2. SEJARAH LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT ISLAM
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab (فلسفة), yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan".
Pemikiran filosof masuk kedalam dunia Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli pikir islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Budaya dan filsafat Yunani masuk kenegeri-negeri tersebut dengan adanya ekspansi Alexander agung yang dlallm bahsa arab dikenal Iskandar Zulkarnaen. Ekspansi tersebut terjadi pada abad ke empat Masehi.
Pada abad ke 12 orang-orang barat belum mengenal filsafat Aristoteles secara keseluruhan. Filsafat Islam lah yang membawakan perkembangan filsafat dibarat. Orang-orang barat itu mengenal Aristoteles adalah berkat tulisan dari para ahli pikir Islam terutama dari ibnu Rusyd.
Adapun yang dimaksud dengan ahli pikir Islam (periode Sclholastik Islam) yaitu Al-Kindi, Al-farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd dan lainnya.
a. Al-Kindi (796-873 M)
Menurut Al-Kindi bahwa antara filsafat dan agama tidak ada pertentangan. Agama dan filsafat masing-masing mencari kebenaran. Disitulah letak persamaan antara agama dan filsafat. Tujuan agama menerangkan apa yang benar dan apa yang baik. Filsafat itu pula tujuannya. Agama disamping wahyu juga menggunakan akal. Ilmu Tauhid dan Teologi adalah cabang termulia dalam filsafat. Filsafat membahas kebenaran atau hakikat. Kalau ada hakikat-hakikat mesti ada hakikat pertama(al-haqq al-awwal). Hakikat pertama itu adalah Tuhan. Al-Kindi juga berbicara tentang jiwa(nafs, soul) dan akal. Jika manusia mempunyai tiga daya, daya nafsu yang bernafsu yang berpusat diperut, daya berani yang berpusat di dada dan berfikir yang berpusat di kepala. Daya fikir inilah yang disebut akal. Dalam pemikiran filosofisnya Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, plato dan neo-Plationisme. Ia merupakan orang pertama pengikut Aristoteles dari dunia arab.
b. Al-Farabi (870-956 M)
Filsafat Al-Farabi yang terkenal adalah filsafat emanasi. Dalam filsafat emanasi ini ia menerangkan bahwa segala yang memancar dari Zat Tuhan melalui akal-akal yang berjumlah sepuluh. Alam materi dikontrol oleh akal yang sepuluh itu. Yang pertama adalah Tuhan sebagai akal yang murni, berfikir tentang dirinya sendiri maka melimpahlah dan lahirlah wujud kedua disebut akal pertama. Wujud kedua atau akal pertama ini berfikir tentang wujud pertama(Tuhan), maka timbullah wujud ketiga atau disebut akal kedua, dan berfikir tentang dirinya,timbullah Al-Falakul Aqso (langit paling luar). Akal kedua berfikir tentang Tuhan, timbullah wujud keempat Kurratul Kawakibits-tsabitah(bintang tetap).
Akal ketiga berfikir tentang Tuhan, timbullah wujud kelima atau akal keempat, dan berfikir tentang dirinya, maka timbullah wujud Kurratuz-zahl(saturnus). Akal keempat berfikir Tuhan, timbullah wujud keenam atau akal kelima dan berfikir tentang dirinya timbullah Kurratul Musytari(yupiter). Akal kelima berfikir tentang Tuhan, timbullah wujud ketujuh atau akal keenam, dan berfikir tentang dirinya, maka timbullah wujud kedelapan atau akal ketujuh, dan berfikir tentang dirinya, maka tmbullah pula Kurratusy-syamsi (Matahari).
Akal ketujuh berfikir tentang Tuhan, lahirlah wujud kesembilan atau akal kedelapan, dan berfikir tentang dirinya, maka timbullah pula Kurratuz-zuh, (roh). Akal kedelapan berfikir tentang dirinya sendiri, maka timbullah Kurratul Atorid(mercury). Akal kesembilan tentang Tuhan, lahirlah wujud kesebelas atau akal kesepuluh, dan berfikir tentang dirinya, maka timbullah Kurratul Qamar (bulan). Dari akal kesepuluh ini berhentilah timbulnya akal-akal. Tetapi dari akal kesepuluh ini muncullah bumi, ruh-ruh, dan materi pertama.
Ia juga membahas soal jiwa dan akal manusia. Akal menurut pemikirannya mempunyai tiga tingkat, Al-Hayulani (materi), Bi Al-Fi’l (aktuil) dan Al- Mustafad (adeptus, aquered). Akal pada tingkat ini yang dapat menerima pancaran yang dikirimkan Tuhan melalui akal-akal tersebut.
c. Ibnu Sina (980-1037 M)
Menurut Ibnu Sina, Falak (Langit)akkan falak itu d itu punya jiwa (nafs) dan jiwa itulah yang menggerakkan falak secara langsung, sedangkan al-aql menggerakkan falak dari jauh.
Al-aql itu sendiri tetap (permanen), sebab dia terasing (Mufariq) dari benda falak. Sebaliknya jika (Nafs) berhubungan langsung dengan benda falak. Selanjutnya, menurut Ibnu Sina, pada Al- Aql itu ada suatu hal yang dinamakan Al-Khair (kebaikan),dan Al-Khaiiiir inilah yang menjadi tujuan falak untuk mencapai kesempurnaan dirinya.
Untuk mencapai kesempurnaan itu falak lau berputar mengelilingi Al-Aqlul-Mufariq-nya. Akan tetapi, maksudnya itu tidak akan bisa dicapainya, sebab tiap-tiap dia mencapai satu tingkatan kesempurnaan dalam lingkungan akalnya, dan mempunyai hajat baru kearah akal yang lebih tinggi lagi kesempurnaannya.
d. Al-Ghazali (1058-1111 M)
Setelah mempelajari beberapa filsafat bak dari filsafat Yunani maupun filosof Islam, al-Ghazali mnedapat argument-argumen yang mereka ajukan ternyata tidak kuat bahkan banyak bertentangan dengan ajaran islam. Al-Ghazali ini terkenal dengan sebutan HUjjatul Islam.
Sebab itu al-Ghazali menyerang argument para filosof Yunani dan filsafat Islam dalam beberapa persoalan. Diantaranya Al-Ghazali menyerang dalil Aristoteles tentang azalinya alam, pendapat para filosof yang mengatakan bahwa Tuahan tidak mengetahui perincian pada alam, hanya mengetahui soal-soal yang besar saja, dan menentang argument para filosof yang mengatakan kepastianhukum sebab-akibat semata-mata, mustahil adanya penyelewengan dari hukum itu.
Terhadap persoalan azalinya alam yang dilontarkan oleh para filosof, Al-Ghazali dengan tegas mengutarakan bahwa alam bersal dari tidak ada menjadi ada (creatie Ex Ni Hilo) sebab diciptakan oleh tuhan. Dan kalau dikatakan bahwa alam tidak bermula, itu namanya bukan ciptaan Tuhan, sedangkan Al-Qur’an menyebutkan bahwa Tuhan pencipta segala-galanya.
Mengenai pendpat Filosof yang mengatakan kepastian hokum sebab-akibat, Al-ghazali membantahnya. Menurut Al-Ghazali bahwa segala kejadian hanyalah muerupakan kebiasaan atau adat semata-mata dan bukan merupakan kepastian. Semua argument Al-ghazali dalam meluruskan pemikiran para filosof terdapat dlam bukunya yang berjudul Tafatul Falasifah.
e. Ibnu Bajjah
Dalam bukunya yang terkenal tadbir al-mutawahhid, ibn bajjah mengemukakan teori al-ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan akal fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuatan insaniah.
Berkaitan dengan teori al-ittishal tersebut, ibn bajjah juga mengajukan satu bentuk epistimologi yang berbeda dengan corak yang dikemukakan al-Ghozali di Dunia islam timur. di Dunia islam timur.kalau al-Ghozali berpendapat bahwa ilham adalah sumber pengetahuan yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka ibn bajjah mengkritik pendapat itu, dan menetapkan bahwa sesungguhnya perseorangan mampu sampai pada puncak pengetahuan dan dan melebur kedalam akal fa’al, bila ia bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Karena masyarakat bisa melumpuhkan daya kemampuan berpikir perseorangan dan menghalanginya untuk mencapai kesempurnaan, hal ini disebabkan masyarakat itu berlumuran dengan perbuata-perbuatan rendah dan keinginan hawa nafsu yang kuat.jadi, dengan kekuatan dirinya manusia bisa sampai kepada martabat yang tinggi, melalui pikiran dan perbuatan.
f. Ibnu Thufail
Ibnu Thufail yang lahir pada 1106 Masehi, di Asya, Granada (Spanyol) lebih dikenal sebagai ahli hukum, tabib, dan ahli politik yang handal. Ia juga melibatkan dirinya dalam bidang pendidikan, pengadilan, dan penulisan. Walaupun Ibnu Thufail dikatakan telah menulis banyak buku, tapi hanya satu kitab yang masih ada hingga kini.
