Sabtu, 08 Januari 2011

dakwah islam


1.      APA ITU DAKWAH
Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala sesuai dengan garis aqidah, syari’at, dan akhlak Islam.Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.
Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata “Ilmu” dan kata “Islam”, sehingga menjadi “Ilmu dakwah” dan Ilmu Islam” atau ad-dakwah al-Islamiyah. Orang yang menyampaikan dakwah disebut “Da’i”. Sedangkan yang menjadi objek dakwah disebut “Mad’u”. Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah “Da’i”.
Dalam pengertian yang lebih khusus dakwah berarti mengajak baik pada diri sendiri atau pun pada orang lain untuk berbuat baik sesuai dengan mengajak ketentuan-ketentuan yang telaah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan yang dilarang-Nya. Jadi dakwah identik dengan amar ma’ruf nahi munkar.
Pada dasarnya dakwah berarti ajakan walau demikian al-Qur’an mengungkapkan pula dalam istilah-istilah lain yang hakikatnya sama yaitu:
§  Tabligh (menyampaikan)
§  Mauidhoh (member pelajaran)
§  Tazkirah (peringatan)
§  Tabsyir dan Tandzir (kabar kegembiraan dan ancaman)
§  Washou (member wasiat)
§  Amar Ma’ruf dan Nahi munkar
a.       Metode dakwah
v  Dakwah Fardiah
Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh.
v   Dakwah Ammah
Dakwah Ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato). Dakwah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.
v  Dakwah bil-Lisan
Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah). Dakwah jenis ini akan menjadi efektif bila disampaikan berkaitan dengan hari ibadah, seperti khutbah Jum’at atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.
v  Dakwah bil-Haal
Dakwah bil al-Hal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Pada saat pertama kali Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan Dakwah bil-Haal ini dengan mendirikan Masjid Quba dan mempersatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.
v  Dakwah bit-Tadwin
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang da’i, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.
v  Dakwah bil Hikmah
Dakwah bil Hikmah Yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif atau bijak, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.
b.      Aplikasi metode dakwah Rasulullah
Metode dakwah Rasulullah senantiasa berlandaskan pada nilai-nilai Al-Quran. Al-Quran mengajarkan metode dakwah yang sangat bijaksana dan mengena. Kebijaksanaan ini semakin memperjelas kebenaran dan kemuliaan Islam sebagai agama paling akhir yang diakui oleh Allah SWT.
Metode dakwah Rasulullah mengacu pada anjuran Allah mengenai cara berdakwah yang tercantum dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 125. Ayat ini mencakup beberapa metode dakwah sebagai berikut;
o   Disampaikan dengan cara yang hikmah dan pengajaran yang baik
Cara hikmah yang dimaksud di sini adalah perkataan yang tegas dan benar yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Dakwah harus disampaikan dengan cara yang hikmah, hingga tidak menimbulkan hal samar-samar yang membingungkan. Pengajaran yang baik di dalam metode dakwah Rasulullah juga dimaknai sebagai dakwah yang baik disampaikan dengan cara yang lemah lembut.
Rasulullah telah mengajarkan kelemah lembutan  yang beliau tunjukkan tak hanya kepada para sahabat dan orang-orang muslim. Namun juga tetap lemah lembut pada musuh yang akan membunuh beliau. Inilah ketinggian akhlak berdakwah Rasulullah yang mengacu pada anjuran hikmah dalam Al-Quran.
o   Mendebat dengan cara yang baik.
Metode dakwah Rasulullah senantiasa menghindari cara berdebat yang hanya akan melemahkan seorang dai. Rasulullah senantiasa menghindari perdebatan yang diajak oleh kaum kafir Quraisy. Dan jikalau pun beliau terjebak ke dalam sebuah perdebatan, Rasulullah akan mendebat dengan cara yang sangat baik dan bijak. Hal ini beliau contohkan ketika suatu saat beliau ditemui oleh seorang utusan kaum kafir Quraisy. Utusan tersebut merayu dan membujuk Rasulullah untuk meninggalkan dakwah yang diperintahkan Allah. Sebagai gantinya kaum kafir Quraisy akan memberikan apa saja yang dikehendaki Rasulullah seperti harta, wanita dan jabatan.
Dalam kondisi perdebatan yang sangat penting tersebut (menyangkut akidah) Rasulullah mencontohkan sikap yang tenang dan cerdas. Beliau mempersilahkan utusan tersebut selesai bicara, beliau menanyakan kepada utusan tersebut, “Sudah selesai Anda berbicara?”. Inilah bentuk keteladanan Rasulullah yang diajarkan pada ummat manusia dalam menyebarkan dan menyampaikan ajaran dakwah. Bahkan dalam kondisi perdebatan yang sudah mencapai klimaks nilai-nilai dakwah sekalipun Rasulullah tetap mengajarkan kepada manusia cara berdebat dan berargumen yang baik dan bijak.
o   Membalas kejahatan dengan kebaikan.
Metode dakwah Rasulullah lainnya yang diajarkan kepada ummatnya adalah membalas sikap jahat yang dilakukan objek dakwah dengan akhlak mulia yang mengetuk hati objek dakwah, untuk selanjutnya mengantarkannya kepada keimanan. Suatu ketika Rasulullah sering dicaci oleh seorang pengemis buta. Rasulullah senantiasa bersabar menyuapi dan memberi makan si pengemis, sementara dirinya selalu dihujat. Setelah Rasulullah wafat barulah si pengemis tersebut tau bahwa yang menyuapi dan memberinya makan selama ini adalah Rasulullah. Lantas si pengemis pun masuk Islam.
c.       Al-Qur’an sebagai pedoman dakwah
Para dai muslimin melaksanakan dakwah Islamiyahnya ke Mesir, Persia, dan Irak pada masa sahabat, dengan membawa Al-Qur’an. Mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat. Kemudian, mereka menyuruh masyarakat tersebut menghapalkan ayat-ayat yang paling mudah dihapal.
Sedang diluar negeri Arab, mereka mengajarkan hokum-hukum dan ayat-ayatnya. Pertama-tama untuk mengembangkan Islam kemudian untuk mengembangkan bahasa arab. Adapun mengenai seruan agama, terkadang diwajibkan atas setiap muslim untuk menghapalkan bagian tertentu dari ayat Al-Qur’an untuk kepentingan melaksanakan sholat karena sholat merupakan tiang agama.
Pada dasarnya Al-Qur’an itu sendiri merupakan dakwah yang terkuat bagi pengembangan Islam karena Al-Qur’an mencakup cerita orang-orang terdahulu dan syariat-syariatnya serta hukum-hukumnya. Al-Qur’an juga mencakup antropologi dan membicarakan tentang seruan untuk mengkaji alam semesta. Sebagian lagi, Al-Qur’an membicarakan keimanan. Oleh karena itu, Al-Qur’an telah cukup untuk dakwah asalkan pandai menjelaskannya.
Sesungguhnya, bacaan Al-Qur’an yang dilakukan para sahabat pada negeri yang merek masuki dapaat menyentuh kalbu pihak penduduk karena keindahan fasil dan keindahan dengungan bahasa Arab, serta kemerduan bacaannya. Maka dari itu, Al-Qur’an sendiri bisa menjadi dai bagi Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar