A.
Pengertian Pengawasan
Istilah
pengawasan dalam bahasa Inggris disebut controlling dan secara umum pengertian pengawasan dapat dilihat dari beberapa
ahli,yakni:
·
Pengawasan menurut Mockler adalah
suatu usaha sistematis untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan
tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik,
membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,
menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan
koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya organisasi
dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam tujuan-tujuan
organisasi.
·
Menurut Murdick mengatakan bahwa
pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan
bagaimana luasnya dan rumitnya suatu organisasi.
·
Menurut Winardi “Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak
manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang
direncanakan”.
·
Menurut Basu Swasta“Pengawasan
merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil
seperti yang diinginkan”.
·
Sedang menurut faham klasik, pengawasan
adalah suatu proses yang bersifat memaksa-maksa agar kegiatan pelaksanaan dapat
disesuaikan dengan rencana yang sudah ditetapkan.
Pengertian pengawasan secara lebih
khusus dapat diuraikan sebagai berikut:
·
Pengawasan adalah suatu alat
pendidikan yang tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil
kegiatan pendidikan tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya
sehingga mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
·
Pengawasan adalah tindakan atau proses
kegiatan untuk mengontrol dan menilai terhadap kegiatan pendidikan guna menjamin
bahwa berbagai kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan
sebelumnya.
·
Kegiatan pengawasan pada dasarnya
memiliki peran untuk membandingkan akan kondisi pendidikan yang ada dengan
kondisi yang seharusnya terjadi. Apabila dalam proses pendidikan terjadi
penyimpangan/hambatan/penyelewengan dapat segera dilakukan tindakan koreksi.
B. Urgensi
Pengawasan dalam Pendidikan Anak
Pengawasan itu
penting sekali dalam mendidik anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak
berbuat sekehendaknya anak tidak akan dapat membedakan yang baik dan yang
buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh dan
mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang
tidak. Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya, dan menjadi manusia
yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak
patuh dan tidak dapat mengetahui kemana arah hidup yang sebenarnya.
Memang, ada
pula ahli-ahli didik yang menuntut adanya kebebasan yang penuh dalam
pendidikan. Roussean, umpamanya, adalah seorang pendidik yang beranggapan bahwa
semua anak yang sejak dilahirkan adalah baik, menganjurkan pendidikan menurut
alam. Menurut pendapatnya, anak hendaknya dibiarkan tumbuh menurut alamnya yang
baik itu sehingga mengenai hukuman pun Roussean menganjurkan hukuman alami.
Tetapi pendapat
para ahli didik sekarang umumnya, sependapat bahwa pengawasan adalah alat
pendidikan yang penting dan harus dilaksanakan, biarkan secara berangsur-angsur
anak itu harus diberi kebebasan. Pendapat yang akhir ini mengatakan bukankah
kebebasan itu yang dijadikan pangkal atau permulaan pendidikan, melainkan
kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.
C. Tujuan Pengawasan
Tujuan pengawasan dalam pendidikan antara
lain:
1. Menjadikan
pelaksanaan dan hasil kegiatan pendidikan sesuai dengan rencana dan tujuan..
2. Memecahkan
masalah pendidikan.
3. Mengurangui
resiko kegagalan suatu rencana dalam proses pendidikan.
4. Membuat
perubahan-perubahan maupun perbaikan-perbaikan.
5. Mengetahui
kelemahan – kelemahan pelaksaannya
6. Menciptakan
suasana keterbukaan, kejujuran.
D. Syarat-syarat
untuk Menjalankan Pengawasan yang Baik
1. Pengawasan
harus mendukung sifat dan kebutuhan kegiatan pendidikan.
2. Pengawasan
harus melaporkan setiap penyimpangan yang terjadi dengan segera.
3. Pengawasan
harus mempunyai pandangan ke depan.
4. Pengawasan
harus obyektif,teliti,dan sesuai dengan standard yang digunakan.
5. Pengawasan
harus luwes atau fleksibel..
6. Pengawasan
harus ekonomis.
7. Pengawasan
harus mudah dimengerti.
8. Pengawasan
harus diikuti dengan perbaikan atau koreksi.
E. Sasaran
Pengawasan
Sasaran pengawasan dapat dikelompokkan
berdasarkan dimensi berikut ini:
1.
Dimensi kuantitatif, yaitu untuk
mengetahui sampai seberapa jauh maksud program atau kegiatan pendidikan dalam
ukuran kuantitatif telah tercapai.
2.
Dimensi kualitatif, yaitu sampai
seberapa jauh mutu dan kualitas pelaksanaan pendidikan sesuai dengan ukuran dan
rencana.
3.
Dimensi fungsional, yaitu ukuran
untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan pelaksanaan pendidikan sesuai dengan
tujuan atau fungsi yang telah direncanakan semula.
4.
Dimensi efisiensi, yaitu seberapa
jauh kegiatan pelaksanaan pendidikan dapat dikerjakan secara hemat dan cermat.
F. Jenis
Pengawasan
Menurut
Waktu Pelaksanaan
1.
Setelah Kegiatan Pendidikan
Pengawasan
ini disebut juga evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil kerja anak
dan untuk mengetahui kesalahan yang terjadi agar kesalahan-kesalahan itu tidak
berulang dimasa yang akan datang.
2.
Pada saat kegiatan
Pengawasan
ini lebih bersifat control. Pengawasan ini lebih bertujuan untuk memberikan
pengarahan-pengarahan untuk memperbaiki kesalahan anak didik
Menurut
Cara Pelaksanaan
1.