Kitab “Hay ibn Yaqzan”, sebuah novel filsafat bergaya sastra yang mengkisahkan petualangan dan benturan intelektual yang terjadi dimasanya. Di dalamnya juga menunjukkan pemikiran filosofisnya secara umum, dengan gaya bahasa yang menarik dan imajinasi yang indah. Tak heran bila diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Yang menarik pada buku itu, Ibnu Thufail berusaha menerangkan bagaimana manusia mempunyai potensi untuk mengenal Allah. Menurutnya, semua orang bisa ma`rifatullah bila melakukan penelitian terhadap alam sekitar dan sekelilingnya. Karena dari aktivitasnya itu bila terus dipelajari, seseorang akan sampai pada hakikat dari alam semesta sekaligus mengenal siapa yang menciptakannya.
Ibnu Thufail juga mencoba menerangkan satu sistem filsafat berdasarkan perkembangan pemikiran yang ada pada diri manusia, yang mengungkap hubungan antara manusia, akal, dan Allah, melalui tokoh fiktif Hay ibn Yaqzan yang hidup di sebuah pulau di khatulistiwa yang memiliki empat unsur penting seperti panas, sejuk, kering, dan basah.
Tokoh Hay hidup terpencil dan bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya hanya dengan menggunakan akal dan pancaindera. Hay digambarkan sebagai sosok manusia alam yang tak pernah mengenali orangtuanya. Tetapi alam telah memberinya seekor kijang yang menyusu dan memberinya makan. Setelah dewasa, dia mengarahkan pandangannya terhadap perkara yang ada di sekelilingnya. Di sini, dia mulai memahami tentang kejadian, pengalaman, dan rahasia perubahan yang terjadi di sekelilingnya; sehingga ia tahu, bahwa di balik alam ini terdapat sebab-sebab yang tersembunyi yang menciptakan dan membentuk alam raya dan dirinya.
Hay bin Yaqzan selalu membahas dan menganalisa sesuatu perkara secara sendiri melalui akalnya, sehingga dia mampu mengetahui bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan manusia itu bergantung kepada hubungannya dengan sang pecipta. Ia kemudian dikenalkan dengan nama Allah, sebagai Yang Mahasegalanya, setelah bertemu dengan Asal, tokoh fiktif yang berperan sebagai pendakwah (da`i) yang membawa kebenaran agama. Dengan melalui lika-liku perdebatan yang kritis dan dialogis, Hay menerima pandangan-pandangan agama yang disampaikan Asal. Hay mengakui adanya kesamaan tentang Allah sebagai Tuhan yang menciptatakan alam semesta raya dengan “sang-realitas” yang berada dibalik alam raya yang diakuinya sebagai Tuhan.
Dengan karakter tokoh Hay itu, Ibnu Thufail berhasil membuat uraian yang menarik sekaligus membantu memahami pemikiran-pemikirannya. Dari buku itu, tampak bahwa Ibnu Thufail melihat alam ini sebagai baru yang diciptakan Allah sebagai Yang Mahatunggal dan berkuasa penuh atas ciptaannya.
g. Ibnu Rusyd
Secara principal, ia berpendapat bahwa ide ketuhanan mesti digambarkan dalam dua pola yang berbeda. Peertama, untuk umum. Kedua, untuk khusus. Yang pertama khitabi sedangkan yang kedua burhani (demonstrative). Memang bijaksana kalau kita berbicara kepada orang lain sesuai dengan kemampuan mereka.
Ia mengkritik aliran-aliran Kalamiah, baik itu Mu’tazilah maupun Asy’ariyah, Karena mereka mengacaukan pikiran dan menyuguhkan persoalan-persoalanitu kepada public awam. Ia tidak sungkan-sungkan mengkritik kaum Asy’ariyah, yang note bene adalah ahl al-sunnah wa al-jamaah. Itu merupakan keberanian yang punya bobot tersendiri dalam miliu yang dikenal konservatif dan tradisional, dan ia sendiri tidak terlepas dari fanatisme dan serangan sikap itu. Ia mencela al-Ghazali karena dalam thafut al-falasifah mengetengahkan persoalan-persoalan yang mestinya terbatas hanya untuk kalangan khusus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar