Jumat, 10 Mei 2013

kemunduran kerajaan turki usmani


Kemunduran Sains Pada Peradaban Islam
(Kerajaan Turki Usmani)
A.    Kondisi Sains pada kerajaan Turki Usmani
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak menfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah, di dalam khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Usmani.
Dalam kaitannya dengan masalah ilmu pengetahuan dan teknologi kerajaan Turki Usmani mengalami banyak kemandegan. Pada masa ini, filsafat, ilmu sejarah, astronomi, kedokteran, mekanika, dan lain-lain tidak berkembang, sementara di Eropa pada saat yang sama mengalami kemajuan.
Kerajaan kurang berhasil dalam IPTEK disebabkan hanya mengutamakan kekuatan militer. Kekuatan militer tidak diimbangi oleh kemajuan sains, tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih majudan canggih.
Kemandegan sains kerajaan Turki Usmani pada kaitannya dengan perkembangan metode berpikir yang kolot dan tradisional, di kalangan ulama mereka cenderung menutup diri dari pengaruh kemajuan Eropa dan ini juga diakibatkan dengan menurunnya semangat berpikir bebas akibat pemahaman tasauf.
Demikianlah keadaan IPTEK Turki Usmani, pada akhirnya Turki Usmani runtuh karena banyak diserang oleh Eropa yang didukung dengan kecanggihan yang terus menerus berkembang di tengah-tengah mereka.[1]
Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan mesjid yang indah, seperti Mesjid Al-Muhammadi atau Mesjid Jami’ Sultan Muhammad Al-Fatih, Mesjid Agung Sulaiman, dan Mesjid Abi Ayyub Al-Anshari. Mesjid-mesjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafinya adalah mesjid yang asalnya gereja Aya Sofia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar Kristiani yang ada sebelumnya.
Pada masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun mesjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, vila, dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dari bangunan itu dibangun dibawah koordinator Sinan, seorang artsitek asal Anatolia.
Bagaimanapun, kerajaan Turki Usmani banyak berjasa, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam ke benua Eropa. Ekspansi kerajaan ini untuk pertama kalinya lebih banyak ditujukan ke Eropa Timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agam Islam.[2]
B.     Kemunduran Kerajaan Turki Usmani pada abad ke-17
Periode 1700-1800 merupakan fase kemunduran dan merupakan kemunduran Islam II pada masa itu, kerajaan Turki Usmani terpukul di Eropa, kerajaan Syafawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afgan, daerah kekuasaan Mughal di India terpencil oleh serangan raja-raja India, kekuatan militer dan politik, dagang, dan ekonomi umat Islam menurun.[3]
Kerajaan Turki Usmani pada abad ke-17 mengalami banyak kemunduran khususnya dibidang  politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Faktor-faktor penyebab kemunduran kerajaan Turki Usmani diantaranya:
1)      Wilayah kekuasaan yang sangat luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para pengausa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun negara.
2)      Heterogenitas penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, Aljazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunan, Yoguslafia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam, baik dari segi agama, ras etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut. Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatar belakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan. 
3)      Kelemahan para penguasa
Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Kerajaan Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.
4)      Budaya pungli
Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak emmberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
5)      Pemberontakan tentara Jenissari
Kemajuan ekspansi kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tenatra jenissari. Dengan demikian, dapat dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan tentara jenissari terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M,1826 M.
6)      Merosotnya Ekonomi
Akibat perang yang tak pernah berhenti, perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.
7)      Terjadinya Stagnasi dalam lapangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kerajaan Turki Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kerajaan ini tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tidak terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kerajaan Turki Usmani, ada kaitan dengan perkembangan metode berpikir tradisional di kalangan umat Islam. Hal itu juga sejalan dengan menurunnya semangat berpikiran bebas akibat tidak berkembangnya pemikiran filsafat sejak masa Al-Ghazali.[4] 
 Secara spesifik, karakteristik Islam pada abad ke-17 ditandai dengan ketertutupan (psikologi orang bangkrut) yang sebelumnya jaya. Islam lebih bersifat reaksioner terhadap kemajuan Barat, perpecahan internal masih tetap kental antarumat Islam.


[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,(Bandung: Pustaka Setia, 2008) h.251-252
[2] Badri Yatim, SEJARAH PERADABAN ISLAM, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011) h.135-137
[3] Dedi Supriyadi, Op-Cit. h.251-252
[4] Badri Yatim,Op-Cit, h. 167-168

Tidak ada komentar:

Posting Komentar