   baik (good)
D    :    0,70 – 1,00      =   baik sekali (excellent)
D    :    negative, semua tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negative sebainya dibuang saja.
Dari indeks kesukaran (P) dan indeks diskriminasi (D) dapat diperoleh hubungan sebagai berikut:
Dmax     =          2 P
 
 


c.       Pola jawaban soal
Yang dimaksud pola jawaban disini adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihan jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal diperoleh dengan menghitung banyaknyatestee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi disebut omit, disingkat O.
Dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik atau tidak. Pengecoh itu jelek, terlalu menyolok menyesatkan. Sebaliknya sebuah distractor dapat dikatakan berfungsi dengan baik apabila distractor tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi pengikut-pengikut tes yang kurang memahami konsep atau kurang menguasai bahan.
Dengan melihat pola jawaban soal dapat diketahui:
(1)   Taraf kesukaran soal.
(2)   Taraf pembeda soal.
(3)   Baik dan tidaknya distraktor.
Suatu distraktor dapat diperlakukan dengan tiga cara:
a)      Diterima, karena sudah baik.
b)      Ditolak, karena tidak baik.
c)      Ditulis kembali, karena kurang baik.
Kekurangannya mungkin hanya terletak pada rumusan kalimatnya sehingga hanya perlu ditulis kembali, dengan perubahan seperlunya.[11]














DAFTAR PUSTAKA
                       
Arikunto, Suahrsimi. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Daryanto. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta .
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196601041993011-IDING_ TARSIDI/MAKALAH_PERFORMANCE_TEST.pdf minggu 13 november 2011-11-13
http://nahulinguistik.wordpress.com/. minggu 11 Nopember 2011
http://www.masbied.com/2011/02/01/pengukuran-dalam-penelitian/. Sabtu, 12 Nopember 2011



[1] http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196601041993011-IDING_ TARSIDI/MAKALAH_PERFORMANCE_TEST.pdf minggu 13 november 2011-11-13
       [2] http://www.masbied.com/2011/02/01/pengukuran-dalam-penelitian/. Sabtu, 12 Nopember 2011
[3] http://nahulinguistik.wordpress.com/. minggu 11 Nopember 2011.
[4] Prof. Dr Suharsimi Arikunto, DASAR-DASAR EVALUASI PENDIDIKAN (Jakarta: Bumi Aksara, 2010). Hlmn 145-146
[5] http://nahulinguistik.wordpress.com/. minggu 11 Nopember 2011
[6] Op-Cit. Prof. Dr Suharsimi Arikunto. Hlmn 149-150
[7] http://nahulinguistik.wordpress.com/. minggu 11 Nopember 2011
[8] Op-Cit. Prof. Dr Suharsimi Arikunto. Hlmn 149
[9] http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196601041993011-IDING_ TARSIDI/MAKALAH_PERFORMANCE_TEST.pdf minggu 13 november 2011-11-13
[10] Op-Cit. Prof. Dr Suharsimi Arikunto. Hlmn 149
[11] Drs. H. Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta,2008). Hlmn 176-193

Tidak ada komentar:

Posting Komentar