Minggu, 09 Januari 2011

foto alami








pembaharuan islam


1.      APA ITU PEMBAHARUAN ISLAM
Istilah pembaharuan ini, oleh Harun Nasution cenderung menganalogikan istilah “pembaharuan” dengan “modernism”, karena istilah terakhir dalam masyarakat barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham istiadat, institusi lama dsb. Untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PEMBAHARUAN ISLAM
·         Kepercayaan terhadap Barat secara keseluruhan yang dialami oleh generasi baru muslim.
·         Gagalnya system social yang bertumpu pada kapitalisme dan sosialisme.
·         Gaya hidup elit sekuler di negara-negara Islam.
·         Hasrat untuk memperoleh kekuasaan diantara segmen kelas menengah yang semakin berkembang yang tidak dapat diakomodasi secara politik.
·         pencarian keamanan psikologis diantara kaum pendatang baru di daerah perkotaan.
·         Lingkungan kota.
·         Ketahanan ekonomi negara-negara Islam tertentu akibat melonjaknya harga minyak.
·         Rasa percaya diri akan masa depan akibat kemenangan Mesir atas Israel tahun 1973, Revolusi Iran 1979, dan fajar kemunculan kembali peradaban Islam abad ke 15 Hijriah.
CIRI-CIRI PEMBARUAN ISLAM:
ü  Kepercayaan yang kuat bahwa masyarakat harsu ditata atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah / hadist nabi.
ü  Kebuadayaan barat harus ditolak. Meskipun ada yang mau menerima kemajuan-kemajuan barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
a.       Di Negara Turki
Pembaharuan di Turki sudah dimulai sejak Sultan Mahmud II (1785—M) berkuasa. Sultan ini secara radikal memulai gerakannya merombak struktur pengelolaan kenegaraan antara eksekutif dan yudikatif. Di bidang hukum, ia memilah antara urusan hukum Islam dan hukum Barat (sekuler). Selain pembaharuan di bidang militer, ia juga merubah kurikulum pendidikan menjadi lebih apresiatif dengan materi-materi bacaan dari Barat. Banyak pelajar yang atas perintahnya dikirim untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi ke Eropa. Ide-ide pembaharuannya ini kemudian dilanjutkan oleh gerakan Tanzimat dengan tokoh sentralnya Mustafa Rasyid Pasya (1800—M) dan Mustafa Sami.
Gerakan pada puncaknya bermaksud menumbangkan kekuasaan Sultan Abdul Hamid yang berakhir kegagalan. Sebab-sebab kegagalannya antara lain:
Ø  Ide yang diusungnya tidak sepenuhnya terpahami oleh kalangan istana;
Ø  Gerakannya tidak memiliki basis dukungan yang cukup dari kalangan menengah yang bisa menjembataninya berhubungan dengan kalangan lapisan bawah. Jadi cenderung bersifat elitis dan eksklusif;
Ø   Tidak adanya kekuatan yang cukup untuk menandingi pilar-pilar kekuasaan Sultan.
Dengan semakin absolutnya kediktatoran Sultan, memicu munculnya kaum oposan dari beragam kalangan. Salah satunya adalah gerakan Turki Muda di bawah kepemimpinan Ahmed Riza, Mehmed Murad dan Pangeran Sihabuddin. Dari ketiga tokoh yang telah akrab bersentuhan dengan ide-ide Barat ini lahir ide-ide rekonstruksi Turki menjadi negara konstitusional dengan struktur yang terdesentralisasi.
Jalur pendidikan tetap menjadi prioritas sebagai instrumen perubahan yang vital. Pemuka Turki Muda tersebut kemudian bergabung bersama kalangan militer dan elemen lainnya dalam kelompok Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terekki) yang menginisiasi pemberontakan tahun1908 M. Sultan Abdul Hamid akhirnya menerima tuntutan untuk mengadakan pemilu untuk membentuk parlemen yang kemudian diketuai oleh Ahmed Riza. Peristiwa politik tersebut mempengaruhi stabilitas negara, dengan tanpa dukungan dari kelompok ulama konservatif dan tarekat Bektasyi yang berpengaruh, maka Sultan Mehmed V akhirnya naik ke tampuk kekuasaan.
 Pemilu selanjutnya diadakan kembali tahun 1912 M yang dimenangkan oleh kelompok Ittihad ve Terekki. Kekuasaan selanjutnya dipegang oleh wakil dari kalangan militer di bawah Enver Pasya, Jemal Pasya, dan Talat Pasya. Modernisasi Turki berlangsung kembali di segala aspeknya.
Dari sejarah pembaharuan Turki selanjutnya didapati 3 (tiga) orientasi gerakan yang berbeda:
*      Tradisionalis, yang kukuh dengan ide Islamisme dan perlu tegaknya pemerintahan Islam. Tokoh utamanya adalah Mehmed Akif (1870-1938 M);
*       Nasionalis, yang mengembangkan ide pan-Turkisme yang bercita-cita tegaknya negara Turki yang memiliki identitas kultural otentik yang khas dan berbeda dari masyarakat lainnya. Tokoh sayap gerakan ini adalah Zia Gokalp (1875-1924 M);
*       “Modernis”, yang bereaksi terhadap kelompok tradisionalis dengan mengusung Islam rasional yang akrab dengan ide-ide Barat.
 Mereka menyerukan perlunya masyarakat Turki mengambil pola Barat bagi kemajuan negerinya. Dalam banyak hal ketiga aliran ini memiliki perbedaan pandangan yang khas. Dalam soal institusi kenegaraan misalnya, kaum tradisionalis melihat perlunya negara Islam yang menerapkan hukum-hukum Tuhan. Kaum modernis justru menganjurkan pemisahan antara agama dan negara. Sementara kaum nasionalis lebih melihat pada urgensitas langkah yang dapat mereduksi peran mahkamah syari’ah di bawah Syaikh al-Islam yang terlampau berlebihan.
 Khusus mengenai masalah perempuan, kalangan modernis menyerukan ide-ide persamaan hal termasuk menyerang “kerudung” sebagai simbol yang memasung perempuan. Pemahaman ini jelas ditentang keras oleh kalangan tradisionalis. Adapun kaum nasionalis tampaknya berpihak pada pemikiran atas perlunya partisipasi publik bagi perempuan di bidang sosial maupun ekonomi. Soal poligami, kaum nasionalis menyerukan penghapusannya.
b.      India-Pakistan
Pembaharuan di India Pakistan sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyid Amir Ali dkk. Telah memberikan kontribusi yang berpengaruh bagi perkembangan di India Pakistan . Pemikiran pertama yang kembali kesejarah lama untuk membawa bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan agama kemajuan ialah Sayyid Amir Ali. Bukannya The Sfirit Of Islam di cetak pertama kali di tahun 1891, dalam bukunya itu ia kupas ajaran-ajaran islam mengenai tauhid, ibadat, hari akhirat, kedudukan wanita perbudakan, sistem politik, dan sebagainya. Dan sebagaimana pembaharuan Iqbal, Jinnah, Abu Kalam Azat dan Abu A’la Al-maududi juga memberikan kontribusi yang sangat penting bagi di India Pakistan.
Menurut Sayyid Amir Ali, Pemikiran pertama yang kembali kesejarah lama untuk membawa bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan agama kemajuan. Ideologis Iqbal bahwa antara Islam dan Hindu harus mempunyai masing-masing negara yang terpisah karena tidak mungkin dapat di satukan.
Jinnah juga melakukan pembaharuan demi kemajuan islam modern, Abu Kalam Azat Membandingkan Azad dengan Ali Jinnah adalah sebuah ironi. Azad, yang memiliki keilmuan Islam mempunyai pilihan pandangan nasionalisme sekuler berdasarkan sensibilitas religius personal, sementara Ali Jinnah, seorang modernis dengan didikan agama yang minimal, memilih jalan perjuangan berdirinya negara Islam yang terpisah hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politik praktis.
Abu A’la Maududi berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin.
c.       Pemikir dan Usaha Pembaharuan pada Masa periode Modern
Islam menghendaki manusia menjalankan yang didasarkan rasionalitas atau akal dan iman. Ayat-ayat Al-Qur’an banyak member tingkatan yang lebih tinggi kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, islam pun mengajarkan kepada manusia jangan pernah puas dengan ilmu yang telah dimilikinya, karena berapa pun ilmu dan pengetahuan yang dimiliki itu masih belum cukup untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang ada didunia.
Salah satu pelopor pembaharuan dalaam dunia islam barat adalah suatu aliran yang bernama Wahabiyah. Aliran ini Sangat berpengaruh di abad ke-19. Pelolpornya adalah Muhammad Abdul Wahabiyah (1703-1787) yang berasal dari Nejed, Saudi Arabia. Pemikirannya adalah upaya memperbaiki keadaan umat Islam dan merupakan reaksi dari paham tauhid yang terdapat dikalangan Umat Islam saat itu. Dimana paham-paham tauhid mereka telah tercampur denagn ajaran-ajaran lain sejak abad ke-13.
Pemikiran untuk usaha pembaharuan modern diantaranya oleh:
z  Jamaluddin Al-Afghani
gagasannya untuk mendirikan sebuah Universitas yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan yang modern di Turki menghadapi tantangan yang kuat dari par ulama dan akhirnya ia di usir dari Negara tersebut
z  Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Rida
Guru dan Murid ini mengunjungi beberapa Negara Eropa dan amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Kemudian bergabung dengan gerakan pembaharu Al-Afghani dan ikut juga bergabung dalam penerbitan jurnal Al-Urwah Al-Wustha yang diterbitkan di paris dan di sebarkan di mesir.
z  Sir Sayid Ahmad Khan
Adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat islam. Ia amat serius dengan upayanya menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al-Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al-Qur’an.
d.      Apa Pembaharuan Pemikiran dalam Islam
1)      Ibrahim Mutafarrika
Ibrahim Mutafarrika berperan dalam lapangan non-milliter, pemikiran dan usaha pembaharuannya. Dia berasal dari Hongaria dan ketika ia masih berusia remaja tertangkap dalam peperangan Usmani Hongaria. Ia dibawa ke Istambul, kemudian masuk Islam dan dengan cepat dapat menguasai bahasa dan adat-istiadat Turki. Menurut keterangan ia pandai berbahasa perancis, itali, dan Jerman, disamping bahasa Hungaria dan Turki.
Usaha yang pertamanya dal;am pembaharuan yaitu mampu menghasilkan pembukaan suatu percetakan di Istambul pada tahun 1727. Fatwa yang dimintanya dari Syaikh Al-Islam di kerajaan Usmani, membolehkan percetakan buku-buku selain dari Al-Qur’an, Hadits, FiQh, ilmun kalam, dan Tafsir. Maka ia mencetak buku-buku mengenai Ilmu kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan sebagainya.
Ibrahim Mutafarrika juga pandai mengarang dan buku-buku seperti ilmu bumi, ilmu alam dan ilmu politik serta soal-soal militer, kemajuan teknik Eropa dan kemajuan yang diperoleh Rusia sebagai hasil-hasil dari pembaharuan-pembaharuan yang dijalankan oleh Pater Yang Agung(1682-1725).
Usaha yang dilakukan Ibrahim Mutafarrika untuk memperkenalkan ilmu-ilmu pengetahuan modern dan kemajuan Barat kepada pembaca-pembaca Turki disertai juga usaha-usaha penterjehan buku-buku Barat kedalam bahasa Turki. Suatu baadan penterjemah yang terdiri dari atas 25 anggota yang dibentuk pada tahun 1717.
2)      Syah Waliullah ad-Dahlawi
Ia lahir di Delhi, India.dan mendapat penddidikan dari oarng tuanya Syah Abdul Al-Rahim seorang sufi dan Ulama yang memiliki madrasah. Selanjutnya ia pergi berhaji dan selama satu tahun di hijaz ia sempat belajar pada ulama-ulama yang ada mekkah dan dimadinah. Ia kembali ke Delhi di tahun 1732 dan meneruskan pekerjaannya yang lama sebagai guru. Disamping itu ia gemar mengarang dan banyak meninggalkan karangan-karangan, diantaranya buku Hujjatullah Al-Ballighah.
Syah Waliullah tidak melakukan penolakan total terhadap sufisme, akan tetapi mengusahakan suatu asimilasi antara ortodoksi dan sufisme dan dalam batas-batas tertentu memanfaatkan sufisme untuk tujuan-tujuan pembaharuan sosio-politik dan sosio-ekonomi masyarakat Islam di anak benua India. Syah waliullah melontarkan kritik-kritik tajam terhadap ketidakadilan social dan ekonomi dalam masyarakatnya serta menganjurkan kaum muslimin untuk mulai memikirkan suatu Negara sendiri yang nantinya dapat menjadi bagian dari suatu Negara muslim supra–Natual.
Menurutnya diantara sebab-sebab kelemahan umat islam adalah perubahan system pemerintahan dalam islam dari system kekhalifahan menjadi system kerajaan. System pertama bersifat demokratis, sedangkan system kedua bersifat otoritas. Dalam sejarah, raja-raja islam pada umumnya mempunyai kekuasaan absolute. Besarnya pajak yang harus dibayar kaum petani, buruh dan pedagang mereka tentukan sendiri. Pajak tinggi yang harus dibayar rakyat ini menurut Syah Waliullah membawa pula kelemahan umat islam, menurutnya adalah perubahan system pemerintah dalam islam dari system kekhalifahan menjadi kerajaan.
Di India, umat islam banyak dipengaruhi oleh banyak adat istiadat dan ajaran-ajaran hindu. Keyakinan umat islam harus dibersihkan dari hal-hal tersebut. Mereka mesti membawa kembali kepada ajaran islam yang sebenarnya. Yang sumber ajarannya berasal dari Al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu untuk mengetahui ajaran-ajaran islam sejati, orang harus kembali kepada dua sumber itu, dan bukan kepada buku-buku tafsir, ilmu kalam, fiQh, dan sebagainya.
Dalam rangka pemikiran ajaran murni dan adat istiadat yang masuk kedalam islam sebagaimana diatas tadi, Syah Waliullah memperbedakan antara islam universal dan islam yang bercorak local islam. Islam universal mengandung ajaran-ajaran dasar yang konkrit sedangkan islam local mempunyai corak yang ditentukan oleh kondisi tempat yang bersangkutan. Dengan begitulah islam ada yang bercorak arab. Islam yang bercorak india dan sebagainya.   
3)      Abl al wahhab
Merupakan pelopor aliran Wahabiyah yang mempunyai nama Muhammad Abdul Wahabiyah. Pemikiran Beliau adalah upaya memperbaiki keadaan umat islam dan merupakan reaksi dari paham tauhid yang terdapat dikalangan Umat Islam saat itu. Dimana paham-paham Tauhid mereka telah tercampur dengan ajaran-ajaran lain sejak abad ke-13.
Pokok-pokok pemikirannya antara lain yaitu:
v  Yang harus disembah hanyalah Allah dan orang-orang yang menyembah selain Allah dinyatakan Musyrik.
v  Menyebut nama Nabi, Syeh, atau malaikat sebagai pengantar doa juga  dianggap syirik.
v  Meminta kepada selain Allah juga syirik.
v  Bernazar kepada selain Allah juga dinyatakan syirik.
v  Memperoleh pengetahuan selain dari Al-Qur’an, Hadits, dan Qiyas merupakan kekufuran.
v  Menafsirkan Al-Qur’an dengan ta’wil juga dianggap kufur.
Abl Wahab mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan di abad ke-19 adalah:                  
*        Hanya Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran Islam.
*        Taklid kepada ulama tidak dibenarkan.
*        Pintu ijtihad senantiasa terbuka.
4)      Muhammad Ali Pasya
Negara Mesir sejak masa lampau sudah memiliki budaya yang tinggi. Begitu pula pada saat sekarang ini, Mesir masih memegang peranan penting dalam kancah budaya, sosial dan politik di kawasan Timur Tengah. Hal ini tidak terlepas dari jasa Muhammad Ali Pasya. Adalah seorang keturunan turki yang dilahirkan di kamana yang wafat pada tahun 1765 di Mesir.
Ia tak memperoleh kesempatan untuk masuk sekolah sehingga ia tak pandai dalam baca tulis namun demikian ia mengerti akan pentingnya pendidikan dan imu pengetahuan untuk suatu kemajuan Negara.  Menurut catatan ia mengirim 311 pelajar Mesir ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria. Yang dipentingkan adalah ilmu-ilmu kemiliteran, ilmu administrasi, arsitek, kedokteran dan obat-obatan.
Muhammad Ali Pasya mengundang para ahli militer Barat untuk melatih angkatan bersenjata Mesir dan juga mengirim misi ke luar negeri (Eropa) guna mempelajari ilmu kemiliteran. Pada tahun 1815 untuk pertama kalinya di Mesir didirikan Sekolah Militer yang sebagian besar instrukturnya didatangkan dari Eropa.
Di dalam administrasi pemerintahan, Muhammad Ali Pasya meniru pemerintahan Perancis. Dia mempunyai penasihat politik, tetapi putusan terakhir terletak di tangannya.
Di samping pengiriman orang Mesir ke luar negeri untuk belajar ilmu pengetahuan, di dalam negeri didirikan Sekolah Militer (1815), Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1927), Farmasi (1829) guru-gurunya didatangkan dari Barat. Sekolah-sekolah tersebut mungkin yang pertama dalam dunia Islam.
5)      Al Tahtawi
Al-Tahtawi nama lengkapnya adalah Rafa`ah Bey Badawi Al-tahtawi, lahir di kota Tahta ( di dataran tinggi Mesir ) pada masa pemerintahan Muhammad ali, yaitu pada tahun 1802 M. Orang tuanya dari kaum bangsawan, tetapi sedikit pengalaman.
IDE-IDE AL TAHTAWI DALAM PEMBAHARUAN
*      Bidang Pendidikan
Pemikiran Al Tahtawi mengenai pendidikan ada dua pokok yang di nilai penting :
o   pertama pendidikan yang bersifat universal dan emansipasi wanita. selain itu bahwa masyarakat yang terdidik akan lebih muda dibina dan sekaligus dapat menghindari masing-masing dari pengaruh negatip.
o   Kedua mengenai pendidikan bangsa. Menurutnya bahwa pendidikan bukan hanya terbatas pada kegiatan untuk mengajarkan pengetahuan, melainkan juga untuk membentuk kepribadian dan menenamkan patriotisme. Tanah air ialah tempat tinggal, tanah kelahiran yang dinikmati setiap warganya.
Pemikiran tentang pendidikan yang diterapkan oleh Al Tahtawi di tulis pada buku al-Mursyid al-Amin fi Tarbiyah al-Banin (pedoman tentang pendidikan anak). Buku ini menerangkan tentang ide-ide pendidikan yang meliputi :
Ø  pembagian jenjang pendidikan atas tingkat permulaan, menengah, dan pendidikan tinggi akhir.
Ø  Pendidikan diperlukan, karena pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kesejahteraan .
Anak-anak perempuan harus memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki. Pendidikan terhadap perempuan merupakan suatu hal yang sangat penting karena tiga alasan, yaitu :
·         wanita dapat menjadi istri yang baik dan dapat menjadi mitra suami dalam kehidupan sosial dan intelektual.
·         Agar wanita sebagai istri memiliki keterampilan untuk bekerja dalamn batas-batas kemampuan mereka sebagai wanita.
Di Mesir hak-hak wanita pada masa kurang medapat perhatian sehingga Al Tahtawi tergugah menulis buku : " Al Mursyid Al-Amin Al Banat wal Banin " .
*      Bidang Ekonomi
Beberapa ide yang dikemukan Al Tahtawi mengenai bidang ekonomi, termuat dalam karya tulisannya " kitab Takhlish al Ibriz ila talkhis bariz " antara lain :
o   Aspek pertanian ; orang Mesir terdahulu terkenal kaya hanya tergantung pada tanah Mesir yang baik dan subur. Oeh karena itu bahwa, perlunya meningkatkan perbaikan bidang pertanian misalnya penanaman pohon kapas, Naila Anggur, zaitun, pemerilaharaan leba, ulat sutra, dan termasuk hal-hal yang berkaitan dengan pertanian misalnya pupuk tanaman, irigasi yang cukup, sarana pengangkutan.
o   Dari aspek transportasi; perbaikan jalan yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain, demikian juga jembatan dan pemasangan aat telekomunikasi untuk mempermudah.
Buku atau karya At Tahtawi yang membahas secara rinci mengenai bidang ekonomi, bisa dilihat dalam " Al Manaf al Umumiyyah ".
*      Bidang Kesejahteraan
Pemikiran Al Tahtawi ini, dilandasi oleh tiga hal; yaitu :
1)      Mesir adalah negeri yang subur tanahnya merupakan Negara agraris, bahkan    perekonomiannnya tergantung dari hasil pertanian.
2)      Mesir mempunyai potensi yang besar dalam pembangunan ekonomi.
3)      Mesir pada masa-masa fir'aun telah mencapai kejayaan dalam kesejahteraan rakyat dengan berpegang teguh peda akhlak yang mulia.
*      Bidang Pemerintahan
Dia mengemukakan contoh-contoh yang diteladani yaitu nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat dalam melaksanakan pemerintahan yang mempunyai hak kekuasaan mutlak, yang dalam pelaksanaan pemerintahannya harus dengan adil berdasarkan undang-undang. Untuk kelancaran pelaksanaan undand-ondang itu harus ditangani oleh tiga badan yang terpisah yaitu Legislative, Executive dan judicative (Trias Politica Montesque).
Menurut Al tahtawi, masyarakat suatu Negara, terdiri dari empat (empat) golongan;
ü  Dua golongan yang memerintah.
ü  Dua golongan yang lain diperintah.
ü  Dua golonan yang memerintah adalah raja dan para ulama (dua para ilmuan).
ü  Dua golonan yang diperintah adalah tentara dan para produsen (termasuk semua rakyat).
*      Patrotisme
Al Tahtawi adalah orang Mesir yang pertama penganjur patriotisme. Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata "Wathan" dan "Hubul Wathan" (patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata "Wathan" dan "Hubul Wathan" (patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Al-Tahtawi dalam bukunya "Manahaj" dan "Al-Mursyid".
Mewujudkan masyarakat yang sejati dan patriotisme adalah bila setiap warga Negara punya hak kemerdekaan.
*      Ijtihad dan sain Modern
Ulama yang dibutuhkan untuk membangun pemerintah yang kuat dan maju, adalah ulama yang ikut bertanggung jawab bersama kepala negara, ulama yang berpikir dinamis, memiliki pengetahuan luas dan menjauhi sikap statis agar mampu menginterprestasi kembali konsep agama sesual denga tuntutan zaman.
Sains dan pemikiran rasional pada dasarya tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Karena itu, ijtihad harus dilakukan oleh ulama. Ulama harus dapat merubah masyarakat yang berfikiran statis dan tradisional.
Dalam bukunya “Al Qaul al Sadid fi al ijtihad wa al Taqlid” menguraikan pentingnya ijtihad dan syarat-syarat menjadi mujtahid, serta dalil dalil dan tingkatan para mujtahid.Al Tahtawi meyakinkan dan menekankan kepada kaum muslimin Mesir dan para ulama Azhar agar menerima dan merasakan betapa pentingnya serta manfaatnya sains modern sebagaimana telah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh orang Barat.
Al Tahtawi dalam hal Satalisme ia mencela orang Paris karena mereka tidak percaya pada qadha’ dan qadar. Menurutnya, orang Islam harus percaya pada qadha’ dan qadar Tuhan, tetapi disamping itu harus berusaha. Manusia tidak boleh mengembalikan segala-galanya pada qadha’ dan qadar. Karena pendirian serupa lilin, menunjukkan kelemahan. Tetapi berusaha semaksimal dulu, baru menyerah.
6)      Jamaluddin Al-Afghani
Nama panjang beliau adalah Muhammad Jamaluddin Al Afghani, dilahirkan di Asadabad, Afghanistan pada tahun 1254 H/1838 M. Ayahanda beliau bernama Sayyid Safdar al-Husainiyyah, yang nasabnya bertemu dengan Sayyid Ali al-Turmudzi (seorang perawi hadits yang masyhur yang telah lama bermigrasi ke Kabul) juga dengan nasab Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Afghani menghabiskan sisa umurnya dengan bertualang keliling Eropa untuk berdakwah. Bapak pembaharu Islam ini memang tak memiliki rintangan bahasa karena ia menguasai enam bahasa dunia (Arab, Inggris, Perancis, Turki, Persia, dan Rusia).
Afghani menghembuskan nafasnya yang terakhir karena kanker yang dideritanya sejak tahun 1896. Beliau pulang keharibaan Allah pada tanggal 9 Maret 1897 di Istambul Turki dan dikubur di sana. Jasadnya dipindahkan ke Afghanistan pada tahun 1944. Ustad Abu Rayyah dalam bukunya “Al-Afghani; Sejarah, Risalah dan Prinsip-prinsipnya”, menyatakan, bahwa Al-Afghani meninggal akibat diracun dan ada pendapat kedua yang menyatakan bahwa ada rencana Sultan untuk membinasakannya.
Sebagai seorang filosof, penulis, pemidato, wartawan, dan aktivitas politik dia banyak melakukan perjalanan sejak dari India dan Afghanistan sampai Istambul, Kairo, Paris, dan London, bergaul dengan kaum muslimin untuk menghidupkan kesadaran akan kekuatan mereka yang potensial untuk menghadapi tantangan kolonialisme.
 Salah satu bukti kejeniusan Jamaluddin Al-Afghani adalah Al-Urwatul Wutsqa, sebuah jurnal anti penjajahan yang diterbitkannya di Paris. Al-Afghani mendapat sokongan seorang ulama Mesir, Muhammad Abduh. Keduanya bersamaan menerbitkan majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris pada tahun 1884 selama tujuh bulan dan mencapai 18 nomor. Publikasi ini bukan saja menggoncang dunia Islam, pun telah menimbulkan kegelisahan dunia Barat. Meskipun majalah ini pada akhirnya tidak mampu mempertahankan penerbitannya oleh bermacam-macam rintangan, nomor-nomor lama telah dicetak ulang berkali-kali. Di mana-mana, terutama untuk pasaran dunia Timur, majalah ini dibinasakan penguasa Inggris. Di Mesir dan India penerbitan ini dilarang untuk diedarkan. Akan tetapi, penerbitan ini terus saja beredar meski dengan jalan gelap. Di Indonesia sendiri majalah ini berhasil masuk tidak melalui pelabuhan besar. Ia berhasil masuk lewat kiriman gelap melalui pelabuhan kecil di pantai utara, antaranya pelabuhan Tuban.
Jurnal ini segera menjadi barometer perlawanan imperialis Dunia Islam yang merekam komentar, opini, dan analisis bukan saja dari tokoh-tokoh Islam dunia, tetapi juga ilmuwan-ilmuwan Barat yang penasaran dan kagum dengan kecemerlangan Afghani. Selama mengurus jurnal ini, Afghani harus bolak-balik Paris-London untuk menjembatani diskusi dan pengiriman tulisan para ilmuwan Barat, terutama yang bermarkas di International Lord Salisbury, London.
BEBERAPA KONTRIBUSI AL-AFGHANI
v  Pertama; Perlawanan terhadap kolonial barat yang menjajah negri-negri Islam (terutama terhadap penjajah Inggris). Beliau turut ambil bagian dalam peperangan kemerdekaan India pada bulan Mei 1857, juga mengadakan ziarah ke negri-negri Islam yang berada di bawah tekanan imperialis dan kolonialis barat seperti tersebut di atas.
v  Kedua; upaya melawan pemikiran naturalisme di India, yang mengingkari adanya hakikat ketuhanan. Menurutnya, dasar aliran ini merupakan hawa nafsu yang menggelora dan hanya sebatas egoisme sesaat yang berlebihan tanpa mempertimbangkan kepentingan umat manusia secara keseluruhan.
Hal ini dikarenakan adanya pengingkaran terhadap hakikat Tuhan dan anggapan bahwa materi mampu membuka pintu lebar-lebar bagi terhapusnya kewajiban manusia sebagai hamba Tuhan. Dari situlah Al-Afghani berusaha menghancurkan pemikiran ini dengan menunjukkan bahwa agama mampu memperbaiki kehidupan masyarakat dengan syariat dan ajaran-ajarannya.
7)      Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir di Delta Nil,paada tahun 1849 adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam. Beliau belajar tentang filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamal al-Din al-Afghani, seorang filsuf dan pembaharu yang mengusung gerakan Pan-Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.
 Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun pada 1882, karena keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi. Di Libanon, Abduh sempat giat dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Pada tahun 1884, ia pindah ke Paris, dan bersalam al-Afghani menerbitkan jurnal Islam The Firmest Bond. Salah satu karya Abduh yang terkenal adalah buku berjudul Risalah at-Tawhid yang diterbitkan pada tahun 1897.
beliau berpendapat, Islam akan maju bila umatnya mau belajar, tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu sains. Agar ulama-ualam islam mengerti kebudayaan modern dan demikian dapat mencari penyelesaian yang baik bagi persoalan-persoalan yang timbul dalam zaman modern ini.
Diantara karya tulis beliau yang terkenal adalah:
·         Tafsir Juz Amma
·         Tafsir Al-Qur an Hakim, yang diteruskan oleh muridnya, Muhammad Rasyid Ridha
·         Risalah At Tauhid
·         Banyak memberi tambahan dalam kitab-kitab, salah satunya Limaza taakhkhara Islam wa taqaddama ghairuhum, karya Syakib Arsalan.
8)      Rasyid Ridha(1865-1935)
Rasyid Ridha belajar di sekolah pemerintah usmani dan sekolah Syeikh Husain Jisr, keduanya di Tripoli, Lebanon, disini untuk pertama kalinya dia berkenalan dengan Muhammad Abduh, dan kemudian, pada tahun 1897, ketika dia berkelana ke Mesir dia menjadi Teman dan Murid setia Abduh dan sekaligus penyebar gagasan-gagasannya.
Beliau banyak terpengaruh oleh majalah ‘al-‘Urwah al-Wutsqa’ dan artikel-artikel para ulama dan sastrawan. Terlebih, pengaruh gurunya, Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ia benar-benar terpengaruh sekali sehingga seakan gurunya lah yang telah menggerakkan akal dan pikirannya untuk membuang jauh-jauh seluruh bid’ah dan menggabungkan antara ilmu agama dan modern serta mengupayakan tegak kokohnya umat dalam upaya menggapai kemenangan.Dan yang lebih banyak mempengaruhinya lagi adalah beliau buku-buku karya Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Rasyid Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Pada tahun 1898 Ridha menerbitkan majalah  berkala Al-Manar, yang itu merupakan suara pembaharuan Islam terpenting di dunia Arab. Yang berisi tafsir Qur’an yang disebut tafsir al-Manar dan fatwa-fatwa yang dikemukakan oleh Ridha sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan.
9)      Sultan Mahmud II
Sultan Mahmud lahir pada tahun 1785 dan mempunyai didikan tradisional, antara lain pengetahuan agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra arab, turki dan Persia. Ia diangkat menjadi sultan  di tahun 1807 dan  meninggal pada tahun 1839.
