Sabtu, 08 Januari 2011

sejarah latar belakang munculnya pemikiran tasawuf


1.      SEJARAH LATAR BELAKAMG MUNCULNYA PEMIKIRAN TASAWUF
Pada masa Rasulullah dan masa sebelm datangnya islam, istilah “tasawuf’ ini belum ada. Istilah sufi sendiri baru pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang Zahid dari Syiria. Pada masanya didirikan takya (semacam padepokan sufi) yang pertama.
Selama masa Rasulullah dan kekhalifahan Abu Bakar ra sampai Ali bin Abi Thalib selau diadakan berbagai pertemuan yang menghasilkan sumpah atau janji setia dan praktek ibadah tasawuf.  Pada abad pertama Hijriyah, orang belum mengenal istilah tasawuf dan yang ada hanyalah  benih-benihnya. Pada zaman ini, benih-benih tasawuf banyak ditemui pada perilaku atau sifat Rasulullah dan para sahabat.
Dalam perjalanan sejarahnya, benih-benih tasawuf mulai mengkristal dan mulai terlihat pada seorang tabi’in bernama Hasn Al-Bishri yang benar-benar mempraktekkannya. Para ahli sejarah sepakat bahwa istilah tasawuf muncul pada abad kedua Hijriyah, yakni ketika orang-orang berusaha meluruskan jalan menuju Ilahi dan takut kepada-Nya.
a.       Hasan Basri
Abu Na’im Al-ashbahani nyimpulkan pandangan taswuf Hasan Basri sebagai berikut, “takut(Khauf) dan pengharapan(raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan; tidak pernah tidur senang karena selalu ingat Allah.” Syahrani pernah berkata, “Demikian takutnya, sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk ia(Hasan Basri).”
Lebih lanjut lagi, Hamka mengemukakan sbagian ajaran tasawuf Hasan Basri yaitu:
Ø  “Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik dari pada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut.”
Ø  “Dunia ini adalah seorang janda tua yang telah bungkukdan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.”
Ø  “Hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang senantiasa mengancamnya, dan juga takut akan kiamat yang hendak menagih janjinya.”
Ø  “Banyak duka cita didunia mempertegih semangat amal shaleh.”
Di antara ajaran tasawuf hasan Al-Basri  dan senantiasa menjadi buah bibir kaum sufi adalah:
Anak Adam!
Dirimu, diriku!
Dirimu hanya Satu,
Kalau ia binasa, binasalah engkau
Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu.
Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina.
Dan tiap-tiap bala bencana yang bukan neraka adalah mudah.”
b.      Rabi’ah al-‘Adawiyah
Sikap dan pandangan Rabi’ah al-Adawiyah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkankepanya. Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika bermunajat, Rabi’ah Al-Adawiyah menyatakan doanya, “Tuhan ku, akankah kau bakar kalbu yang mencintai-Muoleh api neraka?” Tiba-tiba terdengar suara, “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah berburuk sangka kepada Kami’.
Diantara syair cinta Rabi’ah yang paling masyhur adalah:
“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta,
Cinta karena diriku dan karena diri-Mu
Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu.
Cinta karena diri-Mu
Adalah keadaanku mengugkapkan tadir sehingga Engkau kulihat.
Baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
Bagi-Mu pujian untuk kesemuanya”.
Untuk memperjelas pengertian Al-Hubb yang diajukan Rabi’ah, yaitu Hub Al-Hawa dan Hub anta ahl lahu. Abu Thalib Al-Makiy memberikan penafsiran bahwa makna hub al-hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmatdan kebaikan yang diberikan Tuhan. Al-Hubb yang diajukan oleh rabi’ah tidak berubah-ubah. Hal ini karena rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri, tapi sesuatu yang ada dibalik nikmat tersebut. Sedangkan Al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong zat yang dicintai. Cinta kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang dijalankan oleh Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada zat yang dicintainya(Allah).
c.       Dzu al-Nun Al-Mishri
Al-Misri adalah pelopor paham Ma’rifat. Al-Misri berhasil memperkenalkan corak baru tentang Ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Pertama ia membedakan antara ma’rifat sufiah dengan ma’rifat aqliyah. Ma’rifat yang pertama menggunakan pendekatan qalb yang biasa digunakan para sufi, sedangkan ma’rifat yang kedua menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan para teolog.
Kedua menurut Al-Misri, ma’rifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiyah(penyaksian hati), sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak azalinya. Ketiga, teori-teori ma’rifat Al-Misri menyerupai gnosisme ala neo-platonik. Teori-teorinya itu kemudian dianggap sebagai jembatan menuju teori-teori wahdat asy-syuhud dan ittihad.
Berikut adalah salahsatu pandangannya tentang hakikat ma’rifat.
*      “Ma’rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari hatimu dengan cahaya ma’rifat yang murni seperti matahari tak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya. Salah seorang hamba mendekat kepada Allah sehingga ia merasa hilang dirinya, lebur dalam kekuasaan-nya, mereka merasa hamba, mereka bicara dengan ilmu yang telah diletakkan Allah pada lidah mereka, mereka melihat dengan penglihatan Allah, mereka berbuat dengan perbuatan Allah”.
Adapun cirri-ciri seorang arif, menurut Al-Misri, adalah sebagai berikut,
v  Cahaya ma’rifat tidak memadamkan cahaya kewara’annya.
v  Ia tidak berkeyakinan bahwa ilmu batin merusak hukum lahir.
v  Banyaknya nikmat Tuhan tidak mendorongnya menghancurkan tirai-tirai larangan Tuhan.
d.      Abu Yazid Al-Bustami
Tasawuf Abu Yazid yang terkenal adalah ittihad. Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah melalui tahapan fana’ dan baqa’. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan dicintai menyatu, baik secara substansi, maupun perbuatannya. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad dapat terjadi pertukaran antara yang mencintai dan dicintai atau lbh tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam ittihad, “identitas telah hilang menjadi satu”. Sufi yang bersangkutan karena fana’nya tak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.
Dengan  fana’nya, Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi kehadirat Tuhan. Bahwa ia telah berada dekat pada Tuhan dapat dilihat dari syathahat yang diucapkannya. Syathahat adalah ucapan-ucapan yang dikeluarkan seorang sufi ketika ia mulai berada di pintu gerbang ittihad.
Suatu ketika seorang melewati rumah Abu yazid dan mengetuk pintu. Abu Yazid bertanya,” siapa yang engkau cari??” orang itu menjawab,”Abu Yazid.” Abu Yazid berkata,”pergilah, di rumah ini tidak ada, kecuali Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi.
Ucapan-ucapan Abu Yazid diatas kalau diperhatikan secara sepintas memberikan kesan bahwa ia syirik kepada Allah. Karena itu, didalam sejarah ada sufi yang ditangkap dan dipenjarakan karena ucapan membingungkan golongan awam.
e.       Abu Mansur Al-Hallaj
Diantara ajaran tasawuf Al-hallaj yang paling terkenal adalah Al-Hulul dan wahdat Asy-syuhud yang kemudian melahirkan paham wihdat al-wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan Ibn ‘Arabi. Al-hallaj memang pernah mengaku bersatu dengan Tuhan(hulul). Kata Al-hulul, berdasarkan berdasarkan pengertian bahasa, berarti menempati suatu tempat. Adapun menurut istilah ilmu tasawuf, Al-hulul berarti paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhb itu dilenyapkan.
Al-hallaj berpendapat bahwa dalam diri manusia sebenarnya terdapat sifat-sifat ketuhanan. Ia mewakilkan ayat al-Baqarah ayat 34 yang artinya:
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada malaaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,”maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takkabur dan ia termasuk orang-orang kafir”
Bahwa Allah member perintah kepada malaikat untuk sujjud kepada Adam. Karena yang berhak untuk diberi sujud hanya Allah, Al-Hallaj memahami bahwa dalam diri Adam sebenarnya ada unsure ketuhanan.
Agar dapat bersatu dengan Tuhan manusia harus menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya. Setelah sifat-sifat kemanusiaan tersebut hilang dan hanya tinggal sifat ketuhanan yang ada pada dirinya, disitulah Tuhan mengambil tempat dalam dirinya, dan ketika roh manusia bersatu dalam tubuh manusia.
Menurut Al-hallaj, pada hulul terkandung kefanaan total kehendak manusia dalam kehendak ilahi, sehingga setiap kehendaknya adalah kehendak Tuhan, demikian juga tindakannya.hulul yang terjadi pada Al-Hallaj tidaklah nyata karena pengertian secara jelas adanya perbedaan antara hamba dan Tuhan. Dengan demikian, hulul yang terjadi hanya sekedar kesadaran psikis yang berlangsung pada kondisi fana’, atau menurut ungkapnya sekadar terlebarnya nasut dalam lahut, atau dapat dikatakan antara keduanya tetap ada perbedaan, seperti syairnya:
Air tidak dapat menjadi anggur
Meskipun keduanya telah bercampur aduk.”
f.       Al-Ghazali
Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin ahlu sunnah wa al-jama’ah. Dari paham tasawufnya itu, ia menjauhkan semua kecendrungan gnostis yang mempengaruhi para filosof Islam, sekte Islamiliyah, aliran syiah, dan lain-lain. Ia menjauhkan tasawufnya dari paham Aristoteles, seperti emanasi dan penyatuan. Itulah sebabnya, dapat dikatakan bahwa tasawuf Al-Ghazali benar-benar bercorak islami.
Corak tasawufnya adalah psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral. Hal ini dapat dilihat dalam karya-karyanya, seperti Ihya’ Ulum Al-Din, Minhaj Al-Abidin, Mizan Al-Amal, Bidayah Al-Hidayah, Mi’raj Al-salikin, Ayyuhal Walad.
Menurut Al-Ghazali, jalan menuju tasawuf dapat dicapai dengan cara mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu lepas dari segala  sesuatu selain Allah dan selalu mengingat Allah. Ia berpendapat bahwa sosok sufi menempuh jalan kepada Allah, perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, jalan mereka adalah yang paling benar, dan moral mereka aadaalah yang paling bersih. Sebab, gerak,dan dia mereka , baik lahir maupun batin, diambil dari cahaya kenabian. Selain caahaya kenabian didunia ini tidak ada lagi cahaya yang lebih mampu member penerangan.
g.      Ibnu Arabi
Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah tentang wahdat Al-wujud(kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah wahdat al-wujud yang dipakaiuntuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari dari Ibnu Taimiyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut. Setidaknya, Ibnu Taimiyahlah yang berjasa dalam mempopulerkan wahdat al wujud ke tengah masyarakat islam, meskipun tujuannya negatif.      
Menurut Ibnu ‘Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik juga. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khalik dan makhluk) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan wujud khalik dan makhluk, hal itu dapat dilihat dari sudut pandang panca indera lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada zat-Nya dari kesatuan dzatiah, yang segala sesuatu berhimpun pada-Nya.
Menurut ibnu ‘Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah, dan Allah adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud qadim yang disebut dengan wujud yang baru yang disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara  abid(menyembah) dengan ma’bud(disembah). Antara yang  yang satu.
Selanjutnya ibnu ‘Arabi menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan alam. Menurutnya, ala mini adalah bayanganTuhan atau bayangan wujud yang hakiki. Alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya. Oleh karena itu, alam merupakan tempat tajali dan mazhar (penampakan) Tuhan.
Dari konsep wahdat Al-wujud Ibnu ‘Arabi ini, muncul dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep wahdat Al-wujud tersebut, yaitu konsep Al-hakikat Al-Muhammadiyah dan konsep wahdat Al-adyan(kesamaan agama).
Menurut Ibnu ‘Arabi Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan proses sbg brikut:
§  Tajalli Dzat Tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah.
§  Tanazul Dzat Tuhan dari  alam ma’anike alam ta’ayyunat(realitas-realitas rohaniah), yaitu alam arwah yang mujarrad.
§  Tanazul kepada realitas-realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berpikir.
§  Tanazul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu mitsal(ide)atau khayal.
§  Alam materi, yaitu alam inderawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar