BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Administrasi
pendidikan seringkali diistilahkan dengan administrasi sekolah. Disebutkan
bahwa administrasi sekolah maksudnya administrasi pendidikan mencakup
pengaturan, proses belajar-mengajar, kesiswaan, personalia, peralatan mengajar,
gedung dan perlengkapan, keuangan serta humas atau hubungan dengan masyarakat.
Itu semua merupakan cakupan dari administrasi pendidikan/administrasi sekolah.
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa ruang lingkup administrasi
pendidikan itu meliputi segala hal yang pada dasarnya ditekankan pada
pelaksanaan kegiatan/usaha pendidikan supaya berjalan secara teratur dan tertib
yang semua itu diorientasikann pada tujuan pendidikan .
B. Rumusan masalah
1.
Apa pengertian dari sarana dan prasarana
pendidikan?
2.
Bagaimanakah macam-macam sarana dan prasarana
pendidikan?
3.
Apa saja
komponen sarana dan prasarana
pendidikan?
4.
Apa
saja fasilitas dan benda-benda pendidikan?
5.
Apa
saja kegiatan administrasi sarana dan prasarana?
6.
Bagaimanakah hubungan antara sarana dan
prasarana dengan program pengajaran?
7.
Bagaimanakah fungsi administrasi sarana dan
prasarana?
8.
Apakah tujuan administrasi sarana dan
prasarana?
9.
Apa pengertian dari
Administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat?
10.
Apa tujuan Hubungan
Sekolah dan Masyarakat
11. Apa fungsi, tujuan, manfaat dan bentuk-bentuk operasional dari hubungan
sekolah dengan masyarakat?
12.
Apa sifat hubungan sekolah
dengan masyarakat?
13.
Apa pengertian dari administrasi keuangan sekolah?
14.
Apa tujuan dari administrasi keuangan sekolah?
15.
Apa asas-asas dalam anggaran?
16.
Apa prinsip-prinsip dari administrasi keuangan?
17.
Apa kandungan penting administrasi keuangan sekolah?
18.
Hal-hal apa yang berpengaruh terhadap pembiayaan
pendidikan?
19.
Darimana sumber biaya pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Administrasi Sarana Dan Prasarana Pendidikan
1.
Pengertian
Secara etimologis (arti kata) prasarana berarti alat tidak langsung
untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya: lokasi/tempat, bangunan
sekolah, lapangan olahraga, uang dan sebagainya. Sedangkan sarana seperti alat
langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Misalnya: ruang, buku, perpustakaan,
laboratorium dan sebagainya.[1]
Administrasi
sarana dan prasarana pendidikan merupakan seluruh proses kegiatan yang
direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta
pembinaan secara kontinu terhadap benda-benda pendidikan, agar senantiasa
siap-pakai (ready for use) dalam proses balajar mengajar (PBM) sehingga
PBM semakin efektif dan efisien guna membantu tercapainya tujuan pendidikan
yang telah ditetapkan.
Proses belajar
mengajar (PBM) atau kegiatan belajar mengajar (KBM) akan semakin sukses bila ditunjang
dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, sehingga pemerintah pun
selalu berupaya untuk secara terus-menerus melengkapi sarana dan prasarana
pendidikan seluruh jenjang dan tingkat pendidikan, sehingga kekayaan fisik
negara yang berupa sarana dan prasarana pendidikan telah menjadi sangat besar.[2]
Dengan demikian dapat di tarik suatau
kesimpulan bahwa Administrasi sarana dan prasarana pendidikan itu adalah
semua komponen yang sacara langsung maupun tidak langsung menunjang
jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan itu
sendiri.
2.
Macam – Macam
Sarana dan Prasarana
Adapun macam-macam sarana dan prasarana yang di
perlukan di sekolah demi kelancaran dan keberhasilan kegiatan proses
pendidikan sekolah adalah :
a)
Ruang kelas: tempat siswa dan guru melaksanakan
proses kegiatan belajar mengajar.
b)
Ruang perpustakaan: tempat koleksi berbagai
jenis bacaan bagi siswa dan dari sinilah siswa dapat menambah pengetahuan.
c)
Ruang laboratorium ( tempat praktek) : tempat
siswa mengembangkan pengetahuan sikap dan keterampilan serta tempat meneliti
dengan menggunakan media yang ada untuk memecahkan suatu masalah atau konsep
pengetahuan .
d)
Ruang keterampilan adalah tempat siswa
melaksanakan latihan mengenai keterampilan tertentu.
e)
Ruang kesenian: adalah tempat berlangsungnya
kegiatan-kegiatan seni.
f)
Fasilitas olah raga: tempat berlangsungnya
latihan-latihan olahraga.[3]
3.
Komponen-Komponen
Administrasi Sarana dan Prasarana Pendidikan
Sebagai bahan pertimbangan dalam peningkatan sarana dan prasarana
sekolah/madrasah yang perlu diperhatikan komponen-komponen administrasi sarana dan
prasarana pendidikan, yaitu:
a)
Lahan,
misalnya apakah luasnya sesuai dengan rasio murid, dekat dengan pemukiman, dan
sebagainya.
b)
Bangunan,
misalnya kesesuaian bangunan dengan rasio murid.
c)
Tingkat
keamanan lokasi lahan dan bangunan.
d)
Prasarana
minimal yang harus dimiliki (kondisi prasarana dan kesesuaian dengan rasio
siswa).
e)
Kondisi
sarana (jenis, rasio, dan diskripsinya).[4]
4.
Fasilitas dan benda-benda pendidikan
Fasilitas
dan benda-benda pendidikan dapat ditinjau dari fungsi, jenis, atau sifatnya.yaitu:
a)
Ditinjau dari fungsinya
Ditinjau
dari fungsinya, prasarana pendidikan berfungsi tidak langsung (kehadirannya tidak
sangat menentukan), yang termasuk dalam prasarana pendidikan adalah tanah,
halaman, gedung/bangunan sekolah, dsb.
Sedangkan sarana pendidikan
berfungsi langsung (kehadirannya sangat menentukan) terhadap PBM, seperti alat
pelajaran, alat peraga, alat praktek dan media pendidikan.
b)
Ditinjau dari jenisnya
Ditinjau dari jenisnya, fasilitas pendidikan
dapat dibedakan menjadi fasilitas fisik, dan fasilitas nonfisik.
Fasilitas
fisik atau fasilitas material yaitu segala sesuatu yang berwujud benda mati
atau dibedakan yang mempunyai peran untuk memudahkan atau melancarkan sesuatu
usaha, seperti komputer, alat peraga, media, dan sebagainya.
Fasilitas
nonfisik yakni sesuatu yang bukan benda mati, atau kurang dapat disebut benda
atau dibendakan, yang mempunyai peranan untuk memudahkan atau melancarkan
sesuatu usaha, seperti manusia, jasa, uang
c)
Ditinjau dari sifat barangnya
Ditinjau
dari sifat barangnya, benda-benda pendidikan dapat dibedakan menjadi barang
bergerak dan barang tidak bergerak, yang kesemuanya dapat mendukung pelaksanaan tugas.
5.
Kegiatan Administrasi Sarana dan Prasarana
Secara kronologis operasional kegiatan administrasi sarana dan
prasarana pendidikan meliputi:
a)
Perencanaan
pengadaan barang.
b)
Pengadaan
barang.
c)
Penyimpanan,
inventarisasi, penyaluran.
d)
Pemeliharaan,
rehabilitasi.
e)
Penghapusan
dan penyingkiran.
f)
Pengendalian.[5]
6.
Hubungan Antara
Sarana dan Prasarana dengan Program Pengajaran
Jenis
peralatan dan perlengkapan yang di sediakan di sekolah dan cara-cara pengadministrasiannya
mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar.
Persediaan yang
kurang dan tidak memadai akan menghambat proses belajar mengajar ,
demikian pula administrasinya yang jelek akan mengurangi kegunaan alat-alat
dan perlengkapan tersebut, sekalipun peralatan dan perlengkapan pengajaran
itu keadaannya istimewa. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah
penyediaan sarana di sekolah di sesuaikan dengan kebutuhan anak didik serta
kegunaan hasilnya di masa mendatang.
7.
Fungsi
Administrasi Sarana dan Prasarana
Selain
memberi makna penting bagi terciptanya dan terpeliharanya kondisi sekolah
yang optimal administrasi sarana dan prasarana sekolah juga berfungsi sebagai:
a)
Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala
kebutuhan yang di perlukan dalam proses belajar mengajar.
b)
Memelihara agar tugas-tugas murid yang di
berikan oleh guru dapat terlaksana dengan lancar dan optimal.
8.
Tujuan
Administrasi Sarana dan Prasarana
Adapun tujuan dari administrasi sarana dan
prasarana itu adalah :
a)
Mewujudkan situasi dan kondisi sekolah yang
baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar ,yang
memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
b)
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat
menghalangi terwujudnya interaksi dalam pembelajaran.
c)
Menyediakan dan mengatur fasilitas serta
perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan
lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam proses pembelajaran.
d)
Membina dan membimbing siswa sesuai dengan
latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat- sifat individunya.[6]
B. Administrasi Keuangan Sekolah
1.
Pengertian
Keuangan
adalah semua hak yaitu hak milik organisasi, lembaga atau instansi yang dapat
dinilai dengan uang, termasuk didalamnya adalah segala sesuatu yang berupa uang
atau barang yang dapat dinilai dengan uang dan dapat dijadikan milik organisasi
yang karena hak atau kewajiban menjadi organisasi.[7]
Administrasi
keuangan sekolah/pendidikan merupakan seluruh proses kegiatan yang
direncanakan dan dilaksanakan/diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh,
serta pembinaan secara kontinu terhadap biaya operasional sekolah/pendidikan,
sehingga kegiatan operasional pendidikan semakin efektif dan efisien, demi
menbantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[8]
Administasi keuangan sekolah adalah suatu usaha
dan kegiatan pengaturan uang yang meliputi kegiatan perencanaan, sumber
keuangan, pengalokasian, penganggaran, pemanfaatan dana, pembukuan,
penyimpanan, pemeriksaan dan pengawasan, pertanggungjawaban dan pelaporan uang
yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa administrasi keuangan sekolah
adalah usaha bersama untuk pengaturan keuangan sekolah guna mencapai tujuan
pendidikan disekolah secara optimal.
2.
Tujuan Administrasi Keuangan Sekolah
Tujuan
administrasi keuangan sekolah adalah untuk mewujudkan :
a)
Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan
secara efisien.
b)
Terjaminnya kelangsungan hidup dan perkembangan
sekolah.
c)
Tercegahnya kekeliruan, kebocoran atau
penyimpangan penggunaan dana.
d)
Terjaminnya akuntabilitas perkembangan sekolah.
3.
Asas-Asas Dalam Anggaran
Adapun asas yang digunakan dalam anggaran,
yaitu :
1. Asas
Plafond
Artinya bahwa Anggaran Belanja yang boleh diminta tidak dapat melebihi
jumlah tertinggi yang
telah ditentukan.
2. Asas
Pengeluaran berdasarkan Anggaran
Artinya bahwa pengeluaran pembelanjaan harus
didasarkan atas anggaran yang telah ditetapkan.
3. Asas
Tidak Langsung
Yaitu suatu ketentuan bahwa setiap penerimaan
uang tidak boleh digunakan secara langsung untuk suatu keperluan pengeluaran.
4.
Prinsip-Prinsip Administrasi Keuangan
Prinsip-prinsip administrasi keuangan
diantaranya sebagai berikut :
a)
Efisien
b)
Efektif
c)
Terbuka dan Bersaing
d)
Transparan
e)
Adil
f)
Akuntabel
5.
Kandungan Penting Administrasi Keuangan Sekolah
Kandungan penting dalam administrasi keuagan
sekolah diantaranya sebagai berikut :
a) Perencanaan
b)
Pelaksanaan
c)
Auditing (Pemeriksaan)
d)
Laporan
Pertangungjawaban
6.
Hal-Hal Yang Berpengaruh Terhadap Pembiayaan
Pendidikan
Pembiayaan
pendidikan tidak pernah tetap, tapi selalu berkembang dari tahun ke tahun.
Secara garis besar pembiayaan ini dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor
eksternal dan faktor internal.
a)
Faktor Eksternal
Yaitu
faktor-faktor yang ada diluar sistem
pendidikan, diantaranya :
1) Kebijaksanaan
Pemerintah
Pemberian hak kepada warga negara untuk
memperoleh pendidikan merupakan kepentingan suatu bangsa agar mampu
mempertahankan dan mengembangkan bangsanya. Namun demikian agar tujuan itu
tercapai Pemerintah memberikan fasilitas-fasilitas berupa hal-hal yang bersifat
meringankan dan menunjang pendidikan, misalnya:
ü
Pemberian pembiayaan yang besar bagi pendirian
gedung dan kelengakapannya.
ü
Meringankan beban siswa dalam bentuk pembebasan
SPP, pengaturan pungutan, pemberian beasiswa
ü
Kenaikan
gaji guru,dan sebagainya.
2) Tuntutan akan Pendidikan
Kenaikan tuntutan akan pendidkan terjadi di
mana-mana. Di dalam negeri tuntutan pendidikan ditandai oleh segi kuantitas
yaitu semakin banyaknya orang yang mengingingkan pendidikan, dan segi kualitas
yaitu naiknya keinginan memperoleh tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kalau
dahulu orang sudah puas dengan tingak pendidikan SD, maka kini orang belum puas
kalau belum menyandang gelar. Bagi suatu bangsa kenaikan tuntutan ini juga mempertinggi kualitas bangsa dan menaikan
taraf hidup. Di luar pendidikan selalu dicari dinegara-negara yang melaksanakan
sistem pendidikan yang lebih baik dan lebih bervariasi. Hal ini berarti bahwa
bukan hanya terjadi aliran dari negara berkembang ke negara maju, tetapi hal
yang sebaliknya mungkin juga terjadi. Banyak orang dari negara maju menuntutn
ilmu di negara berkembang karena ingin mendalami hal-hal yang menarik
perhatiannya.
3) Adanya
inflasi
Yang dimaksud dengan inflasi adalah keadaan
menurunnya nilai mata uang suatu negara. Faktor inflasi sangat berpengaruh
terhadap biaya pendidkan karena harga dan satuan biaya tentu naik mengikuti
kenaikan inflasi.
b) Faktor
Eksternal
1) Tujuan
Pendidikan
Contoh
tujuan pendidikan berpengaruh terhadap besarnya biaya pendidikan adalah tujuan
institusional suatu lembaga pendidikan. Berubahnya tujuan Pendidikan Guru ke
arah penguasaan 10 kompetensi dibandingkan dengan tujuan lama mempengaruhi
besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
2) Pendekatan
yang digunakan
Strategi belajar-mengajar cara lama, misalnya
dengan metode ceramah dengan pengelolaan klasikal tentu lebih murah jika
dibandingkan dengan metode lain dan pendekatan secara individu.
3) Materi
yang disajikan
Materi pelajaran yang menuntut dilaksanakannya
praktek bengkel dan laboratorium menuntut lebih banyak biaya jika dibandingkan
dengan materi pelajaran yang hanya dilaksanakan dengan penyampaian teori.
4) Tingkat dan Jenis Pendidikan
Dua dimensi yang sangat berpengaruh terhadap
biaya pendidikan adalah tingkat dan jenis pendidikan. Dengan dasar pertimbangan
lamanya jam belajar, banyak ragamnya
bidang pelajaran, jenis materi yang diajarakan, banyak guru yang terlibat sekaligus
kualitasnya, tuntutan terhadap kompetensi lulusannya, biaya pendidikan di SD
akan jauh berbeda dengan biaya pendidikan di PT, apalagi bagi jurusan yang
banyak memerlukan praktek.
7.
Sumber Biaya
Pendidikan
Sesuai
dengan ketentuan yang tertera dalam GBHN bahwa pembangunan bangsa harus
dibiayai terutama dari dana dalam negeri serta ketentuan bahwa pendidikan
merupakan tanggungjawab negara, masyarakat dan orang tua, maka secara garis
besar biaya pendidikan bersumber dari empat arah, yaitu:
a)
Dari pemerintah
b)
Dari Orang Tua Murid
c)
Dari Masyarakat
d)
Dari dana Bantuan atau Pinjaman Pemerintah Luar
Negeri[9]
C. Administrasi Hubungan Sekolah dan
Masyarakat
1.
Pengertian
Istilah “sekolah” disini merupakan konsep yang luas, yang mencakup
baik lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan nonformal. Sedangkan
istilah “masyarakat” merupakan konsep yang mengacu kepada semua individu,
kelompok, lembaga, atau organisasi yang berada di luar sekolah sebagai lembaga
pendidikan.
Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (HUSEMAS) merupakan
seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan
bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan simpati
dari masyarakat pada umumnya serta dari publik pada khususnya, sehingga
kegiatan operasional sekolah semakin efektif dan efesien, demi membantu
tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Pada hakikatnya sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan
dengan masyarakat, khususnya masyarakat publik, seperti para orang tua murid
atau anggota Badan Penyelenggaraan Pendidikan (BP3). Demikian pula hasil
pendidikan pelaksanaan sekolah akan menjadi harapan bahkan dambaan masyarakat,
maka kegiatan-kegiatan sekolah juga harus terpadu dengan derap masyarakat.
Sekolah juga menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan
masyarakat. Tetapi orang tua hanya sebagai pembatu penyelenggara pendidikan,
dan tidak berhak untuk mempengaruhi apalagi mengubah arah sasaran pendidikan.
Sekolah harus tetap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
masyarakat, sehingga melalui kegiatan-kegiatan kurikuler maupun ekstra
kurikuler, sekolah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan sikap
para peserta didik agar dapat mempersiapkan dirinya untuk menyongsong
tugas-tugas dimasa depan, serta dapat membangun dirinya demi dapat ikut
bertanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat, bangsa dan negara, baik
secara individual maupun secara berkelompok.[10]
2.
Konsep-Konsep Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Salah satu alasan perlunya dukungan masyarakat ialah karena sekolah
memerlukan biaya dari masyarakat. Tugas disini ialah menumbuhkan rasa ikut
memiliki (sense belonging) masyarakat terhadap sekolah. Menurut
Ametembun ada beberapa konsep hubungan sekolah dan masyarakat,
diantaranya:
a)
Konsep
menunggu.
b)
Konsep
preventif.
c)
Konsep
tanda bahaya.
d)
Konsep
pameran.
e)
Konsep
prestise.
f)
Konsep
partnership.
g)
Konsep
social leadership.
Sementara menurut Balai Pendidikan Guru tertulis Jawa Barat,
terdapat 4 jenis hubungan sekolah dan
masyarakat, yakni:
a)
Sikap
acuh tak acuh antara kedua belah pihak.
b)
Publisitas.
c)
Interpretasi
pendidikan.
d)
Usaha
bersama.[11]
3.
Fungsi, Manfaat dan Tujuan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Berdasarkan pengertian Husemas yang telah disebutkan sebelumnya,
maka fungsi pokok dari Husemas adalah menarik simpati masyarakat pada umumnya
serta publik (masyarakat terdekat dan langsung terkait) khususnya, sehingga
dapat meningkatkan relasi serta animo masyarakat terhadap sekolah tersebut,
yang pada akhirnya menambah “income” bagi sekolah yang bermanfaat bagi bantuan
terhadap tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Manfaat dari Husemas adalah menambah simpati masyarakat yang dapat
meningkatkan harga diri (prestise) sekolah, serta dukungan masyarakat terhadap
sekolah secara spiritual dan material/finansial.[12]
Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan
hubungan sekolah dan masyarakat bertujuan untuk:
a)
Memelihara
kelangsungan hidup sekolah
b)
Meningkatkan
mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan
c)
Memperlancar
proses belajar-mengajar
d)
Memperoleh
dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan
pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan jika ditinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri,
tujuan hubungannya dengan sekolah adalah untuk:
a)
Memajukan
dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam bidang
mental-spritual.
b)
Memperoleh
bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh
masyarakat.
c)
Memperoleh
kembali anggota-anggota masyarakat yang makin menungkatkan kemampuannya.
Secara lebih konkret lagi, tujuan diselenggarakannya hubungan
sekolah dan masyarakat adalah:
a)
Mengenalkan
pentingnya sekolah bagi masyarakat
b)
Mendapatkan
dukungan dan bantuan morel maupun finansial yang diperlukan bagi pengembangan
sekolah
c)
Memberikan
informasi bagi masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program sekolah
d)
Memperkaya
atau memperluas program sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
masyarakat
e)
Mengembangkan
kerja sama yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendidik
anak-anak.
Menurut Elsbree dan McNally, bermacam-macam tujuan seperti
dikemukakan di atas dapat dikelompokkan menjadi tiga tujuan pokok, yaitu:
a)
Untuk
mengembangkan mutu belajar dan pertumbuhan anak-anak
b)
Untuk
mempertinggi tujuan-tujuan dan mutu kehidupan masyarakat
c)
Untuk
mengembangkan pengertian, antusiasme masyarakat dalam membantu pendidikan yang
diselenggrakan oleh pemerintah.
Namun menurut Bent dan Kronenberg, ada 3 tujuan utama Husemas
yaitu:
1)
Untuk
mencegah kesalahpahaman antara masyarakat terhadap sekolah (to prevent
misunderstanding)
2)
Untuk
memperoleh sumbangan-sumbangan finansial dan material (to secure financial
support)
3)
Untuk
menjalin kerja sama dalam perbuatan kebijaksanaan-kebijaksanaan (to secure
cooperation in policy making)
4.
Jenis-jenis Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Hubungan kerja sama sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan
menjadi tiga jenis hubungan, yaitu:
a)
Hubungan
edukatif
Hubungan edukatif yang
dimaksud adalah hubungan kerja sama dalam hal mendidik/murid, antara guru di
sekolah dan orang tua di dalam keluarga.
b)
Hubungan Kultural
Yang dimaksud dengan
hubungan kulturul disini adalah usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat
yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebidayaan masyarakat
tempat sekolah itu berada.
c)
Hubungan institusional
Yakni hubungan kerja sama
antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain, baik
swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah dengan
sekolah-sekolah lain, dengan kepala pemerintah setempat, jawatan penerangan,
jawatan pertanian, perikanan, dan peternakan, dengan peruusahaan-perusahaan
negara atau swasta, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan
pada umumnya.
5.
Jalur-jalur Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Ada beberapa jalur yang mungkin dapat ditempuh, namun jalur yang
paling menguntungkan adalah jalur yang langsung berhubungan dengan siswa dan
situasi pertemuan langsung (face to face). Jalur lain yang mungkin dapat
ditempuh dalam hubungan sekolah dan masyarakat adalah:
a)
Anak/murid.
b)
Surat-surat
selebaran dan buletin sekolah.
c)
Media
massa.
d)
Pertemuan
informasi.
e)
Laporan
kemajuan murid (rapor).
f)
Kontak
formal.
g)
Memanfaatkan
sumber-sumber yang tersedia di masyarakat.
h)
Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3).[13]
6.
Bentuk-Bentuk Operasional Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat.
Bentuk-bentuk operasional dari Husemas bisa bermacam-macam
tergantung pada kretivitas sekolah, kondisi dan situasi sekolah, fasilitas dan
sebagainya.
- Di bidang sarana akademik : tinggi/rendahnya prestasi lulusan,
penelitian, karya ilmiah, jumlah dan tingkat keserjanaan guru-gurunya.
- Di bidang prasarana pendidikan : gedung/ bangunan sekolah termasuk
ruang-ruang belajar, ruang praktikum, ruang kantor, dll.
- Di bidang sosial partisipasi sekolah dengan masyarakat sekitarnya,
seperti kerja bakti, perayaan-perayaan hari besar nasional dan agama.
- Kegiatan karyawisata.
- Kegiatan olahraga dan kesenian.
- Menyediakan fasilitas sekolah untuk kepentingan masyarakat sekitar
sepanjang tidak mengganggu kelancaran PBM.
- Mengikutsertakan sivitas akademika sekolah dalam kegiatan-kegiatan
masyarakat sekitarnya.
- Mengikut sertakan tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka masyarakat dalam
kegaiatn kurikuler dan ekstra kurikuler sekolah.
7.
Sifat-sifat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Adapun sifat hubungan sekolah dengan masyarakat dapat merupakan:
a)
Hubungan
timbal balik yang menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak.
b)
Hubungan
yang bersifat sukarela berdasarkan prinsip bahwa sekolah merupakan bagian yang
tak terpisahkan(integral) dari masyarakat.
c)
Hubungan
yang bersifat kontinu atau berkesinambungan antara sekolah dengan masyarakat.
d)
Hubungan
keluar kampus atau “external publik relation” guna menambah simpati masyarakat
terhadap sekolah.
e)
Hubungan
kedalam kampus atau “internal publik relation” guna menambah keyakinan atau
mempertebal pengertian para sivitas akademika tentang segala pemilikan material
dan nonmaterial sekolah.[14]
Simpulan
Ruang lingkup administrasi dan manajemen pendidikan, diantaranya
sebagai berikut:
a.
Administrasi Sarana dan Prasarana
Administrasi sarana dan prasarana pendidikan merupakan seluruh
proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan
bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu terhadap benda-benda
pendidikan, agar senantiasa siap-pakai (ready for use) dalam proses
balajar mengajar (PBM) sehingga PBM semakin efektif dan efisien guna membantu
tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
b.
Administrasi Keuangan
Administrasi keuangan
sekolah/pendidikan merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan
dilaksanakan/diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh, serta pembinaan
secara kontinu terhadap biaya operasional sekolah/pendidikan, sehingga kegiatan
operasional pendidikan semakin efektif dan efisien, demi menbantu tercapainya
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
c.
Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (HUSEMAS) merupakan
seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan
bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan simpati
dari masyarakat pada umumnya serta dari publik pada khususnya, sehingga
kegiatan operasional sekolah semakin efektif dan efesien, demi membantu
tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Daftar Pustaka
Prof.
M. Daryanto. 2010.Administrasi Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
Gunawan,
Drs. Ary H.2002. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta:
Rineka Cipta.
Prof. Dr. H. Muhaimin, MA. 2010. “MANAJEMEN PENDIDIKAN”
aplikasinya dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah/madrasah. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
[1] M. Daryanto, Administrasi
Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), hal.51
[2] Ary H. Gunawan,
Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikaan Mikro), (Jakarta: PT. Rineka
Cipta,1996), hal. 114
[3] http//
imronfauzi.wordpress.com2008/06/12/administrasi-sarana-dan prasarana-pendidikan/
( 4 mei 2013).
[4]
Muhaimin, Manajemen
Pendidikan (Aplikasinya dalam penyusunan rencana
pengembangan sekolah/madrasah), (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group,2010), hal.267
[5] Ary Gunawan, Administrasi
Sekolah ( Administrasi Pendidikan Mikro), op. Cit., hal. 116
[6] http//
imronfauzi.wordpress.com2008/06/12/administrasi-sarana-dan
prasarana-pendidikan/ 4 mei 2013.
[7] Ahmad Rohani
dan Abu Ahmadi,Pedoman Penyelenggaraan(Administrasi Pendidikan Sekolah),(Jakarta:Bumi
Aksara,1991),hal.62
[8] Ary
H.Gunawan,op.cit.,hal.160
[11]Yusak
Burhanuddin, Administrasi Pendidikan,(Bandung: Pustaka Setia, 2005) h.
91-93
[12]Ary H. Gunawan,
Op-Cit. h. 188
[13]Yusak
Burhanuddin, Op-Cit. h. 93-96
[14]Ary H. Gunawan,
Op-Cit. h. 188-190
Tidak ada komentar:
Posting Komentar