Sultan Mahmud II dikenal sebagai Sultan yang tidak mau terikat tradisi dan tidak segan-segan melanggar adat kebiasaan lama. Sultan-sultan sebelumnya menganggap diri mereka tinggi dan tidak pantas bergaul dengan rakyat. Oleh karena itu mereka selalu mengasingkan diri dan menyerahkan soal mengurus rakyat pada bawahan-bawahan. Timbulah anggapan mereka bukan manusia biasa dan pembesar-pembesar Negara pun tidak berani duduk ketika menghadap sultan.
Sultan Mahmud II juga mengadakan perubahan dalam organisasi pemerintahan kerajaan Usmani. Menurut tradisi kerajaan usmani dikepalai oleh Sultan yang mempunyai kekuasaan temporal atau duniawi (diberi gelar sultan) dan kekuasan spiritual atau rohani (diberi gelar khalifah).
Sultan Mahmud II lah yang pertama kali di kerajaan usmani yang dengan tegas mengadakan perbedaan antara urusan agama (diatur syari’at)  dan urusan dunia (diatur hukum bukan syari’at /sekuler).
Selain itu ia juga mengadakan perubahan dalam kurikulummadrasah dengan menambahkan pengetahuan-pengetahuan umum ke dalamnya, sebagai halnya dunia Islam lain pada waktu itu, memang sulit. Madrasah tradisional tetap berjalan tetapi disampingnya sultan juga mendirikan dua sekolah pengetahuan umum (mekteb-I ma’arif), dan sekolah sastra (mekteb  ulum-u adebiye). Siwa untuk kedua sekolah itu dipilih dari lulusan madrasah yang bermutu tinggi.
Tidak lama setelah itu Sultan Mahmud mendirikan sekolah militer, sekolah teknik, sekolah kedokteran dan sekolah pembedahan. Di tahun 1838 sekolah kedokteran dan sekolah pembedahan digabung menjadi satu dengan nama Dar-ul Ulum-u Hikemiye ve mekteb-I tibbiye-I sahane.
Tidak hanya mendirikan sekolah, Sultan Mahmud juga mengirim siswa-siswa ke Eropa yang setelah kembali ke tanah air juga mempunyai pengaruh dalam penyebaran ide-ide baru di kerajaan Usmani.kemudian pada tahun 1831 Sultan Mahmud II mengeluarkan surat kabar resmi takvim-I vekani.
10)   Usmani Muda
Golongan intelegensia kerajaan usmani yang banyak menentang kekuasaan absolute Sultan dikenal dengan nama Usmani Muda (Yeni Usmanlilar-young Ottoman). Usmani Muda pada asalnya merupakan perkumpulan rahasia yang didirikan di tahun 1865 dengan tujuan untuk merubah pemerintahan absolut kerajaanUsmani menajdi pemerintahan konstitusional. Setelah rahasia terbongkar para pemukanya melarikan diri ke Eropa dan disanalah mereka memperoleh nama Usmani Muda. Sebagian dari mereka kembali ke Istambul setelah Ali Pasya tiada lagi.
Dalam pandangan Usmani Muda agar dapat digolongkan dalam kumpulan Negara-negara yang . menurut mereka Negara Eropa maju karena mereka memakai sistem pemerintahan konstitusional. Karena kerajaan Usmani masuk dalam keluarga Eropa, tdk pantas kalau kerajaan Usmani masih memakai system pemerintahan absolut.
Dalam system pemerintahan konstitusional harus ada dewan perwakilan rakyat dan adanya dewan serupa ini oleh pihak istana takut akan menghancurkan kekuasaan Sultan. Dia menganjukan hadits-hadits “perbedaan pendapat di kalangan umat-Ku merupakan rahmat dari Tuhan,”asebagai alas an untuk perlu adanya dewan perwakilan rakyat, dimana perbedaan pendapat itu ditampung dan kritik terhadap pemerintah dimajukan untuk kepentingan bersama.
Adapun yang dikehendakinya adalah sebuah pemerintahan demokrasi dan pemerintahan serupa tidak bertentangan dengan ajaran agama islam. Negara islam yang dipimpin oleh empat khalifah sebenarnhya bercorak demokrasi.
Pembaharuan lain adalah dalam bidang pendidikan, ia mendirikan perguruan tinggi, sekolah tinggi hukum, sekolah tinggi keuangan dan lain-lain hingga mendirikan universitas Istambul.      
11)   Turki  Muda
Sultan Abdul Hamid setelah dibubarkannya parlemen dan hancurnya gerakan Usmani Muda terus memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam menentang lawan, ia memakai kekerasan, sehingga ada pengarang-pengarang yang member sifat Tirani kepadanya.
Dalam suasana demikian timbullah gerakan-gerakan Opposisi terhadap pemerintahan absolut Sultan Abdul Hamid, opposisi dari berbagai kelompok inilah yang disebut dengan nama Turki Muda.
Ide perjuangan Turki Muda antara lain yaitu dimajukan oleh tiga pemimpin, Ahmed Riza (1859-1931), Mehmed Murad (1853-1912), dan Pangeran Sabahuddin (1877-1948). Ahmed Riza adalah anak seorang bekas anggota parlemen pertama yang bernama Injiliz Ali. Ia pernah berkunjung kedesa dan ia mersa iba terhadap kemelaratan para petani. Kemudian dia bertekad akan melanjutkan studinya di sekolah pertanian untuk kelak dapat bekerja dan berusaha merubah nasib kaum petani tersebut.
Pangeran Sabahuddin dari pihak bapak adalah salah seorang cucu dari Sultan Mahmud II dan pihak ibu adalah keponakan Sultan Abdul Hamid. Sabahuddin lari bersama kedua orang tuanya ke Eropa karena ingin menjauhkan diri dari Abdul Hamid. Di Paris Sabahuddin dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dalam bidang sosiologi dan problema yang dihadapi oleh kerajaan Usmani ia tinjau dari sudut sosiologi.
Pemikir ketiga, Mehmed Murad, berasal dari Kaukasus dan lari ke istambul di tahun1873. Ia belajar di Rusia, disana lah ia bertemu dengan ide-ide barat tapi ajaran islam masih melekat dalam perkembangan pemikirannya. Ia mencoba member nasehat kepada sultan agar melakukan perubahan-perubahan dalam system pemerintahan, tapi ditolak dan akhirnya ia juga terpaksa lari ke Eropa.
Meskipun ada perbedaan pandangan dan politik antara 3 pemuka tersebut, mereka sepakat untuk menggulingkan Sultan Abdul Hamid. Keputusan ini diambil setelah diadakan dua kali konferensi di Eropa yang terakhir pada tahun1907 di Paris.
Pemilihan Umum diadakan dan terbentuklah parlemen baru. Sebagai ketuanya dipilihlah Ahmed Riza dari perkumpulan persatuan dan kemajuan. Turki Muda berhasil mengadakan pemberontakanterhadap kekuasaan absolut Abdul Hamid.
Dalam parlemen terdapat dua fraksi, yang pertama fraksi liberal yang menghendaki desentralisasi dan pemerintahan otonomi bagi daerah-daerah. Yang kedua ingin mempertahankan sentralisasi dengan unsure Turki sebagai pemegang kekuasaan pusat.ini dipengaruhi oleh ide Nasionalisme.
Namun demikian perintahan ini tidak berlangsung lamaa.
12)  Mustafa Kemal
Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini, yang pada waktu itu merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan.
Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Meskipun demikian, Mustafa Kemal bukanlah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide tersebut di Turki. Gagasan sekularisme Mustafa Kemal banyak mendapat inspirasi dari pemikiran Ziya Gokalp, seorang sosiolog Turki yang diakui sebagai Bapak Nasionalisme Turki. Pemikiran Ziya Gokalp adalah sintesa antara tiga unsur yang membentuk karakter bangsa Turki, yaitu ke-Turki-an, Islam dan Modernisasi.
Pada tanggal 1 November 1922 Dewan Agung Nasional pimpinan Mustafa Kemal menghapuskan kekhalifahan. Selanjutnya pada tanggal 13 Oktober 1923 memindahkan pusat pemerintahan dari Istanbul ke Ankara. Akhirnya Dewan Nasional Agung pada tanggal 29 Oktober 1923 memproklamasikan terbentuknya negara Republik Turki dan mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Republik Turki.
Suatu komite dibentuk di Fakultas Teologi di Universitas Istanbul untuk memodernisasikan Islam. Komite ini menyebarkan keinginan Mustafa kemal untuk mengganti bentuk dan suasana mesjid seperti bentuk dan suasana gereja di negara-negara Barat, dengan menekankan pada: pentingnya mesjid yang bersih, dengan bangku-bangku dan ruang tempat menyimpan mantel; mewajibkan jamaah masuk dengan sepatu yang bersih; menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Turki; menyediakan alat-alat musik ditempat shalat untuk memperindah bentuk shalat, dan mengubah teks-teks khutbah yang telah ada dengan khutbah yang berisi pemikiran agama berdasarkan filsafat Barat. Pada tahun 1932 pemerintah mengeluarkan kebijakan mengganti pengucapan azan ke dalam bahasa Turki, yang amat ditentang oleh mayoritas masyarakat Muslim Turki.
Reformasi agama, yang bentuknya upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam ini merupakan bentuk campur tangan pemerintah Kemalis dalam kehidupan beragama di masyarakat Turki. Sekularisme yang sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan, di mana negara menjamin kebebasan beribadah, bagi warga negara, pada pelaksanaannya dijalankan dengan semangat nasionalisme yang radikal dan dipaksakan oleh Kemalis. Namun penerapan nasionalisasi agama ini hanya bertahan hingga akhir pemerintahan Kemalis (Partai Rakyat Republik). Sejak tahun 1950, azan kembali diucapkan dalam bahasa Arab. Mesjid-mesjid di Turki pun hingga saat ini tetap menunjukkan bentuk-bentuk yang umum sebagaimana mesjid di negara-negara lainnya.
Selain reformasi agama, reformasi yang paling penting dari rezim Kemalis adalah reformasi bahasa. Tulisan Arab diganti dengan tulisan Latin, berdasarkan undang-undang yang diputuskan oleh Dewan Nasional Agung pada 3 Novemeber 1928. Tujuan reformasi bahasa adalah membebaskan bahasa Turki dari ‘belenggu’ bahasa asing. Penekanannya adalah pemurnian bahasa Turki dari bahasa Arab dan Persi. Mustafa Kemal mengadakan kunjungan di banyak tempat untuk mengajar secara langsung tulisan baru pada rakyat Turki. Reformasi bahasa ini memberi sumbangan yang berharga bagi perkembangan linguistik bahasa Turki saat ini.
13)  Gerakan Mujahidin
 Seorang Mujahid (Arab: مجاهد, muǧāhid, secara harfiah adalah “pejuang keadilan” atau "pejuang-kemerdekaan") adalah seseorang yang berjuang untuk kebebasan. [1] jamak adalah mujahidin [2] (Arab: مجاهدين , muǧāhidīn). Kata ini dari bahasa Arab yang sama triliteral sebagai jihad atau "perjuangan". Mujahidin juga dialihaksarakan menjadi mujahidin, mujahedeen, mujahidin, mujahidin, Mudžahedin-Mudžahid (Bosnia), mujaheddīn dan varian.
Kata-kata Arab biasanya memiliki triliterals, atau tiga-konsonan akar. Akar mujahidin adalah JHD (ج - ه - د), yang berarti "usaha atau pengorbanan" (Jihad dapat berarti perjuangan dan "Mujahid" dapat berarti pejuang.) Namun demikian, kata kerja tertentu dari JHD berarti "mengerahkan usaha untuk melawan" atau "perjuangan". Oleh karena itu, seorang Mujahid disebut sebagai"seseorang yang berjuang". Istilah tersebut, bahkan dalam bahasa Arab, bisa dikenakan khususnya pada militer (tentara).
Dalam bahasa Inggris, kata Mujahidin tercatat sejak tahun 1958, dari Pakistan, diadopsi dari bahasa Persia dan Arab, sebagai jamak dari mujahid "orang yang berjuang dalam jihad", dalam penggunaan modern, untuk "gerilyawan Muslim."
Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, istilah "mujahidin" menjadi nama berbagai pejuang bersenjata yang menganut ideologi Islam dan mengidentifikasi diri mereka sebagai mujahidin.
14)  Sayyid Ahmad Khan
Sayyid Ahmad Khan lahir di Delhi pada tanggal 17 oktober 1817 dan dibesarkan dalam lingkungan keagamaan. Ia dididik secara klasik dan tradisional, ia mempelajari bahasa Arab dan Parsi, dan meninggalkannya setelah ia paham kedua bahasa tersebut.
Sayyid Ahmad Khan adalah sedorang tokoh perintis serta pendukung gerakan modern. Beberapa tafsiran pologitiknya dapat disimpulkan sebagai berikut:
Ø   Poligami bertentangan dengan semangat islam dan hal ini tidak akan diizinkan kecuali dalam keadaan yang memaksa.
Ø   Islam dengan tegas melarang perbudakan, termasuk perbudakan dari tawanan perang yang meskipun diperkenankan oleh syari’ah.
Ø   Bank modern, transaksi perdagangan, pinjaman serta perdagangan internasional yang meliputi ekonomi modern, meskipun semua itu mencakup pembayaran bunga, tidaklah benar kalau dianggap riba karena hal itu tidak bertentangan dengan hokum Al-Qur’an.
Ø   Hukum potongan tangan yang didasarkan pada Qur’an dan Sunnah bagi pencuri, lemparan batu serta cambukan seratus kali bagi perzinahan, adalah biadab dan hanya sesuai untuk masyarakat primitive yang kekurangan tempat penjara.
Ø  Jihad itu dilarang kecuali dalam keadaan memaksa untuk mempertahankan diri.
Menurut Ahmad Khan, ajaran Qur’an dan Sunnah itu hanya terbatas khusus pada masalah-masalah ibadah saja. Ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan masalah social, ekonomi serta budaya hanyalah tergambar dalam masyarakat primitive dimana nabi hidup yang semua itu sudah tidak sesuai lagi denagn zaman modern. Itulah sebabnya, jika kaum muslimin tidak diwajibkan mengikuti islam sebagai jalan yang sempurna, maka tidak ada satupun jalan lain kecuali menerima kebudayaan barat.
15)  Sayyid Ameer Ali
Dilahirkan dalam suatu keluarga syiah pada tahun 1849, Ameer Ali memperoleh pendidikannya di Universitas Aligarh dan menjadi pengikut setia Sayyid Ahmad Khan. Sejak usia mudanya ia memiliki sikap bebas dari semangat kebudayaan Inggris.
Karya Ameer Ali yang paling terkenal di Inggriss yaitu Spirit Of Islam yang demikian luasnya buku tersebut dibaca orang, tidak salah lagi kalau kemudian mempunyai pengaruh yang luas dalam bahsa inggris klasik. Karenanya, kebanyakan orang inggris mengakui sumber dari Amerika serta Eropa yang diperoleh dari buku ini jelas memutar balikkan konsepsi Islam. 
Dalam buku tersebut menyebutkan apologi terhadap kehidupan Nabi Muhammad SAW, hal ini untuk menujukkan pada dunia barat bahwa sifat-sifat nabi Muhammad itu tidak lain adalah lemah lembut, satria, pemaaf, serta belas kasihan, dan juga ia berusaha menjelaskan lebih jauh tentang jihad yang dilakukan Nabi dalam menentang musuh-musuhnya.
Ia juga mengatakan dalam bukunya bahwa Al-Qur’an bukan lah wahyu Tuhan yang Pasti (tidak bisa Salah), tetapi itu hanyalah hasil renungan manusia yang sangat mendalam. Ameer Ali juga tidak dapat menerima kebenaran literal tentang hari akhir kecuali hanyalah sekedar bermanfaat sebagai alat memperbaiki massa.  
Menurut ameer Ali, jiwa islam yang sebenarnya adalah kaum Mu’tazilah yang menyimpang itu yang para pengikutnya seperti al-Kindi, Al-farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd berusaha memasukkan filsafat kafir yunani kedalam tubuh islam. Ameer ali memuji para filosofi Mu’tazilah sebagai pelopor kalau tidak menjadi sumber kehidupan yang sangat penting bagi kebudayaan barat modern. Karena itu ia menyalahkan para mujaddid yang berhasil dalam menolak pembaharuan asing serta tetap mempertahankan islam murni, untuk mewariskan pada dunia muslim.
16)  Muhaamad Iqbal
Berbeda dengan pembaharu-pembaharu islam lain. Muhammad Iqbal adalah seorang penyair dan filosof, tetapi pemikirannya mengenai kemunduran dan kemajuan umat islam mempunyai pengaruh pada gerakan dalam islam.
Sama dengan pemabaru lain ia berpendapat bahwa kemunduran umat islam selama lima ratus tahun terakhir disebabkan oleh kebekyuan dalam berfikir. Hokum dalam islam telah sampai kepada keadaan statis. Kaum konservatif berpendapat dalam islam bahwa rasionalisme yang ditimbulkan golongan Mu’tazilah akan membawa kepada disintegrasi dan dengan demikian berbahaya bagi kestabilan islam sebagai kesatuan politik.
Dalam pembaharuan islam di india ialah yang menimbulkan paham dinamisme dikalangan umat islam menunjukkan bagi umat islam minoritas di anak bahwa itu, mereka dapat hidup besar dan bebas daari tekanan-tekanan dari luar.
17)  Muhammad Ali Jinnah
Pada tahun 1913 itu juga Jinnah dipilih menjadi presiden liga Muslimin. Pada waktu itu masih mempunyai keyakinan bahwa kepentingan umat islam india dapaat menjamin melalui ketentuan-ketentuan tertentu dalam undang-undang dasar. Untuk itu ia  mengadakan pembicaraan dan perundingan dengan pihak kongres nasional india. Salah satu hasil dari perundngan ialah perjanjian lucknow 1916. Menurut perjanjian itu umat islam india akna memperoleh daerah pemilihan terpisah dan ketentuan ini akan dicantumkan dalam undang-undang dasar india yang akaan disusun.
18)  Abdul kalam Azad
Lahir pada tahun 1888. Pemikiran-pemikiran pembaharuannya kelihatannya bersifat modern. Tujuannya seperti tersebut dalam Al-Hilal ialah melepaskan diri umat islam dari pemikiran-pemikiran abad pertengahan dan taklid. Ia menganjurkan kembali kepada al-Qur’an dan untuk keperluan ini ia terjemahkn al-Qur’an kedalam bahasa Urdu dengan diberi kefasihan. Al-Qur’an harus dipahami oleh umat islam agar terlepas dari pengaruh pemikiran ahli hokum, sufi, teologi, filosof, dan sebagainya.
Perkembangan selanjutnya dari pembaharuan dan politik di india sebagai mana diketahui, tidak membawa kepada apa yang dicita-citakan, Abdul Kalam Azad yang tercapai bukanlah kemerdekaan india yang utuh tetapi pecahnya india menjadi dua Negara, Negara umat islam dan Negara umat hindu yang tercapai bukanlah kemerdekaan india yang utuh tetapi pecahnya india menjadi dua Negara , yang tercapai ialah apa yang dijuangkan oleh umat islam non-nasionalisme india