Secara Langsung
2.
Secara tidak langsung
Menurut
William Newman:
1.
Pengawasan arah (steering control)
atau pengawasan pendahuluan (feedforward control). Dirancang untuk
mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar atau
tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan pendidikan tertentu
diselesaikan/suatu masalah terjadi.
2.
Pengawasan saringan (screening
control) atau pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pendidikan.
3.
Pengawasan sesudahnya (pastaction
control) atau pengawasan umpan balik (feedback control).Mengukur
hasil-hasil dari suatu kegiatan pendidikan yang telah selesai. Pengawasan
dilakukan setelah kegiatan pendidikan terjadi.
Ada
juga yang menyebutkan macam-macam pengawasan sebagai berikut:
1. Pengawasan Intern dan Ekstern
Pengawasan intern
adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam
lingkungan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengawasan ekstern adalah
pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar lembaga
pendidikan.
2. Pengawasan Preventif dan Represif
Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai,
“pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu
dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan. Pengawasan represif adalah pengawasan
yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan.”
3. Pengawasan Aktif dan Pasif
Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk
pengawasan yang dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan.” Hal ini berbeda dengan pengawasan jauh
(pasif) yang melakukan pengawasan melalui bukti-bukti lain yang mendukung
proses pengawasan.
G. Prinsip-prinsip
Pengawasan
Pengawasan
memiliki beberapa prinsip yaitu ;
1. Pengawasan
tidak mencari-cari kesalahan
2. Pengawasan merupakan proses
berlanjut, yaitu dilaksanakan secara continue sehingga dapat memperoleh hasil
pengawasan yang berkesinambungan
3. Pengawasan harus menjamin
adanya kemungkinan pengambilan koreksi yang cepat dan tepat terhadap
penyimpangan dan penyelewengan yang ditemukan, untuk mencegah berlanjutnya
kesalahan atau penyelewengan.
4. Pengawasan bersifat
mendidik dan dinamis, yaitu dapat menimbulkan kegairahan memperbaiki,
mengurangi atau meniadakan penyelewengan “bukan sebaliknya”.
Selain itu ada juga yang mengatakan
prinsip-prinsip pengawasan adalah sebagai berikut:
1.
Prinsip kesisteman
Pengawasan harus memperhatikan
keseluruhan komponen dalam pendidikan.
2.
Prinsip akuntabilitas
Pengawasan harus mengajarkan anak
akan tanggung jawab
3.
Prinsip koordinasi
Pengawasan dilakukan dengan
memperhatikan kerjasama yang baik antar komponen pendidikan.
4.
Prinsip komunikasi
5.
Prinsip pengendalian
Pengawasan menjadi sarana
mengarahkan dan membimbing anak didik.
6.
Prinsip objektivitas
Melaksanakan pengawasan dengan tidak
terpengaruh akan faktor-faktor yang dapat menyebabkan subyektivitas.
7.
Prinsip futuristic
Pengawasan harus dapat memprediksi
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan
8.
Prinsip preventif
Pengawasan dilakukan agar
penyimpangan-penyimpangan dapat dicegah dan kalaupun terjadi dapat dideteksi
secara dini sehingga penyelesaiannya dapat cepat teratasi.
9.
Prinsip represif
Bila terjadi penyimpangan dan
kebocoran, maka harus tegas dengan menegakkan sanksi/hukuman sesuai peraturan
yang berlaku.
10.
Prinsip edukatif;
11.
Prinsip korektif
12.
Prinsip 3E (Ekonomis, Efisien,
Efektif)
Pengawasan dilakukan dengan
cara-cara yang benar, waktu yang tepat dan penuh perhitungan sehingga tujuan pendidikan
yang telah ditetapkan dapat tercapai secara ekonomis, efisien, dan
efektif.
H. Kelebihan
dan Kekurangan Pengawasan
Kelebihannya
adalah:
•
Pengawasan sangat penting dalam suatu proses pendidikan, karena
pengawasan akan membantu kelangsungan pendidikan berjalan sesuai dengan harapan.
•
Pengawasan dapat digunakan dalam
perbaikan pengajaran dan menciptakan situasi belajar mengajar yang baik.
•
Mencegah terjadinya berbagai
kecurangan.
Kekurangannya
adalah:
•
Bisa menimbulkan suasana tegang pada
diri yang diawasi.
•
Pengawasan harus dilakukan
terus-menerus sehingga memerlukan waktu yang lama. Dan adanya kemungkinan
seseorang hanya berbuat baik ketika diawasi saja.
•
Memerlukan keseriuan dalam pengawasan.
Tidak hanya pada satu sisi yang diawasi tapi juga perlu pengawasan di sisi lain
secara menyeluruh.
I. Pengawasan
Menurut Pendidikan Islam
Pengawasan dalam pendidikan Islam merupakan kegiatan yang
dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka menjamin terlaksananya kegiatan pendidikan dengan
konsisten, baik material maupun spiritual. Pengawasan dalam pendidikan Islam
tidak hanya mengedepankan hal-hal yang bersifat materil saja,tetapi juga
mementingkan hal-hal yang bersifat spiritual.
Hal ini yang secara signifikan membedakan antara
pengawasan dalam konsep Islam dengan konsep pendidikan secara umum adalah Islam melakukan
pengawasan tidak
hanya yang bersifat materi
tetapi juga melibatkan Allah Swt
sebagai pengawas utama.